BEDAH BUKU SENYUM NOLINA

BEDAH BUKU SENYUM NOLINA
NOVELET "PETUALANGAN KUBIL DAN KAWAN-KAWAN" karya Dedi Saeful Anwar ini sudah bisa dipesan. Harga Rp91.000 (belum ongkir).

Senin, 02 Maret 2015

PENGUMUMAN 300 NOMINATOR dan 200 PUISI YANG DIBUKUKAN HASIL SAYEMBARA CIPTA PUISI TINGKAT NASIONAL 2015 BERTEMA”AKU BANGGA JADI ORANG INDONESIA”


PENGUMUMAN 200 PUISI YANG DIBUKUKAN DARI SAYEMBARA CIPTA PUISI TINGKAT NASIONAL 2015 BERTEMA ”AKU BANGGA JADI ORANG INDONESIA”

Ke-200 naskah ini menyisihkan nominator lainnya dari total naskah 1718 puisi yang masuk ke meja dewan juri “Tim FAM Indonesia”. Berikut nama peserta dan asal kota beserta judul puisi terpilih (nama diurutkan berdasarkan abjad A-Z).
1. A. Rosidi, Sumenep (Hikayat Sebuah Negeri)
2. A. Warits Rovi, Sumenep (Di Tengah-Tengah Pengantin Sepasang Benua)
3. Abdul Aziz Pane, Yogyakarta (Negeri Kita, Negeri Muara Harapan)
4. Abdurrahman Ahmad, Karang Anyar (Bukan Longsor Abadi)
5. Acet Asrival, Padang (Negeri dalam Mata)
6. Adammif Assobirin, Jepara (Dimana Kita Bisa Sambil Melihat Lintang Kemukus)
7. Ade Syaputra, Medan (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
8. Ade Ubaidil, Cilegon (Kunang-Kunang P(e)ribumi)
9. Adi Prasatyo, Tangerang (Harapan)
10. Aditya Novitasari, Surabaya (Adalah Anak Indonesia)
11. Aditya Zulmi Rahmawan, Mojokerto (Indonesia Bagian dari Nyawaku)
12. Agung Setiawan, Banjarmasin (Dialektika Budi)
13. Agus Salim, Madura (Senandika Merah Putih 1)
14. Ahmad Ijazi, Pekanbaru (Pada Batas Tualang)
15. Ahmad Musabbih, Jakarta (Tembang Kampung)
16. Ajeng Mawaddah Puto, Gorontalo (Ini Budi)
17. Al-Fian Dippahatang, Makassar (Senandika)
18. Alfa Anisa, Blitar (Membaca Cuplikan De Javaan)
19. Ali Ridho, Surabaya (Negeri Indah dan Kaya)
20. Alias, Kendari (Mekar Menyatu)
21. Alvara Khyzu, Malaysia (Bukan dari Golongan Mereka)
22. Andi Jamaludin, Tanah Bumbu (Bah)
23. Angki Muttaqien, Yogyakarta (Kaya, Indonesia Raya)
24. Annisa Puspa Kirana, Bogor (Sungguh Aku Tak Malu Jadi Orang Indonesia)
25. Aqib Wisnu Priatmojo, Magelang (Soekarno 1930)
26. Arif Budiman, Sleman (Syalala Orkestra Indonesia)
27. Bahiyatul Musfaidah, Ciputat (Senja di Pantai Indonesia)
28. Beben T, Palembang (Asa dalam Bangsa)
29. Budi Setiawan, Temanggung (Seperti Adam yang Lahir di Negeri Ini, Indonesia)
30. Cempaka Lestari Arif, Depok (Negeri Ramu Jamu, Berbangga Karena Keindahan)
31. D.A Akhyar, Banyuasin (Semua Ada di Negeriku)
32. Dedi Saeful Anwar, Cianjur (Zikir Negeri Dua Per Tiga Air)
33. Deny Pangga, Lubuklinggau (Sejuta Hikayat)
34. Dewi Anggun Pratiwi, Cirebon (Kaum Macan Asia)
35. Doni Prasetyo, Semarang (Dibumbung ke Udara)
36. Drajat Adi Cahyono, Salatiga (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia)
37. Eni Puspita Sari, Palembang (Senandung Khatulistiwa)
38. Era Sofiyah, ? (Karena Namaku Bukan Malin Kundang, Mak)
39. Ervina Puspita Sari, Kebumen (Salmon)
40. Euis Sandri Meilawati, Bandung (Indonesia Surga Dunia)
41. Eva Nur Aprillail, Tangerang (Bangga Jadi Orang indonesia)
42. Eva Juli Kartina Panjaitan, Labuhan Batu (Tanah Pusaka)
43. Evelyn N, Surabaya (Jangan Terkoyak, Bangsaku)
44. Fabia Yolana Jeni, Lampung (Kaulah Negeri Atlantis)
45. Faidi Rizal Alief, Sumenep (Sebuah Negeri Bernama Indonesia Raya)
46. Fajrus Shiddiq, Malang (Wajah-Wajah Negeri di Pemukiman)
47. Fania Handiyani S, Surabaya (Aku Panggil Kau Negeri Surga, Indonesia)
48. Faradiba Desy Aulia, Semarang (Asam Manis Indonesia)
49. Farihatun Nafiah, Jombang (Seribu Warna pada Tanah Beta)
50. Faruk Abdurrahman, Jakarta (Indonesia Sampai Mati)
51. Fatah Abdul Wahab, Jakarta (Hanya di Indonesia)
52. Febry Salsinha, Yogyakarta (Rahim Pertiwi)
53. Fina Lanahdiana, Kendal (Melukis Perihal Ikhtisar)
54. Firda Rastia, Banten (Kelabu)
55. Fita Setiyawan, Mojokerto (Pada Negeri Sanskerta)
56. Fitri Wijaya, Padang (Sajak Seorang Petani)
57. Grace Sianturi, Jakarta (Si Gale-Gale)
58. Guy Le Fleur, Bengkalis (Rindu dalam Selimut Khatulistiwa)
59. Henydria Dwi Adiningtyas, Sidoarjo (Gadis Kecil Simpang Siur)
60. Herdian Armandhani, Denpasar (Negeri Warisan)
61. Herdiansyah Amran, Maroko (Kisah Negeri Bertuah di Negeri Senja)
62. Hermawan, Martapura (Apakah Ini Indonesia)
63. Heru Patria, Blitar (Lagu Kita Masih Sama)
64. Herwit Daya Tani, Jakarta (Wasiat Kepada Putri Seorang Pejuang)
65. Hilman Mulya Nugraha, Bandung (Tak Menyerah untuk Bangsa)
66. Hisam Rosidin, Surakarta (Pengabdian Diri)
67. Hotmazmuloh, Sibolga (Segumpal Tanah Surga)
68. Husna Qurrota Ayunina, Surakarta (Merdeka)
69. Ibe S. Palogai, Makassar (Negara yang Televisi)
70. Ichwanussofa, Mataram (Makrifat Sang Saka)
71. Iin Muawanah, Pasuruan (Menyulam Wajah Garuda)
72. Imam Solikhi, Ponorogo (Seorang Bapak yang Mengajari Anaknya )
73. Inasshabihah, Tangerang (Buddy, Ini Indonesia)
74. Intan Puspita Dewi, Jakarta (Jiwa-Jiwa Penuh Rahmat)
75. Irfan Adman Deppaindo, Mamuju (Indonesiaku Tersenyum)
76. Irfan Fauzi, Tegal (Ayat-Ayat Negeriku)
77. Irfan Firman, Bandung (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia 1)
78. Istiqomah Sari Kumarawati, Yogyakarta (Namaku Indonesia)
79. Ivone Prayogo, Jakarta (Dari dalam Selimut Ruang Bawah Tanah)
80. Iyaii Syafrie, Deli Serdang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
81. Jaka Dwi Cahyo, Kerinci (Pelangi Pertiwi)
82. Joni Iskandar, Bogor (Banggaku dalam Indonesia)
83. Kaletus Marselinus, Lembata (Kita Tercabik Karena Keakuan)
84. Kamil Dayasawa, Yogyakarta (Hikayat Pohon)
85. Kazuhana El Ratna Mida, Jepara (Rasa Bangga)
86. Ken Hanggara, Surabaya (Kembali Indonesia)
87. Khodijah, Tangerang (Aku Cinta Produk Indonesia)
88. Kinanthi Anggraini, Garut (Perihal Runcingnya Kebanggaan pada Sebilah Tombak Kesatuan)
89. Komang Sora Riyanti, Ciamis (Lantunan Sunyi)
90. Kukuh Septio Aji, Kudus (Pukul 06.09 WIB)
91. Lasinta Ari Nendra Wibawa, Garut (Kepada Negeri yang Menawarkan Segala Kemungkinan)
92. Lia Zaenab Zee, Makassar (Kisah Degup Tersetia)
93. Lina Latifah, Bandung (Keajaiban di Negeri Biji)
94. Luqyana Dahlia, Cirebon (Negeri Merdeka, Kataku)
95. M. Ikhsan, Medan (Doa untuknya)
96. M. Nadhirin, Riau (Kalian yang Bertanya)
97. M. Rinci Taqwa, Blitar (Benih Indonesia)
98. M. Syamsul Khanif, Kendal (Kukibarkan Merah Putih di Puncak Merbabu)
99. M. Zaini, Martapura (Anak Pernikahan Pulau)
100. Manusia Perahu Sudianto, Sumenep (Alegori Marbot Masjid)
101. Mar’atul Fitriyah Annahwiyah, Madura (Teduh di Ibu Pertiwi)
102. Margono, Klaten (Khasanah Maha Karya)
103. Marlina, Jakarta (Negeriku Jiwaku)
104. Maulana Ihsan, Pasaman (Cerita, Harapan, Keindahan, Kebahagiaan, Kesedihan)
105. Maulana Ihsan Ghiffari Julistyan, Probolinggo (Sajak Secangkir Teh)
106. Maulida Ramadhai Khairunnisa, Bekasi (Indonesia Hidup Abadi)
107. Mawardah, Medan (Tanah Ini Punya Sejarah)
108. Mega Leoni Pane, Medan (Kudengar dan Kulihat Sebuah Rumah)
109. Megawati Nasehatul Aminati, Ponorogo (Coba Kulihat)
110. Mei Putra Daya, Gunungsitoli (Aku dan Bangsaku)
111. Meidy Ayu, Depok (Gebyar-Gebyar)
112. Melia Roza, Pasaman (Bangga dalam Cerita)
113. Moh. Gufron Cholid, Madura (Anugerah yang Tak Pernah Tuntas Kau Gali)
114. Moh. Miftahul Ainin Najib, Jember (Ladang Suburmu Malah Kau Tinggalkan)
115. Moh. Wahyu Syafi’ul, Lamongan (Semua Meniru Indonesia)
116. Miftahul Jannah, Depok (Takkan Kujual Cinta)
117. Mohammad Saifullah, Kediri (Cahaya Khatulistiwa)
118. Muchammad Miftachul Ulum, Jombang (Cinta di Balik Selimut)
119. Muhamad Mursyid Ashari, Klaten (Doa untuk Ibu)
120. Muhammad Rian Azzam Fakrullah, Sukabumi (Aku Ingin Menulis Sajak dengan Namamu)
121. Muhammad Shodiq, Banyuwangi (Aku Cinta Indonesia)
122. Musyfiq, Sumenep (Di Penghujung Tahun yang Menua)
123. Nada Indra Puspitasari, Bekasi (Belum Kuberi Judul Karena Bingung)
124. Nadya Ahda, Cilacap (Saya Pelancong Indonesia)
125. Nengah Okta Yuliani, Lampung (Senandung Senja untuk Indonesia)
126. Nia Rizqih, Bogor (Aku dan Mereka di Indonesia)
127. Nisa Nurjannah, Bandung (Tanah Air Beta)
128. Nissa Ershanti, Yogyakarta (Gelandangan di Negeri Sendiri)
129. Nopitri Wahyuni, Lampung (Renaisans Kedua)
130. Nova, Payakumbuh (Aku Mencintai Ketidak Sempurnaanmu)
131. Novita Sari Manurung, Medan (Kota Seribu Wajah)
132. Nur Salam, Sumenep (Sajak Seorang Ibu)
133. Nurfah Maulia Simatupang, Tangerang (Hidup dan Mati untuk Bumi Pertiwi)
134. Nurifa, Padang (Sedikit Ulasan Tentang Negeriku)
135. Nurlaila Novliza, Lampung (Indonesia In Love)
136. Nursita Afifah, Kediri (Kopi Bukan Mimpi)
137. Nurul Firdiani, Yogyakarta (Aku Hanya Rakyat Biasa)
138. Obi Samhudi, Pontianak (Memoar Anak Manusia)
139. Odi Yanuwar, Indramayu (Terima Kasih Pertiwi)
140. Prihatin Suryaningtyas, Surakarta (Bukan Indonesia)
141. Pusvita Defi, Medan (Suara Rakyat)
142. Putri Narita Pangestuti, Sidoarjo (Mentari di Kandungku)
143. Qonita Hafizhah, Bogor (Semburat Cinta Veteran)
144. Qurrota A’yun, Yogyakarta (Cinta dalam Cepuk)
145. R. Indra Gunawan, Surabaya (Bangga Negeriku)
146. Rahmat Iman J.E, Malang (Durhaka Anak Negeri pada Ibu Pertiwi)
147. Rahmi Intan Jeyhan, Padangpanjang (Selimut)
148. Ratna Ning, Subang (Asa Kota Cinta)
149. Renny Putri Utami, Palembang (Antikuari)
150. Rezqie Muhammad Al Fajar Atmanegara, Banjarmasin (Anak-Anak Pulau, Orang Tua Nusantara)
151. Rian Gunawan, Tangerang (Tanah Airku)
152. Rinaldi Ikhsan Nasrulloh, Depok (Negeri Timur Jauh)
153. Rio Rinaldi, Padang (Memoar Sang Pengobar)
154. Rita Deswita, Padang (Bukan Negeri Dongeng)
155. Rita Sari, Padang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
156. Riyon Fidwar, Padang (Sajak Anak-Anak Indonesia)
157. Riska Awalia Lestari, Bulukumba (Rumahku, Indonesia)
158. Rizka Lalili Komariyah, Surabaya (Namanya Indonesia)
159. Rizkan, Padang (Cinta Indonesia yang Kekal)
160. Riski Angraeni, Surabaya (Bumiku Indonesia)
161. Rizki Febrian Aldriansyah, Bandung (Kami Rakyat Indonesia)
162. Roland Nooh, Manado (Indonesia yang Terbaik)
163. Rony Ucok Cahyadi, Bekasi (Negeri Tanpa Dongeng)
164. Rosmalia Nur Hidayati, Purworejo (Merah Putih Indonesia)
165. Rudi Hermawandi, Bandung (Aku adalah Dirimu Oh Indonesiaku)
166. Rudy Syalam, Turki (Bisikan Anak Nusantara)
167. Sahanara, Jambi (Serenada Pinisi di Tepian Losari)
168. Salma Fauziah A.S, Depok (Selembar Balasan)
169. Samuel Manurung, Medan (Tanah Air Kita Indonesia Teguh)
170. Sintha Harity, Cirebon (Lagu Si Tina)
171. Siska Wulandari, Padang (Pesan Leluhur Kami)
172. Siti Atitah, Magelang (Salam Hangat)
173. Siti Cholifah, Sidoarjo (Daun)
174. Siti Kholifah, Gresik (Ujung Pelosok Negeriku Indonesia)
175. Siti Sarah, Karawang (Surat Cinta untuk Pertiwi)
176. Siti Zakiyatul Khamidah, Brebes (Yang Ku Bangun di Gelap Bayangmu)
177. Sri Surani, Surakarta (Buktiku)
178. Suci Rizka Welza Putri, Padang (Cerita Sore Indonesia)
179. Sugeng Cahyadi, Purworejo (Fatwa Mulut Dunia)
180. Suhindro Wibisono, ? (Telanjangi Dewan Penipu Rakyat)
181. Syifa Diatmika, Batang (Catatan Indonesia)
182. Syafina Amorita Candini, Palembang (Tanah yang Kutolak Lupa)
183. Syarifullah, Sumenep (Kabar dari Pesisir: Doa Pelaut di Bulan Purnama)
184. Tri Adnan, Agam (Perjalanan)
185. Tri Hanita, Yogyakarta (Bunga Bangsa)
186. Tyas Mekar Sari, Sidoarjo (Rindu Indonesia)
187. Ully Krismanti, Sukoharjo (Anak Sungai)
188. Vingki Hardiyanti, Tangerang (Langit Indonesia)
189. Wenti Liana, Ogan Ilir (Cinta Beta)
190. Wiekerna Malibra, Bekasi (Mengenang Negeri Seribu Pelangi)
191. Winda Efanur FS, Yogyakarta (Sabda Sepatu Berlubang)
192. Wiwin SA, Kediri (Senyum Pertiwi)
193. Yudi Muchtar, Riau (Ceritera Merah Putih)
194. Yudi Rahmat, Cilegon (Indonesia Negeriku)
195. Yudik Wergiyanto, Situbondo (Negeri Senja)
196. Yuni Suryani, Bandung (Bilik Bambu Indonesiaku)
197. Yulia Erfiriza, Payakumbuh (Renungan Ibu)
198. Yuniske Prastika, Gorontalo (Mereka yang Terlupa)
199. Zahratun Nisa, Tabalong (Indonesiaku)
200. Zammil Hamzah, Sumenep (Orang Indonesia)
SELAMAT KEPADA 200 PESERTA YANG KARYANYA DIBUKUKAN 

Sumber terkait:
https://www.facebook.com/groups/forumaishiterumenulis/permalink/888261937890619/


=================================================================


PENGUMUMAN 300 NOMINATOR SAYEMBARA CIPTA PUISI TINGKAT NASIONAL 2015 BERTEMA”AKU BANGGA JADI ORANG INDONESIA”


FAM Indonesia mengumumkan 300 Nominator dari total 1718 (seribu tujuh ratus delapan belas) naskah yang masuk ke email FAM Indonesia. Tim juri bekerja keras menyeleksi puisi-puisi terbaik yang berpeluang menang.
Berikut nama-nama peserta dan judul puisi yang masuk di tahapan 300 Nominator:

1. A. Rosidi, Sumenep (Hikayat Sebuah Negeri)
2. A. Warits Rovi, Sumenep (Di Tengah-Tengah Pengantin Sepasang Benua)
3. Abdul Aziz Pane, Yogyakarta (Negeri Kita, Negeri Muara Harapan)
4. Abdurrahman Ahmad, Karang Anyar (Bukan Longsor Abadi)
5. Acet Asrival, Padang (Negeri dalam Mata)
6. Adammif Assobirin, Jepara (Dimana Kita Bisa Sambil Melihat Lintang Kemukus)
7. Ade Syaputra, Medan (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
8. Ade Ubaidil, Cilegon (Kunang-Kunang P(e)ribumi)
9. Adi Prasatyo, Tangerang (Batang Terakhir)
10. Adi Prasatyo, Tangerang (Harapan)
11. Aditya Novitasari, Surabaya (Adalah Anak Indonesia)
12. Aditya Zulmi Rahmawan, Mojokerto (Indonesia Bagian dari Nyawaku)
13. Aditya Zulmi Rahmawan, Mojokerto (Indonesia Sejati, Tak Ada Keraguan Padanya)
14. Agung Setiawan, Banjarmasin (Dialektika Budi)
15. Agus Salim, Madura (Senandika Merah Putih 1)
16. Agus Salim, Madura (Senandika Merah Putih 2)
17. Agus Widodo, Semarang (Generasi Setengah Bangga)
18. Agusrini Khairunnida, Martapura (Negeri Seribu Sesuatu)
19. Ahmad Ijazi H, Pekanbaru (Pada Batas Tualang)
20. Ahmad Musabbih, Jakarta (Lagu Sebatang Tebu)
21. Ahmad Musabbih, Jakarta (Tembang Kampung
22. Ahmad Sanusi, Sumenep (Kembalikan Tanahku)
23. Ai Yti Kartikawati, Sumedang (Masih Ada Anak Negeri Bersamamu)
24. Ainasofi Nastiti, Semarang (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia)
25. Ainul Fitriyah, Lamongan (Energi, Syurganya Indonesia)
26. Ainun Mawa’dah Noor, Hulu Sungai (Heroin Dangdut)
27. Aisyah Nur S, Sukoharjo (Seperti Karang)
28. Ajeng Mawaddah Puto, Gorontalo (Ini Budi)
29. Akadhita RD, Yogyakarta (Rumah)
30. Al-Fian Dippahatang, Makassar (Peta)
31. Al-Fian Dippahatang, Makassar (Senandika)
32. Alda Winona Zahra, Semarang (Ini Indonesia, Kawan)
33. Alfa Anisa, Blitar (Membaca Cuplikan De Javaan)
34. Ali Ridho, Surabaya (Negeri Indah dan Kaya)
35. Alias, Kendari (Mekar Menyatu)
36. Alvara Khyzu, Malaysia (Bukan dari Golongan Mereka)
37. Alvia Anggreini Setyaningrum, Lumajang (Jaya Zamrudku)
38. Amanda Tiara Averousi, Surabaya (Rumput Tetangga)
39. Amir Rifani, Pontianak (Biarlah Aku Tak Dianggap)
40. Andi Alifia Fara Dhiba, Makassar (Sipakatau Sipakainge Sipakalebbi)
41. Andi Jamaludin, Tanah Bumbu (Bah)
42. Angki Muttaqien, Yogyakarta (Kaya, Indonesia Raya)
43. Anisa Rahma, Pekanbaru (Surga Dunia Pembeda Kasta)
44. Annisa Puspa Kirana, Bogor (Sungguh Aku Tak Malu Jadi Orang Indonesia)
45. Anita Putri Pratama, Sumedang (Buka Mata, Buka Hati)
46. Anwarsyah, Bukittinggi (Satu Menjadi Kehidupan)
47. April Hamaro, Watampone (Kita)
48. Aqib Wisnu Priatmojo, Magelang (Soekarno 1930)
49. Arif Budiman, Sleman (Syalala Orkestra Indonesia)
50. Arif Widiatmoko, Sidoarjo (Negaraku adalah Poros Maritim Dunia yang Melegenda)
51. Arifatul Bahirah, Tangerang (Indonesia Tuan)
52. Asmara Dewo, Bukittinggi (Bocah Bertelanjang Dada)
53. Atep Taupik, Bandung (Buka Mata, Lihat Indonesia)
54. Azmiati Lathifah, Bantul (Merah Putih)
55. Bagus Alif Firmansyah, Gresik (Oepoli, di Suatu Sore)
56. Bagus Alif Firmansyah, Gresik (Script Tanpa Petik)
57. Bahiyatul Musfaidah, Ciputat (Senja di Pantai Indonesia)
58. Beben T, Palembang (Asa dalam Bangsa)
59. Bennedicta Vania Tandiono, Bengkulu (Bangsa yang Besar)
60. Beni Purna Indarta, Kebumen (Bumi Cinta)
61. Beni Purna Indarta, Kebumen (Cinta Platonik untuk Indonesia)
62. Beta Jati Rahayu, Sleman (Lihat, Pandanglah, Keindahan Kemesraan)
63. Bilqis Fitria Salsabiela, Cirebon (Hidup di Indonesia)
64. Bintang Annisa Bagustari, Padang (Aku, Mereka, Indonesia)
65. Budi Setiawan, Temanggung (Seperti Adam yang Lahir di Negeri Ini, Indonesia)
66. Budianto Sutrisno, Jakarta (Kau Tetap Indonesiaku)
67. Cahyo Prayogo, Jakarta (Kita Indonesia)
68. Cempaka Lestari Arif, Depok (Negeri Ramu Jamu, Berbangga Karena Keindahan)
69. Chania Widya, Malang (Inilah Negeriku)
70. D.A Akhyar, Banyuasin (Berdiri di Negeri Berjuta Warisan)
71. D.A Akhyar, Banyuasin (Semua Ada di Negeriku)
72. Daden Arga Bisma Ginanjar, Cianjur (Pemilik Jusedbu)
73. Dani Candra Dinata, Lampung (Indonesia dalam Dekap Kami, Pemuda)
74. Daniel Kalunung Dwi Susanto, Banjarbaru (Tak Ada Salahnya Jadi Orang Indonesia)
75. Dedi Saeful Anwar, Cianjur (Zikir Negeri Dua Per Tiga Air)
76. Deian Muhammad, Kuningan (Langkah Negeri)
77. Deny Pangga, Lubuklinggau (Sejuta Hikayat)
78. Dessy Riska Watiningsih, Boyolali (Negeri Seribu Bayangan)
79. Desty D. Rahayu, Bandung (Indonesia Menantikanmu)
80. Devan Nolin, Lampung (5 Menit 35 Detik)
81. Devi Rahayu Agustin, Kebumen (Harapan Sang Renta)
82. Devy Diany, Padang (Sebatang Kapur Putih)
83. Dewi Anggun Pratiwi, Cirebon (Kaum Macan Asia)
84. Dewi Rosaria Indah, Malang (Menapaki Jejak Negeriku)
85. Doni Alfajri, Agam (Pelangi Indonesiaku)
86. Doni Prasetyo, Semarang (Dibumbung ke Udara)
87. Drajat Adi Cahyono, Salatiga (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia)
88. Eko Wiyanto, Surakarta (Negeri Kita)
89. Elia Awaliyah, Brebes (Menggantung Mimpi di Langit Khatulistiwa)
90. Ema Mahdiyah, Pandeglang (Air Mata Air, Indonesiaku)
91. Eni Puspita Sari, Palembang (Senandung Khatulistiwa)
92. Era Sofiyah, ? (Karena Namaku Bukan Malin Kundang, Mak)
93. Erna Susilowati, Kudus (Negeri Kita Ladang Amal Kita)
94. Ervina Puspita Sari, Kebumen (Salmon)
95. Euis Sandri Meilawati, Bandung (Indonesia Surga Dunia)
96. Eva Nur Aprillail, Tangerang (Bangga Jadi Orang indonesia)
97. Eva Juli Kartina Panjaitan, Labuhan Batu (Tanah Pusaka)
98. Evelyn N, Surabaya (Jangan Terkoyak, Bangsaku)
99. Exciyona Adistika, Bukittinggi (Suara Hati untuk Negeriku)
100. Fabia Yolana Jeni, Lampung (Kaulah Negeri Atlantis)
101. Faidi Rizal Alief, Sumenep (Denyut Kenangan)
102. Faidi Rizal Alief, Sumenep (Sebuah Negeri Bernama Indonesia Raya)
103. Fajrus Shiddiq, Malang (Aku Begitu Sumringah)
104. Fajrus Shiddiq, Malang (Wajah-Wajah Negeri di Pemukiman)
105. Fania Handiyani S, Surabaya (Aku dengan Sajak Tentangmu)
106. Fania Handiyani S, Surabaya (Aku Panggil Kau Negeri Surga, Indonesia)
107. Faradiba Desy Aulia, Semarang (Asam Manis Indonesia)
108. Farihatun Nafiah, Jombang (Seribu Warna pada Tanah Beta)
109. Faruk Abdurrahman, Jakarta (Indonesia Sampai Mati)
110. Fatah Abdul Wahab, Jakarta (Hanya di Indonesia)
111. Febry Salsinha, Yogyakarta (Rahim Pertiwi)
112. Fina Lanahdiana, Kendal (Melukis Perihal Ikhtisar)
113. Firda Rastia, Banten (Kelabu)
114. Fita Setiyawan, Mojokerto (Pada Negeri Sanskerta)
115. Fitri Wijaya, Padang (Sajak Seorang Petani)
116. Grace Sianturi, Jakarta (Si Gale-Gale)
117. Guy Le Fleur, Bengkalis (Rindu dalam Selimut Khatulistiwa)
118. Henydria Dwi Adiningtyas, Sidoarjo (Gadis Kecil Simpang Siur)
119. Herdian Armandhani, Denpasar (Negeri Warisan)
120. Herdiansyah Amran, Maroko (Kisah Negeri Bertuah di Negeri Senja)
121. Hermawan, Martapura (Apakah Ini Indonesia)
122. Heru Patria, Blitar (Lagu Kita Masih Sama)
123. Herwit Daya Tani, Jakarta (Wasiat Kepada Putri Seorang Pejuang)
124. Hilman Mulya Nugraha, Bandung (Tak Menyerah untuk Bangsa)
125. Hisam Rosidin, Surakarta (Pengabdian Diri)
126. Hotmazmuloh, Sibolga (Segumpal Tanah Surga)
127. Husna Qurrota Ayunina, Surakarta (Merdeka)
128. Ibe S. Palogai, Makassar (Negara yang Televisi)
129. Ibe S. Palogai, Makassar (Mitos Kota Kotak-Kotak)
130. Ichwanussofa, Mataram (Makrifat Sang Saka)
131. Iin Muawanah, Pasuruan (Menyulam Wajah Garuda)
132. Imam Solikhi, Ponorogo (Seluruhmu)
133. Imam Solikhi, Ponorogo (Seorang Bapak yang Mengajari Anaknya )
134. Inasshabihah, Tangerang (Buddy, Ini Indonesia)
135. Intan Puspita Dewi, Jakarta (Jiwa-Jiwa Penuh Rahmat)
136. Irfan Adman Deppaindo, Mamuju (Indonesiaku Tersenyum)
137. Irfan Fauzi, Tegal (Ayat-Ayat Negeriku)
138. Irfan Firman, Bandung (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia 1)
139. Istiqomah Sari Kumarawati, Yogyakarta (Aku Jatuh Cinta, Lagi)
140. Istiqomah Sari Kumarawati, Yogyakarta (Namaku Indonesia)
141. Ivone Prayogo, Jakarta (Dari dalam Selimut Ruang Bawah Tanah)
142. Iyaii Syafrie, Deli Serdang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
143. Jaka Dwi Cahyo, Kerinci (Seantero)
144. Jaka Dwi Cahyo, Kerinci (Pelangi Pertiwi)
145. Joni Iskandar, Bogor (Banggaku dalam Indonesia)
146. Kadek Ayu Ristianti, Bali (Tak Malu Menyebut Indonesia)
147. Kaletus Marselinus, Lembata (Kita Tercabik Karena Keakuan)
148. Kamil Dayasawa, Yogyakarta (Hikayat Pohon)
149. Kartini, Mamuju (Bangga Jadi Orang Indonesia)
150. Kazuhana El Ratna Mida, Jepara (Rasa Bangga)
151. Ken Hanggara, Surabaya (Kembali Indonesia)
152. Khamdanah, Semarang (Istana Surga para Dewa)
153. Khias Nurlatif Subekti, Yogyakarta (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia)
154. Khodijah, Tangerang (Aku Cinta Produk Indonesia)
155. Kiki Setiyorini, Yogyakarta (Petani Miris)
156. Kinanthi Anggraini, Garut (Perihal Runcingnya Kebanggaan pada Sebilah Tombak Kesatuan)
157. Kiswati, Batam (Pesona Bangsa)
158. Komang Sora Riyanti, Ciamis (Lantunan Sunyi)
159. Kukuh Septio Aji, Kudus (Pukul 06.09 WIB)
160. Kusmi Handayani, Jambi (Goresan Tinta untuk Indonesia)
161. Laras Sekar Seruni, Jakarta (Bisikan Kerinduan untuk Indonesia)
162. Lasinta Ari Nendra Wibawa, Garut (Kepada Negeri yang Menawarkan Segala Kemungkinan)
163. Lasinta Ari Nendra Wibawa, Garut (Tentang Perempuan-Perempuan Melati yang Tumbuh di Pelosok Negeri)
164. Laura Sylvia, Martapura (Puisi untuk Pemimpin Negeri)
165. Lia Uvitasari, Lampung (Indonesiaku Tersenyumlah Kembali)
166. Lia Zaenab Zee, Makassar (Kisah Degup Tersetia)
167. Lina Latifah, Bandung (Beta Anak Arafuru)
168. Lina Latifah, Bandung (Keajaiban di Negeri Biji)
169. Luqyana Dahlia, Cirebon (Negeri Merdeka, Kataku)
170. M. Ikhsan, Medan (Doa untuknya)
171. M. Nadhirin, Riau (Kalian yang Bertanya)
172. M. Rinci Taqwa, Blitar (Benih Indonesia)
173. M. Syamsul Khanif, Kendal (Kukibarkan Merah Putih di Puncak Merbabu)
174. M. Zaini, Martapura (Anak Pernikahan Pulau)
175. Manusia Perahu Sudianto, Sumenep (Alegori Marbot Masjid)
176. Mar’atul Fitriyah Annahwiyah, Madura (Teduh di Ibu Pertiwi)
177. Margono, Klaten (Khasanah Maha Karya)
178. Marlina, Jakarta (Negeriku Jiwaku)
179. Maulana Ihsan, Pasaman (Cerita, Harapan, Keindahan, Kebahagiaan, Kesedihan)
180. Maulana Ihsan Ghiffari Julistyan, Probolinggo (Sajak Secangkir Teh)
181. Maulida Ramadhai Khairunnisa, Bekasi (Indonesia Hidup Abadi)
182. Mawardah, Medan (Tanah Ini Punya Sejarah)
183. Mega Leoni Pane, Medan (Kudengar dan Kulihat Sebuah Rumah)
184. Megawati Nasehatul Aminati, Ponorogo (Coba Kulihat)
185. Mei Putra Daya, Gunungsitoli (Aku dan Bangsaku)
186. Meidy Ayu, Depok (Gebyar-Gebyar)
187. Melia Roza, Pasaman (Bangga dalam Cerita)
188. Moh. Gufron Cholid, Madura (Anugerah yang Tak Pernah Tuntas Kau Gali)
189. Moh. Miftahul Ainin Najib, Jember (Ladang Suburmu Malah Kau Tinggalkan)
190. Moh. Wahyu Syafi’ul, Lamongan (Semua Meniru Indonesia)
191. Miftahul Jannah, Depok (Takkan Kujual Cinta)
192. Mohammad Saifullah, Kediri (Cahaya Khatulistiwa)
193. Mohammad Saifullah, Kediri (Wajah Pribumi)
194. Muchammad Miftachul Ulum, Jombang (Cinta di Balik Selimut)
195. Muhamad Mursyid Ashari, Klaten (Doa untuk Ibu)
196. Muhammad Rian Azzam Fakrullah, Sukabumi (Aku Ingin Menulis Sajak dengan Namamu)
197. Muhammad Rian Azzam Fakrullah, Sukabumi (Ketuk Tilu)
198. Muhammad Shodiq, Banyuwangi (Aku Cinta Indonesia)
199. Musyfiq, Sumenep (Di Penghujung Tahun yang Menua)
200. Mutiara Hanif Saputri, Surakarta (Indonesia, yang Ingin Namun Terkekang)
201. Nada Indra Puspitasari, Bekasi (Belum Kuberi Judul Karena Bingung)
202. Nadya Ahda, Cilacap (Saya Pelancong Indonesia)
203. Nadyan Shifani, Aceh (Sajak Cinta Anak Tak Berayah)
204. Nahariatul Hikmah, Kediri (Pesona Edelweis)
205. Nanik farida, Bangkalan (Negeriku Ringkih)
206. Nelis Onia, Bali (Kebanggaanku Menjadi Orang Indonesia)
207. Nengah Okta Yuliani, Lampung (Senandung Senja untuk Indonesia)
208. Ni Nyoman Ayu Suciartini, Bali (Nyanyian Muda)
209. Nia Rizqih, Bogor (Aku dan Mereka di Indonesia)
210. Nilamsari, Tangerang (Tengoklah ke Dalam Indonesia)
211. Nino Dergo El Firhaa, Padang (Sesuatu yang Hilang dari Negeriku)
212. Nisa Desiani Aohana, Pringgabaya (Negeri Pelangi)
213. Nisa Nurjannah, Bandung (Tanah Air Beta)
214. Nissa Ershanti, Yogyakarta (Gelandangan di Negeri Sendiri)
215. Nopitri Wahyuni, Lampung (Renaisans Kedua)
216. Norol Fahriah, Pulang Pisau (Indonesia Negeriku)
217. Nova, Payakumbuh (Aku Mencintai Ketidak Sempurnaanmu)
218. Novita Sari Manurung, Medan (Aras Memahat Samakh)
219. Novita Sari Manurung, Medan (Kota Seribu Wajah)
220. Nur Salam, Sumenep (Sajak Seorang Ibu)
221. Nurfah Maulia Simatupang, Tangerang (Hidup dan Mati untuk Bumi Pertiwi)
222. Nurifa, Padang (Sedikit Ulasan Tentang Negeriku)
223. Nurlaila Novliza, Lampung (Indonesia In Love)
224. Nursita Afifah, Kediri (Kopi Bukan Mimpi)
225. Nursita Afifah, Kediri (Serba Bisa)
226. Nurul Firdiani, Yogyakarta (Aku Hanya Rakyat Biasa)
227. Nurul Imamah, Pamekasan (Epitaf Kampung Halaman)
228. Nuzul Helmi, Medan (Kita Tetap Bhineka Tunggal Ika)
229. Obi Samhudi, Pontianak (Memoar Anak Manusia)
230. Odi Yanuwar, Indramayu (Terima Kasih Pertiwi)
231. Prihatin Suryaningtyas, Surakarta (Bukan Indonesia)
232. Pusvita Defi, Medan (Suara Rakyat)
233. Putri Narita Pangestuti, Sidoarjo (Mentari di Kandungku)
234. Putri Shofi Nabilah, Gresik (Pusara dan Kain Mati)
235. Qonita Hafizhah, Bogor (Semburat Cinta Veteran)
236. Qurrota A’yun, Yogyakarta (Cinta dalam Cepuk)
237. R. Indra Gunawan, Surabaya (Bangga Negeriku)
238. R. Indra Gunawan, Surabaya (Perahu Cadik Bapak)
239. Rahmat Iman J.E, Malang (Durhaka Anak Negeri pada Ibu Pertiwi)
240. Rahmi Intan Jeyhan, Padangpanjang (Selimut)
241. Ratna Ning, Subang (Asa Kota Cinta)
242. Renny Putri Utami, Palembang (Antikuari)
243. Rezqie Muhammad Al Fajar Atmanegara, Banjarmasin (Anak-Anak Pulau, Orang Tua Nusantara)
244. Rian Gunawan, Tangerang (Tanah Airku)
245. Rinaldi Ikhsan Nasrulloh, Depok (Negeri Timur Jauh)
246. Rio Rinaldi, Padang (Memoar Sang Pengobar)
247. Rita Deswita, Padang (Bukan Negeri Dongeng)
248. Rita Sari, Padang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
249. Riyon Fidwar, Padang (Sajak Anak-Anak Indonesia)
250. Riska Awalia Lestari, Bulukumba (Rumahku, Indonesia)
251. Rizka Lalili Komariyah, Surabaya (Namanya Indonesia)
252. Rizkan, Padang (Cinta Indonesia yang Kekal)
253. Riski Angraeni, Surabaya (Bumiku Indonesia)
254. Rizki Febrian Aldriansyah, Bandung (Kami Rakyat Indonesia)
255. Roland Nooh, Manado (Indonesia yang Terbaik)
256. Rony Ucok Cahyadi, Bekasi (Negeri Tanpa Dongeng)
257. Rosmalia Nur Hidayati, Purworejo (Merah Putih Indonesia)
258. Rudi Hermawandi, Bandung (Aku adalah Dirimu Oh Indonesiaku)
259. Rudy Syalam, Turki (Bisikan Anak Nusantara)
260. Sahanara, Jambi (Kawan Sehati)
261. Sahanara, Jambi (Serenada Pinisi di Tepian Losari)
262. Salma Fauziah A.S, Depok (Selembar Balasan)
263. Samuel Manurung, Medan (Tanah Air Kita Indonesia Teguh)
264. Sintha Harity, Cirebon (Lagu Si Tina)
265. Sintha Harity, Cirebon (Masih, Generasi Indonesia?)
266. Siska Wulandari, Padang (Pesan Leluhur Kami)
267. Siti Atitah, Magelang (Salam Hangat)
268. Siti Cholifah, Sidoarjo (Daun)
269. Siti Kholifah, Gresik (Ujung Pelosok Negeriku Indonesia)
270. Siti Rofikoh, Banyuwangi (Segunung Cinta untuk Bangsa)
271. Siti Sarah, Karawang (Surat Cinta untuk Pertiwi)
272. Siti Zakiyatul Khamidah, Brebes (Yang Ku Bangun di Gelap Bayangmu)
273. Sri Surani, Surakarta (Buktiku)
274. Sri Surani, Surakarta (Lihatlah Permatamu)
275. Suci Rizka Welza Putri, Padang (Cerita Sore Indonesia)
276. Sugeng Cahyadi, Purworejo (Fatwa Mulut Dunia)
277. Suhindro Wibisono, ? (Presiden, Anak Mami)
278. Suhindro Wibisono (Telanjangi Dewan Penipu Rakyat)
279. Syifa Diatmika, Batang (Catatan Indonesia)
280. Syafina Amorita Candini, Palembang (Tanah yang Kutolak Lupa)
281. Syarifullah, Sumenep (Kabar dari Pesisir: Doa Pelaut di Bulan Purnama)
282. Syusella Kalvi Handika, Lahat (Tanah Air Kelahiranku)
283. Tesha Rosyida Nur Agustina, Bantul (Aku Indonesia)
284. Tri Adnan, Agam (Perjalanan)
285. Tri Hanita, Yogyakarta (Bunga Bangsa)
286. Tyas Mekar Sari, Sidoarjo (Rindu Indonesia)
287. Ully Krismanti, Sukoharjo (Anak Sungai)
288. Vingki Hardiyanti, Tangerang (Langit Indonesia)
289. Wenti Liana, Ogan Ilir (Cinta Beta)
290. Wiekerna Malibra, Bekasi (Mengenang Negeri Seribu Pelangi)
291. Winda Efanur FS, Yogyakarta (Sabda Sepatu Berlubang)
292. Wiwin SA, Kediri (Senyum Pertiwi)
293. Yudi Muchtar, Riau (Ceritera Merah Putih)
294. Yudi Rahmat, Cilegon (Indonesia Negeriku)
295. Yudik Wergiyanto, Situbondo (Negeri Senja)
296. Yuni Suryani, Bandung (Bilik Bambu Indonesiaku)
297. Yuniske Prastika, Gorontalo (Mereka yang Terlupa)
298. Yulia Erfiriza, Payakumbuh (Renungan Ibu)
299. Zahratun Nisa, Tabalong (Indonesiaku)
300. Zammil Hamzah, Sumenep (Orang Indonesia)

SELAMAT KEPADA PARA NOMINATOR!

Sumber terkait:
www.famindonesia.com 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=660050390789812&set=gm.887809251269221&type=1&theater

Kamis, 26 Februari 2015

[Artikel] CATATAN RINGAN DARI AKSIOMA-KSM 2015: [Apalah Arti Sebuah Nama]



CATATAN RINGAN DARI AKSIOMA-KSM 2015: [Apalah Arti Sebuah Nama]
Oleh: Dedi Saeful Anwar
Penulis dan Siswi Peraih Juara II English Speech Contest (Meli Siti Homsah)

Dalam setiap kegiatan tentu selalu ada hal-hal yang menarik perhatian. Apalagi dalam perhelatan yang bisa dikatakan jarang-jarang terjadi. Seperti dalam kegiatan AKSIOMA-KSM 2015 yang baru lalu.
Sudah lumrah dan bukan hal aneh lagi jika di masyarakat kita selalu ada beberapa istilah yang rancu. Masyarakat kita memang tergolong masyarakat yang latah. Tidak perduli kelatahan itu banar atau salah. Sepertinya yang penting enak diucapkan dan nyaman di dengar.
Seperti dalam beberapa contoh berikut ini:
  1. Banyak orang menyebut mesin pompa itu namanya “Sanyo”, padahal Sanyo adalah salah satu merek dari mesin pompa.
  2. Setiap air mineral pasti selalu disebutnya “Aqua”, padahal banyak sekali nama/merk dari minuman mineral dalam kemasan itu.

Begitu pula dalam perhelatan pertandingan olahraga dan lomba bidang studi di berbagai jenjang pendidikan di tanah air kita. Di kalangan masyarakat nama PORSENI (Pekan Olah Raga dan Seni). Istilah yang sudah begitu akrab dan melekat dimulut dan telinga masyarakat kita itu digunakan untuk kegiatan lomba-lomba yang digelar bagi para siswa mulai dari tingkat Usia Dini/TK hingga Sekolah Lanjutan (SLTPP dan SLTA) ini hampir selalu diselenggarakan tiap tahun.
Namun untuk tingkat Madrasah (kususnya MTs) sejak terakhir diselenggarakan pada 2012 lalu, baru kali ini digelar kembali. Entah apa alasannya jelasnya. Dan apakah kegiatan ini akan berlangsung setiap tahun atau dua tahun sekali, entahlah. Yang jelas untuk pelaksaan tahun ini sungguh miris dan memprihatinkan dari segi persiapan maupun penyelenggarannya.
Kenapa demikian? Kegiatan yang seyogiyanya berlangsung pada 14 dan 15 Februari 2015 ini, diundur pelaksanannya satu minggu kemudian dengan alasan menunggu dana/uang BOS cair dari pemerintah. Namun hingga berakhirnya kegiatan ini, kucuran dana itu entah di mana gerangan macetnya.
Kita kembali ke permasalahan istilah Porseni. Untuk sekolah-sekolah yang berada di lingkungan Dinas pendidikan istilah Porseni selalu berubah nama dan sebutan atau istilahnya. Porseni pernah diganti dengan istilah POR/PSP, Pekan Olah Raga/Pekan Seni Pelajar. Dan kini menjadi berubah istilah lagi menjadi O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional) dan FLS2N (Festival & Lomba Seni Siswa Nasional).
Sementara untuk sekolah/madrasah yang berada di bawah naungan Kemenag (Kementrian Agama) digunakan istlah AKSIOMA (Ajang KompetisiSeni dan Olahraga Madrasah) & KSM (Kompetisi Sains Madrasah).
Namun, yang terjadi di masyarakat kita adalah, istilah tinggal istilah. Mereka sepertinya tidak ambil pusing dengan nama dan sebutan atau istilah apapun. Yang mereka tahu hal yang berhubungan dengan lomba-lomba antar sekolah adalah PORSENI.
Yang membuat lucu (miris) lagi, istilah itu bahkan sangat kental dalam perhelatan AKSIOMA&KSM 2015 di tingkat KKM Sawah gede yang baru digelar 24-25 Februari 2015 lalu.
Para panitia dengan gagah mengenakan jaket berwarna biru tua, dan di dada sebelah kiri tercetak tulisan PORSENI PELAJAR 2015! Padahal saya yakin bahwa mereka (panitia) berkali-kali membolak-balikan juklak dan juknis. Di sana pasti tertulis AKSIOMA&KSM, bukan PORSENI, atau pun istilah lainnya.
Dengan demikian saya jadi senyum-senyum sendiri dan teringat dengan istilah berikut ini, “apalah arti sebuah nama”. Mau PORSENI ataupun AKSIOMA-KSM yang penting kegiatan berlangsung sukses.
[dsa]

Selasa, 20 Januari 2015

SEBUAH CATATAN KECIL



SEBUAH CATATAN KECIL: MENUJU KOPDAR II FAM JABAR-BANTEN, MINGGU 18 JANUARI 2015

Pagi masih gigil. Matahari terlihat enggan menampakkan batang hidungnya. Ayam tetangga pun seolah ikut-ikutan malas berkokok. Akan terasa nyaman bila kutarik selimut kembali. Tapi, semua itu kumentahkan. Aku segera mengeluarkan roda dua-ku yang sehari-harinya selalu menemani ke mana pun pergi. Lalu, kuhangatkan mesinnya.
Sementara mesin roda dua menderu, aku bisa mengisi perut sekadar untuk jaga-jaga agar tidak masuk angin.  Karena hari itu jarak yang ditempuh akan lebih jauh dari hari-hari biasanya, yaitu Kopdar II FAM Jabar-Banten.
Setelah semuanya siap, barulah aku pamitan pada istri dan anak-anak. Putriku yang masih dalam pemulihan setelah seminggu lebih sakit dan sempat dirawat selama tiga hari di rumah sakit, awalnya merengek tidak mau ditinggal. Namun akhirnya luluh juga setelah aku mengeluarkan jurus-jurus bujukan.
Cuaca di Minggu pagi itu cukup menggigit kulit. Padahal aku sudah mengenakan berlapis pakaian. Kain sorban pun dililitkan di leher untuk menghindari terpaan angin Januari yang benar-benar menguji siapa pun yang pagi itu hendak berpergian.
Selama di perjalanan pikiranku sudah jauh melayang ke tempat tujuan. Seperti apa keadaan Alun-alun kota Bandung sekarang ini. Dahulu saat kopdar pertama, masih ada sebuah Taman Gantung di sana. Namun bisa dikatakan bahwa ketika itu terlihat kurang perawatannya. Di dinding taman terdapat corat-coret cat semprot  dari tangan-tangan jahil yang tak suka dengan keindahan. Area di sekitarnya pun penuh dengan pedagang liar hingga terkesan kumuh. Di setiap sudut sampah bisa dipastikan tertangkap mata.
Di sanalah pertama kali saya bertemu dengan Ade Ubaidil (Cilegon, Banten), Nuryaman Emil Hamzah (Pandeglang, Banten) dan Nina Kirana (Bandung). Mereka adalah para penulis yang memiliki semangat dakwah bil qolam. Sebuah catatan manis yang telah mengisi album kenangan hidupku.
Setelah melewati sasak (jembatan) Rajamandala---sebuah jalur yang di bawahnya mengalir Sungai Citarum  dan juga menjadi pembatas antara Kabupaten Cianjur dengan Kab. Bandung Barat---lamunanku buyar dengan volume kendaraan yang cukup padat.
Di daerah itu selalu begitu, karena aktivitas sebuah pasar tumpah. Para pedagang yang jika tidak diberikan tempat memadai---di daerah mana pun--- pasti akan menjajakan dan membuat lapak dagangannya hingga ke bibir jalan.
Selain para pedagang yang merangsek hingga bibir jalan, juga banyak motor tukang ojek yang memarkir roda duanya di kiri dan kanan bahu jalan, hingga membuat jalan provinsi itu kian sempit saja. Mereka memarkirkan kendaraan roda duanya di sana tentu bukan tanpa alasan. Hal itu sengaja demi mengais rezeki dengan menyambut para pembeli di pasar tumpah tersebut.
Belum lagi pedangang kaki lima yang turut serta menjadi bagian dari kesemrawutan dan kemacetan. Seperti tukang bubur, bakso, martabak juga pedagang goreng-gorengan dan pedagang berbagai jenis makanan lainnya. Mereka siap menyediakan makanan untuk sarapan para penjual dan pembeli di pasar tumpah itu yang sudah membuka mata sedari pagi masih buta.
Dan kemacetan akan semakin panjang, jika muncul konvoi truk bercat kuning yang mengangkut tumpukan sampah, melewati jalur itu. Di jalur itu ada sebuah pertigaan yang mengarah ke TPA Cipeundeuy. Sebuah tempat pembuangan akhir sampah untuk kota Bandung dan Cimahi.
Selain menambah kemacetan, siapa pun yang di lewati kendaraan itu siap-siap saja memencet hidung atau menutupnya dengan lima jari sebelum aroma busuk mengorek-orek dan menusuk rongga hidung. Belum lagi ceceran cairan yang menetes dari kendaraan itu, aroma busuknya akan cukup lama menari dalam lubang penciuman siapapun.
Roda dua-ku terus dipacu. Hingga sampai di daerah Cipatat. Daerah yang terkenal dengan tempat latihan menembak satuan infantri. Namun di sana juga banyak sentra produksi batu onix. Selain itu, di sana pun terdapat beberapa titik yang dijadikan area penambangan pasir dan batu kapur. 
Pagi itu secara kebetulan mataku tertuju pada sebuah bukit batu, yang dari kejauhan terlihat ada titik yang mengepulkan asap hitam. Sengaja aku menghentikan laju motorku, kemudian mengambil beberapa gambar dengan kamera telepon seluler. Kepulan itu entah dari cerobong asap pembakaran batu kapur, entah ke luar dari cerobong asap yang lain. Kepulannya hitam pekat membubung lalu memoles wajah langit biru yang bisu.

Daerah itu tidak pernah lepas dari mesin-mesin pengeruk isi bumi. Bukti nyata bahwa manusia memang makhluk serakah. Tidak peduli dengan lingkungannya yang kian sakit parah. Semakin membabi-buta dalam aksi menjarah isi tanah. 
 Aku bergegas melanjutkan perjalanan. Roda kupacu cukup cepat, hingga sampai di kota Cimahi. Sebuah kota kecil yang menyimpan berjuta cerita. Karena di sanalah tempat aku pertama kalinya menghidup udara. Sebuah tempat yang menyimpan catatan-catatan masa kecil dengan tangisan dan gelak tawa yang tersimpan di pematang sawah dan arus sungainya. Setiap melewati daerah itu aku berusaha agar dua ujung netraku tidak berembun. Kini kota yang berjuluk Kota Hijau itu, semakin cantik seiring dengan berbagai pembangun tata kotanya, setelah memisahkan diri dari wilayah Kabupaten Bandung.
Kemudian kendaraanku melesat di jalan layang Cimindi. Di atas jalan itu aku sedikit terhibur dengan memandang atap juga genting-genting bangunan dan rumah-rumah penduduk yang padat di bawahnya. Juga bentangan rel kereta api yang menghubungkan Kota Kembang dan Metropolitan.
Beruntung, saat melewati daerah Jatayu, kepadatan sudah cukup terurai. Karena keramaian pasar di sana mulai bubar. Pasar yang menyediakan berbagai sayuran dan hasil laut memang sejak dulu beraktivitas sejak malam hingga pagi hari.

Wilujeng sumping di Dayeuh Bandung!*)

Sekitar pukul 8:26 mataku tertuju pada sebuah benda merah---Bandros! Ya, Sebuah nama dari bis tingkat yang merupakan akronim dari Bandung Tour on The Bus dan menjadi daya tarik urang Bandung akhir-akhir ini.
Kendaraan wisata yang dapat mengajak penumpangnya mengelilingi sambil menikmati keindahan kota Parijs van Java dengan cukup membayar tiket Rp15.000. Sejenak aku menyaksikan banyak orang yang mengantri untuk menaiki Bandros tersebut. Di sana nampak beberapa orang berpakaian t-shirt hijau dari sebuah komunitas mengambil gambar di depan kendaraan wisata tersebut.
Kendaraan di sekitar Alun-alun sudah mulai padat. Aku mematikan mesin motor di parkiran basement Alun-alun Bandung sekitar puku 8:31. Sejak memasuk gerbang parkir, antrean kendaraan roda dua dan empat sudah berbaris. Begitu keluar dari area parkir di basement alun-alun, ternyata karpet sintetis hijau di depan halaman Masjid Raya sudah berubah hitam, karena sudah tertutupi oleh lautan manusia di sana.
Orang yang pertama saya cari adalah Kang Nuryaman Emil Hamzah, FAMili dari Pandeglang, Banten. Menurut penuturannya---setelah kami berjumpa---dia sudah sampai di Bandung sekitar jam 4 pagi. Karena berangkat dari Banten pada dini hari.
Begitu sulit saya menemukan orang dia di antara ratusan bahkan ribuan orang yang memadati area rumput sintetis tersebut. Pencarianku bertambah lama disebabkan nomor kontaknya berada pada kartu ponselku yang sudah tidak aktif lagi. Hingga berusaha kuhubungi Teh Nina Kirana yang masih diperjalanan, juga Ade Ubaidil yang hari itu berhalangan datang ke kota Bandung.
Akhirnya setelah hampir satu jam lebih aku berjumpa juga dengan yang dicari. Ternyata sudah hadir pula Sri Nurhayati (Srea) FAMili dari Kab. Bandung. Sambil melepas rindu dan lelah kami menikmati suasana Masjid Raya yang begitu ramai dengan kepadatan pengunjungnya.
Setelah selesai melaksanakan salat Zuhur kami baru bisa memulai kegiatan diskusi. Sambil menikmati hidangan roti pisang keju dan gorengan daun bayam---camilan yang disuguhkan Teh Nina Kirana---kami antusias membahas berbagai hal selain bercengkrama penuh keakraban.






Hingga menjelang waktu Asar tiba, kami menyelesaikan kegiatan Kopdar ke-2 ini. Dan setelah mengambil beberapa gambar untuk dokumetasi, akhirnya kami perpisah. Di tengah lautan manusia kami menjalin ukhuwah. Di bawah langit kota Bandung kami menggores tinta aishiteru dakwah bil qolam.
Hatur nuhun Bandung. **)
Cag.***)

Cianjur, 21 Januari 2015

*) Selamat datang di kota Bandung!
**) Terima kasih Bandung
***) Selesai.

Minggu, 21 Desember 2014

[PUISI] NGITUNG GIRIMIS





NGITUNG GIRIMIS

kayahang mah
peuting ieu siga peuting harita
ngobrol ngalor ngidul
jeung bulan di tepas
nyairan bentang baranang
disuguhan lalauh
nu amis-amis,  enya ge di buruan girimis

kayahang mah
bulan tong gancang-gancang miang
kuring masih loba kamelang

kahayang mah, gening
ngan saukur jangjang beurang
nu bakal miang
da bakal hiber, ngajangelek
ngajirim peuting

di buruan
kuring ngitung girimis

---
arciko, 20-des-14
---

sumber gambar: 
https://www.google.com/search?q=gerimis&biw=1024&bih=598&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=-wyXVJO2N8yWuAT22YHQCQ&ved=0CAYQ_AUoAQ#facrc=_&imgdii=_&imgrc=VOdnQt9eez-WxM%253A%3BAHSWUBVp8rdw-M%3Bhttp%253A%252F%252F4.bp.blogspot.com%252F-lBXry_8xzsM%252FUKzbFv7QQ3I%252FAAAAAAAAAfM%252FnoDb4L9VC3g%252Fs1600%252Ftumblr_lxko3dO9jz1qcegblo1_500.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Fpelangitipha.blogspot.com%252F2012%252F11%252Fgerimis-romantis.html%3B495%3B307