BEDAH BUKU SENYUM NOLINA

BEDAH BUKU SENYUM NOLINA
NOVELET "PETUALANGAN KUBIL DAN KAWAN-KAWAN" karya Dedi Saeful Anwar ini sudah bisa dipesan. Harga Rp91.000 (belum ongkir).

Rabu, 20 Mei 2015

[ARTIKEL] ACARA-AN

ACARA-AN

Oleh: Dedi Saeful Anwar

Kalau kita simak dan telah judul di atas tentu terasa rancu. Tetapi bila mendengar kata makanan, minuman, mingguan dll, tentu bukan hal aneh atau rancu. Namun saat mendengar atau mengucapkan kata “acaraan” tentu akan mengernyitkan dahi bagi siapa pun yang mendengar maupun mengucapkannya.
Pun begitu dengan saya. Hari ini, Sabtu, 8 Mei 2015 saya mendengar istilah tersebut. Bila kita membuka tata bahasa Indonesia pembentukan kata benda dari kata kerja dengan menambahkan imbuhan –an, seperti makan menjadi makanan dan minum menjadi minuman tentu mudah dan memang begitu secara teori tata bahasa. Kata kerja di beri imbuhan –an, menjadi bentukan kata yang baru yaitu menjadi kata benda.
Tetapi kalau acara (kata benda” ditambah dengan imbuhan “-an” tentu tidak sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar (baca: EYD). Lantas siapa yang mengucapkan kata “acara-an” tersebut. Dan kenapa ada yang menggunakan istilah atau kata “acara-an” itu?
Tentu kata itu bukan sebuah kata yang baku, bahkan pengertiannya juga akan meleset bagi orang yang tidak tahu. Bila mendengar kata “bentrokan” atau “tawuran” “duel” atau “sparing” tentu tidak asing kan? Nah, acara-an tersebut adalah istilah lain untuk keempat kata tadi.
Ada kemungkinan kata “acara-an” itu muncul atau digunakan oleh seseorang demi menyamarkan kata-kata tadi. Seperti yang terjadi di dua kecamatan di Kabupaten Cianjur pada dua hari sebelum UN 2015 berlangung. Tepatnya Sabtu, 2 Mei 2015. Bahkan hari itu bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional yang sering kita sebut Hardiknas!
Pelaku yang merayaan “acara-an itu adalah pelajar dari 4 sekolah (3 MTs dan 1 SMP Negeri). Keempat sekolah itu berasal dari dua kecamatan yang berada di radius 7-10 km dari pusat kota. Mereka melakukan “acara-an“di tengah sawah yang tidak sedang ditanami (baru selesai di panen).
Yang lebih membuat terhenyak, mereka tidak keroyokan, tetapi duel alias satu melawan satu. Ada pula wasitnya  dan seorang yang mengabadikan dengan kamera dari telepon seluler serta ada aturan mainnya (juklak dan juknis yang tidak tertulis namun dipahami dan diketahui para pelaku).
Tentu saja, “acara-an” yang dilakukan oleh siswa dari empat sekolah yang masih mengenakan seragam sekolah tersebut, sempat membuat geger warga, para guru dan orang tua mereka. Hingga kejadian ini tercium oleh kepolisian (polsek setempat) untuk turun tangan dan menyelesaikannya.
Yang sangat memprihatinkan lagi, kejadian itu terjadi 2 hari menjelang UN tingkat SMP/MTs itu. Pelakunya terdiri dari beberapa siswa kelas 9/sembilan yang hendak melaksanakan UN dan adik kelasnya yaitu kelas 8/delapan.
Hal ini tentu semakin menambah panjang peristiwa dan tindakan kriminal di kalangan pelajar yang tentu saja kian memprihatinkan pada wajah pendidikan di negeri ini. Kejadian ini, tentu saja membuat kelabakan banyak pihak: guru, orang tua, masyarakat dan aparat terkait.
Ada beberapa pertanyaan yang mengusik benak saya. Siapa orang yang menjadi wasit dalan “acara-an” tersebut? Berdasarkan pengakuan para pelaku, mereka semua tidak tahu (atau sengaja menyembunyikan identitas si “wasit” tersebut. Bahkan sampai tulisan ini diturunkan, pihak berwajib dalam hal ini polisi, masih mencari “wasit” tersebut.
Saya jadi teringat percakapan saya beberapa waktu lalu dengan seorang guru yang mengajar di dua sekolah yang sering terlibat tawuran. Kebetulan dia mengajar di kedua sekolah tersebut (satu sekolah negeri, satu lagi sekolah swasta). Dia pernah mengatakan bahwa di kedua sekolah tersebut para siswa yang sering terlibat tawuran itu sering mengadakan semacam “audisi” bagi para juniornya untuk melanjutkan tradisi tawuran itu.
Apakah “acara-an” ini merupakan salah satu bentuk “audisi” tersebut? Apakah “wasit” dalam “acara-an” itu merupakan oknum pencarian generasi penerusnya? Jika benar demikian ini merupakan “PR” besar bagi semua pihak. Haruskah kita semua menutup mata dan telinga dengan hal ini.
Sampai kapan dunia pendidikan ini berkubang dalam kenistaan?



Cianjur, 9 Mei 2015

[ARTIKEL] OBOR TANPA BAHAN BAKAR

OBOR TANPA BAHAN BAKAR
Oleh: Dedi Saeful Anwar

Istilah pe-ha-pe bagi kalangan a-be-ge (baca: remaja) mungkin sudah tidak asing lagi. Sebuah Jargon yang pantas diberikan kepada seseorang yang suka memberikan harapan yang tidak pasti. Seperti itu pulalah  istilah yang tepat untuk Kemenag Kabupaten Cianjur saat ini.
Betapa tidak, lembaga pemerintah yang menaungi madrasah ini sampai berita ini diturunkan belum juga mau menurunkan dana tunjangan sertifikasi bagi setiap guru Non PNS er di bawah naungannya selama 8/delapan bulan, yaitu terhitung sejak September 2014 hingga April 2015.
Jumlah tunjangan yang perbulannya kurang dari satu juta lima ratus ribu rupiah (setelah dipotong ini dan itu). Jumlah angka yang tentu saja tidak mencukupi keperluan hidup seorang guru yang sudah memiliki tanggungan keluarga dalam satu bulan. Namun demikian, bagaimana pun juga para penerimanya tentu saja patut bersyukur. Karena menjadi guru sudah menjadi pilihan dan jalan hidup. Mendidik anak-anak Bumi Pertiwi ibarat memantik pelita dalam gelap.
Lantas bagaimana para pemantik pelita itu jika tidak diberi pasokan bahan bakar. Apakah sebuah obor akan menyala bila tidak diberi bahan bakar? Apakah sebuah tungku akan mengeluarkan api bila tidak diberi suluh? Apakah sebuah masakan akan matang di atas perapian bila kayu bakar yang menghasilkan api itu telat? Karena itu, peran bahan bakar atau suluh yang akan menghasilkan api tersebut sangat penting untuk keberlangsungan hidup manusia.
Demikian pula dengan tunjangan prosfesi seorang guru. Bagi seorang PNS bila tunjangan sertifiaksi itu telat mungkin masih ada cadangan untuk menopang kebutuhan sehari-harinya dari gaji bulanan. Lantas bagaimana dengan guru Non PNS er yang mengandalkan biaya hidup hariannya hanya megnandalkan dari tunjangan profesi (sertifikasi)? Sementara tunjangan itu tak kunjung diturunkan/disalurkan—bahkan hingga berbulan-bulan?
Masih mending bagi yang mengabdi di bawah sebuah yayasan yang sehat manajemen keuangannya. Artinya gaji bulanan dari yayasan itu lancar---walaupun jumlah angkanya tetap tak seberapa alias tak mencukupi.
Lalu, bagaimana kalau yayasan tersebut juga kehidupan organisasinya mengandalkan dari sang TUAN BOS? Sementara dana itu juga selalu macet dan tersendat. Ibarat setali tiga uang. Jangankan untuk biaya kesehatan, biaya rekreasi, membeli pakaian atau kebutuhan tambahan serta hal lainnya. Sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokok pun, para guru Non PNS er yang berada di bawah sebuah yayasan bukan makan nasi dan lauk-pauk. Namun kenyataan pahit yang ada. Mereka makan angin tiap hari, tiap minggu bahkan hingga berbulan-bulan.
Para pembuat kebijakan dalam hal tunjangan profesi guru Non PNS  di bawah naungan Kemenag Kabupaten Cianjur ini seperti tidak punya rasa empati. Mereka bukan hanya tidak sayang pada para guru Non PNS  dan keluarganya yang menantikan jumlah angka yang tidak seberapa itu. Tapi dengan jelas dan terang-terangan mereka tidak mendukung keberlangsungan ilmu pada peserta didik. Mengapa demikian? Kita simak beberapa  kisah berikut.
Pak Soleh (nama samaran) berkali-kali tidak masuk beberapa kali untuk mengajar di sebuah madrasah swasta. Padahal dia adalah seorang guru profesional! Profesional? Apa iya profesional? Dian memang guru profesional karena sudah bersertifikat. Dia sudah mengikuti PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Jelas dong dia seorang guru profesional. Hah?! Kalau profesional itu ‘gak mungkin meninggalkan kelas tanpa sebab dan seenaknya. Profesional itu idealnya menggunakan alat bantu pembelajaran yang memadai dan metode mengajarnya menarik saat di hadapan peserta didik. Masak iya seorang profesional bolos? Memangnya ke mana dia? Ternyata selidik punya selidik dia pergi ke sawah menjadi buruh tani. Dia mencangkul sawah Pak Haji yang baru saja dipanen dan pada musim hujan ini akan ditanami lagi. Karena dia berpikir bahwa upahnya lumayan untuk sedikit membeli beras. Sisanya untuk biaya jajan dua anaknya yang masih balita. Jadi dari pada mengajar di kelas yang sudah berbulan-bulan tanpa dibayar, lebih baik cari kerja yang uangnya langsung keterima.
Pak Zulkifli (juga nama samaran) sering mengeluhkan soal motornya. Motor tuanya belum diganti oli dan servis bulanan. Dua ban motornya sering kempes karena ban luarnya sudah gundul. Setiap hari dia berangkat menuju madrasah selalu melalui jalan berlubang dan berbatu. Batu-batu sebesar kepalan tangan di sana-sini. Belum lagi batu-batu kerikil yang berserakan juga. Hingga membuat ban motor tuanya bocor hingga robek. Dia sudah berkali-kali meminjam uang tabungan ke bendahara tabungan siswa untuk sekadar membeli satu hingga dua liter bensin yang sejak akhir 2014 terus mengalami kenaikan harga. Kenaikan bahan bakar tentu memicu kenaikan harga barang kebutuhan lainnya pula. Semakin tercekiklah Pak Zulkifli yang kini hutangnya sudah menumpuk. Sementara penghasilan tiap bulan sudah tak pernah diterima lagi. Kabar terakhir terdengar dia juga sering tidak memberikan bahan pelajaran di kelas. Kini dia berjualan. Dia juga (katanya) guru profesional!
Pak Anto, Pak Somad, Pak Junaedi dan bapak-bapak guru madrasah lainnya kini sudah semakin jarang terlihat batang hidungnya di dalam kelas. Semua mencari penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Sementara Kemenag Kabupaten Cianjur sudah berubah status menjadi lembaga pemberi pe-ha-pe. Uang tunjangan sertifikasi tak kunjung mengalir ke pipa-pipa rekening yang sudah kehilangan rasa simpati.
Benarkah Kemenag Kabupaten Cianjur sudah ikhlas dalam beramal seperti jelas terpampang dalam motto? Beramal melayani hak para guru Non PNS  yang (katanya) sudah bersertifikat dan disebut profesional? Apakah Kemenag Cianjur amanah dalam menunaikan tugasnya?
Pantaskah guru Non PNS  yang sudah bersertifikasi disebut guru profesional kalau tidak hadir di kelas. Ingat, mereka tidak hadir karena tak bersuluh. Karena mereka sudah berubah wujud. Mereka adalah obor yang tak diberi bahan bakar. Mereka adalah perapian yang tak diberi kayu bakar. []


Cianjur, 20 Mei 2015
Memperingati hari Kebangkitan Nasional

Berita terkait:


[PUISI] DI KOLONG LANGIT KOTA KEMBANG

DI KOLONG LANGIT KOTA KEMBANG
Oleh: Dedi Saeful Anwar

Di kolong langit Kota Kembang
Kupinang kunang-kunang
Bersarang di kantung kenang

----------

Kota Kembang yang tembang selalu hadirkan bintang-bintang. Tembang yang menjadi kenangan. Kota yang menyimpan berjuta harap di relung para pendatang. Kini kudatang (lagi) membawa segumpal semangat dalam ikatan silaturahim kental. Bertekad mengikat semangat dalam bendera dakwah bil qolam.

Kami adalah FAMili yang berlayar di sampan literasi, demi anak negeri yang sedang mengejar matahari. Matahari yang selalu menepati janji pada kilau embun di atas dedaun pagi.
Kami tidak sedang bermimpi, tetapi kami menyulam imaji. Berharap imaji menjadi pelangi yang memanjakan Bumi Pertiwi. Kami berdiri di bawah langit Kota Kembang. Kota molek yang sedang bersolek. Kami menyimpan harap di atas kubah demi terus mengasah mata pena. Kami menakar bara pada menara kembar yang mencakar langit, agar senantiasa dapat menebar inspirasi dalam simpul literasi.

------------

Di kolong langit Kota Kembang
Tembang menuju ranting terang
Kujelang selendang petang

dc


Bandung, 17 Mei 2015

Selasa, 19 Mei 2015

[ARTIKEL] GERIMIS MENGIRIS TANPA PERMISI

GERIMIS MENGIRIS TANPA PERMISI

Oleh: Dedi Saeful Anwar

Melepas lelah dari sebuah perjalanan yang berjarak cukup jauh memang layak dinikmati di bibir senja. Berteman secangkir teh hangat buatan istri tercinta. Kali ini sebuah buku tidak menemaniku saat melepas kepergian senja. Biasanya kunikmati merah jingga senja di teras sambil berkelana di lembah buku.

Sebuah channel televisi akhirnya menjadi teman pelepas lelah. Tetapi bukannya sebuah relaksasi yang hadir, malah rerimbun gerimis mengiris-iris. Sangat pilu. Betapa miris saat menyaksikan berita terdamparnya puluhan orang etnis Rohingya di tanah Rencong, Aceh.

Menurut pemberitaan televisi tersebut, mereka telah berbulan-bulan terombang-ambing di tengah lautan. Mereka adalah orang-orang yang bernasib tidak beruntung. Mereka adalah golongan yang dibuang dan tidak ada yang mengakui keberadannya.

Beruntung nasib mereka saat terdampar di bumi Serambi Mekah. Pemerintah setempat menolong demi kemanusiaan, demi rasa persaudaraan pada sesamanya. Sangat tersentuh dengan pernyataan Wakil Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam yang mengatakan bahwa pihaknya memberikan pertolongan kepada mereka ---etnis muslim yang diusir dari negera Myanmar--- hanya karena mereka saudara sesama muslim.

Terlepas dari tiada satu pun negara yang mau melindungi mereka, namun pemberitaan hal ini sungguh telah menghadirkan embun di tengah hati yang gurun. Aku bukanlah pengamat politik, dan tidak bermaksud menyudutkan atau berpihak pada siapa pun. Aku hanya sebutir debu yang ingin mengembuskan isi hati. Hati yang telah diketuk gerimis tanpa permisi.

Semoga Allah Swt senantiasa melindungi Muslim Rohingya. Amin.



Cianjur, 18 Mei 2015

ARTIKEL: CATATAN RINGAN DARI KOPDAR III FAM JABAR-BANTEN


CATATAN RINGAN DARI KOPDAR III FAM JABAR-BANTEN
Oleh: Dedi Saeful Anwar (FAM 1196U)

Alhamdulillah, akhirnya pertemuan (Kopdar) ke-Tiga, FAM Wilayah Jawa Barat dan Banten bisa terlaksana. Meskipun sebelumnya jajaran Pengurus menghadapi beberapa kendala. Dalam program kerja, sedianya akan dilaksanakan pada April 2015 lalu. Namun disebabkan oleh satu dan lain hal, kegiatan ini baru bisa terwujud kemarin, Minggu, 17 Mei 2015.

Selain ada benturan jadwal dengan kegiatan rutin para pengurus, pada April 2015 lalu juga bertepatan dengan perhelatan akbar yang digelar di Kota Bandung itu sendiri yang bertepatan dengan momentum Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA). Dengan demikian secara otomatis kegiatan Kopdar ke-3 FAM Wil. Jabar-Banten ini mendapat pengunduran jadwal

Tentunya merupakan satu hal yang tidak mudah mengumpulkan orang-orang dalam waktu yang bersamaan, apalagi keberadaan orang-orang itu berada di wilayah yang cukup luas. Selain masing-masing memiliki kegiatan rutin yang berbeda, jarak tempuh menuju tempat pertemuan yang cukup jauh juga tentunya menjadi pertimbangan yang tidak kalah pentingnya. Hanya satu yang dapat mempertemukan kami, yaitu semangat aishiteru menulis.

Untuk ketiga kalinya, FAMili (sebutan untuk anggota FAM) di Wilayah Jabar-Banten ini mengadakan pertemuan dengan mengambil lokasi di area sekitar Masjid Raya Bandung/Alun—alun ini. Namun, ada hal yang berbeda dalam Kopdar yang ke-3 kali ini. Selain membahas berbagai program yang sudah ditentukan pada saat Kopdar ke-2, pada pertemuan kali ni kami mengadakan sesi menulis kilat.

Dalam sesi ini masing-masing peserta pertemuan diberikan kertas satu lembar oleh pengurus/panitia, kemudian masing-masing peserta menuliskan sebuah karya tulis bebas. Bisa fiksi atau non fiksi. Peserta pertemuan diberikan waktu sekitar 15 menit tanpa menuliskan identitas. Peserta cukup mengingat nomor yang sudah tertera di bagian atas kertas yang disediakan.

Setelah selesai dan waktu yang ditentukan usai, hasil karya tulis tersebut kemudian dikumpulkan di tengah lingkaran. Selanjutnya semua pesera menilai hasil karya para peserta, kecuali hasil karya sendiri tidak boleh dinilai oleh penulis tersebut.

Adapun skor penilaian yang diberikan berada dalam rentang angka 1 hingga 3. Kemudian, bagi peserta yang mendapatkan skor tertinggi berhak menerima door-prize dari panitia/pengurus. Tentu saja hal ini menambah kehangatan suasana pertemuan. Karena bagaimana pun juga menulis dalam waktu yang singkat itu menghadirkan adrenalin tersendiri.

Dari sesi menulis cepat ini akhirnya yang mendapat nilai tertinggi adalah Santi Sumiati/De Minnie (Cianjur) dengan skor 22, kemudian yang mendapat nilai terbesar ke-dua dengan skor 21 ada dua orang peserta yang mendapat nilai sama, yaitu Utep Sutiana (Garut) dan Wildan Fuady (Bandung). Dengan demikian ketiganya berhak mendapatkan masing-masing satu buah door-prize. Untuk hasil karya tulis singkat dari para peserta pertemuan (kopdar) ke-3 ini dapat di lihat pada postingan terpisah.

Demikian catatan ringan dari Kopdar ke-3 FAM Wilayah Jabar-Banten kali ini. semoga semangat dakwal bil qolam akan tetap menyala sehingga menginspirasi anak negeri. Sampai jumpa pada Kopdar selanjutnya.

Salam santun, salam karya!

Bandung, 18 Mei 2015

Senin, 02 Maret 2015

PENGUMUMAN 300 NOMINATOR dan 200 PUISI YANG DIBUKUKAN HASIL SAYEMBARA CIPTA PUISI TINGKAT NASIONAL 2015 BERTEMA”AKU BANGGA JADI ORANG INDONESIA”


PENGUMUMAN 200 PUISI YANG DIBUKUKAN DARI SAYEMBARA CIPTA PUISI TINGKAT NASIONAL 2015 BERTEMA ”AKU BANGGA JADI ORANG INDONESIA”

Ke-200 naskah ini menyisihkan nominator lainnya dari total naskah 1718 puisi yang masuk ke meja dewan juri “Tim FAM Indonesia”. Berikut nama peserta dan asal kota beserta judul puisi terpilih (nama diurutkan berdasarkan abjad A-Z).
1. A. Rosidi, Sumenep (Hikayat Sebuah Negeri)
2. A. Warits Rovi, Sumenep (Di Tengah-Tengah Pengantin Sepasang Benua)
3. Abdul Aziz Pane, Yogyakarta (Negeri Kita, Negeri Muara Harapan)
4. Abdurrahman Ahmad, Karang Anyar (Bukan Longsor Abadi)
5. Acet Asrival, Padang (Negeri dalam Mata)
6. Adammif Assobirin, Jepara (Dimana Kita Bisa Sambil Melihat Lintang Kemukus)
7. Ade Syaputra, Medan (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
8. Ade Ubaidil, Cilegon (Kunang-Kunang P(e)ribumi)
9. Adi Prasatyo, Tangerang (Harapan)
10. Aditya Novitasari, Surabaya (Adalah Anak Indonesia)
11. Aditya Zulmi Rahmawan, Mojokerto (Indonesia Bagian dari Nyawaku)
12. Agung Setiawan, Banjarmasin (Dialektika Budi)
13. Agus Salim, Madura (Senandika Merah Putih 1)
14. Ahmad Ijazi, Pekanbaru (Pada Batas Tualang)
15. Ahmad Musabbih, Jakarta (Tembang Kampung)
16. Ajeng Mawaddah Puto, Gorontalo (Ini Budi)
17. Al-Fian Dippahatang, Makassar (Senandika)
18. Alfa Anisa, Blitar (Membaca Cuplikan De Javaan)
19. Ali Ridho, Surabaya (Negeri Indah dan Kaya)
20. Alias, Kendari (Mekar Menyatu)
21. Alvara Khyzu, Malaysia (Bukan dari Golongan Mereka)
22. Andi Jamaludin, Tanah Bumbu (Bah)
23. Angki Muttaqien, Yogyakarta (Kaya, Indonesia Raya)
24. Annisa Puspa Kirana, Bogor (Sungguh Aku Tak Malu Jadi Orang Indonesia)
25. Aqib Wisnu Priatmojo, Magelang (Soekarno 1930)
26. Arif Budiman, Sleman (Syalala Orkestra Indonesia)
27. Bahiyatul Musfaidah, Ciputat (Senja di Pantai Indonesia)
28. Beben T, Palembang (Asa dalam Bangsa)
29. Budi Setiawan, Temanggung (Seperti Adam yang Lahir di Negeri Ini, Indonesia)
30. Cempaka Lestari Arif, Depok (Negeri Ramu Jamu, Berbangga Karena Keindahan)
31. D.A Akhyar, Banyuasin (Semua Ada di Negeriku)
32. Dedi Saeful Anwar, Cianjur (Zikir Negeri Dua Per Tiga Air)
33. Deny Pangga, Lubuklinggau (Sejuta Hikayat)
34. Dewi Anggun Pratiwi, Cirebon (Kaum Macan Asia)
35. Doni Prasetyo, Semarang (Dibumbung ke Udara)
36. Drajat Adi Cahyono, Salatiga (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia)
37. Eni Puspita Sari, Palembang (Senandung Khatulistiwa)
38. Era Sofiyah, ? (Karena Namaku Bukan Malin Kundang, Mak)
39. Ervina Puspita Sari, Kebumen (Salmon)
40. Euis Sandri Meilawati, Bandung (Indonesia Surga Dunia)
41. Eva Nur Aprillail, Tangerang (Bangga Jadi Orang indonesia)
42. Eva Juli Kartina Panjaitan, Labuhan Batu (Tanah Pusaka)
43. Evelyn N, Surabaya (Jangan Terkoyak, Bangsaku)
44. Fabia Yolana Jeni, Lampung (Kaulah Negeri Atlantis)
45. Faidi Rizal Alief, Sumenep (Sebuah Negeri Bernama Indonesia Raya)
46. Fajrus Shiddiq, Malang (Wajah-Wajah Negeri di Pemukiman)
47. Fania Handiyani S, Surabaya (Aku Panggil Kau Negeri Surga, Indonesia)
48. Faradiba Desy Aulia, Semarang (Asam Manis Indonesia)
49. Farihatun Nafiah, Jombang (Seribu Warna pada Tanah Beta)
50. Faruk Abdurrahman, Jakarta (Indonesia Sampai Mati)
51. Fatah Abdul Wahab, Jakarta (Hanya di Indonesia)
52. Febry Salsinha, Yogyakarta (Rahim Pertiwi)
53. Fina Lanahdiana, Kendal (Melukis Perihal Ikhtisar)
54. Firda Rastia, Banten (Kelabu)
55. Fita Setiyawan, Mojokerto (Pada Negeri Sanskerta)
56. Fitri Wijaya, Padang (Sajak Seorang Petani)
57. Grace Sianturi, Jakarta (Si Gale-Gale)
58. Guy Le Fleur, Bengkalis (Rindu dalam Selimut Khatulistiwa)
59. Henydria Dwi Adiningtyas, Sidoarjo (Gadis Kecil Simpang Siur)
60. Herdian Armandhani, Denpasar (Negeri Warisan)
61. Herdiansyah Amran, Maroko (Kisah Negeri Bertuah di Negeri Senja)
62. Hermawan, Martapura (Apakah Ini Indonesia)
63. Heru Patria, Blitar (Lagu Kita Masih Sama)
64. Herwit Daya Tani, Jakarta (Wasiat Kepada Putri Seorang Pejuang)
65. Hilman Mulya Nugraha, Bandung (Tak Menyerah untuk Bangsa)
66. Hisam Rosidin, Surakarta (Pengabdian Diri)
67. Hotmazmuloh, Sibolga (Segumpal Tanah Surga)
68. Husna Qurrota Ayunina, Surakarta (Merdeka)
69. Ibe S. Palogai, Makassar (Negara yang Televisi)
70. Ichwanussofa, Mataram (Makrifat Sang Saka)
71. Iin Muawanah, Pasuruan (Menyulam Wajah Garuda)
72. Imam Solikhi, Ponorogo (Seorang Bapak yang Mengajari Anaknya )
73. Inasshabihah, Tangerang (Buddy, Ini Indonesia)
74. Intan Puspita Dewi, Jakarta (Jiwa-Jiwa Penuh Rahmat)
75. Irfan Adman Deppaindo, Mamuju (Indonesiaku Tersenyum)
76. Irfan Fauzi, Tegal (Ayat-Ayat Negeriku)
77. Irfan Firman, Bandung (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia 1)
78. Istiqomah Sari Kumarawati, Yogyakarta (Namaku Indonesia)
79. Ivone Prayogo, Jakarta (Dari dalam Selimut Ruang Bawah Tanah)
80. Iyaii Syafrie, Deli Serdang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
81. Jaka Dwi Cahyo, Kerinci (Pelangi Pertiwi)
82. Joni Iskandar, Bogor (Banggaku dalam Indonesia)
83. Kaletus Marselinus, Lembata (Kita Tercabik Karena Keakuan)
84. Kamil Dayasawa, Yogyakarta (Hikayat Pohon)
85. Kazuhana El Ratna Mida, Jepara (Rasa Bangga)
86. Ken Hanggara, Surabaya (Kembali Indonesia)
87. Khodijah, Tangerang (Aku Cinta Produk Indonesia)
88. Kinanthi Anggraini, Garut (Perihal Runcingnya Kebanggaan pada Sebilah Tombak Kesatuan)
89. Komang Sora Riyanti, Ciamis (Lantunan Sunyi)
90. Kukuh Septio Aji, Kudus (Pukul 06.09 WIB)
91. Lasinta Ari Nendra Wibawa, Garut (Kepada Negeri yang Menawarkan Segala Kemungkinan)
92. Lia Zaenab Zee, Makassar (Kisah Degup Tersetia)
93. Lina Latifah, Bandung (Keajaiban di Negeri Biji)
94. Luqyana Dahlia, Cirebon (Negeri Merdeka, Kataku)
95. M. Ikhsan, Medan (Doa untuknya)
96. M. Nadhirin, Riau (Kalian yang Bertanya)
97. M. Rinci Taqwa, Blitar (Benih Indonesia)
98. M. Syamsul Khanif, Kendal (Kukibarkan Merah Putih di Puncak Merbabu)
99. M. Zaini, Martapura (Anak Pernikahan Pulau)
100. Manusia Perahu Sudianto, Sumenep (Alegori Marbot Masjid)
101. Mar’atul Fitriyah Annahwiyah, Madura (Teduh di Ibu Pertiwi)
102. Margono, Klaten (Khasanah Maha Karya)
103. Marlina, Jakarta (Negeriku Jiwaku)
104. Maulana Ihsan, Pasaman (Cerita, Harapan, Keindahan, Kebahagiaan, Kesedihan)
105. Maulana Ihsan Ghiffari Julistyan, Probolinggo (Sajak Secangkir Teh)
106. Maulida Ramadhai Khairunnisa, Bekasi (Indonesia Hidup Abadi)
107. Mawardah, Medan (Tanah Ini Punya Sejarah)
108. Mega Leoni Pane, Medan (Kudengar dan Kulihat Sebuah Rumah)
109. Megawati Nasehatul Aminati, Ponorogo (Coba Kulihat)
110. Mei Putra Daya, Gunungsitoli (Aku dan Bangsaku)
111. Meidy Ayu, Depok (Gebyar-Gebyar)
112. Melia Roza, Pasaman (Bangga dalam Cerita)
113. Moh. Gufron Cholid, Madura (Anugerah yang Tak Pernah Tuntas Kau Gali)
114. Moh. Miftahul Ainin Najib, Jember (Ladang Suburmu Malah Kau Tinggalkan)
115. Moh. Wahyu Syafi’ul, Lamongan (Semua Meniru Indonesia)
116. Miftahul Jannah, Depok (Takkan Kujual Cinta)
117. Mohammad Saifullah, Kediri (Cahaya Khatulistiwa)
118. Muchammad Miftachul Ulum, Jombang (Cinta di Balik Selimut)
119. Muhamad Mursyid Ashari, Klaten (Doa untuk Ibu)
120. Muhammad Rian Azzam Fakrullah, Sukabumi (Aku Ingin Menulis Sajak dengan Namamu)
121. Muhammad Shodiq, Banyuwangi (Aku Cinta Indonesia)
122. Musyfiq, Sumenep (Di Penghujung Tahun yang Menua)
123. Nada Indra Puspitasari, Bekasi (Belum Kuberi Judul Karena Bingung)
124. Nadya Ahda, Cilacap (Saya Pelancong Indonesia)
125. Nengah Okta Yuliani, Lampung (Senandung Senja untuk Indonesia)
126. Nia Rizqih, Bogor (Aku dan Mereka di Indonesia)
127. Nisa Nurjannah, Bandung (Tanah Air Beta)
128. Nissa Ershanti, Yogyakarta (Gelandangan di Negeri Sendiri)
129. Nopitri Wahyuni, Lampung (Renaisans Kedua)
130. Nova, Payakumbuh (Aku Mencintai Ketidak Sempurnaanmu)
131. Novita Sari Manurung, Medan (Kota Seribu Wajah)
132. Nur Salam, Sumenep (Sajak Seorang Ibu)
133. Nurfah Maulia Simatupang, Tangerang (Hidup dan Mati untuk Bumi Pertiwi)
134. Nurifa, Padang (Sedikit Ulasan Tentang Negeriku)
135. Nurlaila Novliza, Lampung (Indonesia In Love)
136. Nursita Afifah, Kediri (Kopi Bukan Mimpi)
137. Nurul Firdiani, Yogyakarta (Aku Hanya Rakyat Biasa)
138. Obi Samhudi, Pontianak (Memoar Anak Manusia)
139. Odi Yanuwar, Indramayu (Terima Kasih Pertiwi)
140. Prihatin Suryaningtyas, Surakarta (Bukan Indonesia)
141. Pusvita Defi, Medan (Suara Rakyat)
142. Putri Narita Pangestuti, Sidoarjo (Mentari di Kandungku)
143. Qonita Hafizhah, Bogor (Semburat Cinta Veteran)
144. Qurrota A’yun, Yogyakarta (Cinta dalam Cepuk)
145. R. Indra Gunawan, Surabaya (Bangga Negeriku)
146. Rahmat Iman J.E, Malang (Durhaka Anak Negeri pada Ibu Pertiwi)
147. Rahmi Intan Jeyhan, Padangpanjang (Selimut)
148. Ratna Ning, Subang (Asa Kota Cinta)
149. Renny Putri Utami, Palembang (Antikuari)
150. Rezqie Muhammad Al Fajar Atmanegara, Banjarmasin (Anak-Anak Pulau, Orang Tua Nusantara)
151. Rian Gunawan, Tangerang (Tanah Airku)
152. Rinaldi Ikhsan Nasrulloh, Depok (Negeri Timur Jauh)
153. Rio Rinaldi, Padang (Memoar Sang Pengobar)
154. Rita Deswita, Padang (Bukan Negeri Dongeng)
155. Rita Sari, Padang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
156. Riyon Fidwar, Padang (Sajak Anak-Anak Indonesia)
157. Riska Awalia Lestari, Bulukumba (Rumahku, Indonesia)
158. Rizka Lalili Komariyah, Surabaya (Namanya Indonesia)
159. Rizkan, Padang (Cinta Indonesia yang Kekal)
160. Riski Angraeni, Surabaya (Bumiku Indonesia)
161. Rizki Febrian Aldriansyah, Bandung (Kami Rakyat Indonesia)
162. Roland Nooh, Manado (Indonesia yang Terbaik)
163. Rony Ucok Cahyadi, Bekasi (Negeri Tanpa Dongeng)
164. Rosmalia Nur Hidayati, Purworejo (Merah Putih Indonesia)
165. Rudi Hermawandi, Bandung (Aku adalah Dirimu Oh Indonesiaku)
166. Rudy Syalam, Turki (Bisikan Anak Nusantara)
167. Sahanara, Jambi (Serenada Pinisi di Tepian Losari)
168. Salma Fauziah A.S, Depok (Selembar Balasan)
169. Samuel Manurung, Medan (Tanah Air Kita Indonesia Teguh)
170. Sintha Harity, Cirebon (Lagu Si Tina)
171. Siska Wulandari, Padang (Pesan Leluhur Kami)
172. Siti Atitah, Magelang (Salam Hangat)
173. Siti Cholifah, Sidoarjo (Daun)
174. Siti Kholifah, Gresik (Ujung Pelosok Negeriku Indonesia)
175. Siti Sarah, Karawang (Surat Cinta untuk Pertiwi)
176. Siti Zakiyatul Khamidah, Brebes (Yang Ku Bangun di Gelap Bayangmu)
177. Sri Surani, Surakarta (Buktiku)
178. Suci Rizka Welza Putri, Padang (Cerita Sore Indonesia)
179. Sugeng Cahyadi, Purworejo (Fatwa Mulut Dunia)
180. Suhindro Wibisono, ? (Telanjangi Dewan Penipu Rakyat)
181. Syifa Diatmika, Batang (Catatan Indonesia)
182. Syafina Amorita Candini, Palembang (Tanah yang Kutolak Lupa)
183. Syarifullah, Sumenep (Kabar dari Pesisir: Doa Pelaut di Bulan Purnama)
184. Tri Adnan, Agam (Perjalanan)
185. Tri Hanita, Yogyakarta (Bunga Bangsa)
186. Tyas Mekar Sari, Sidoarjo (Rindu Indonesia)
187. Ully Krismanti, Sukoharjo (Anak Sungai)
188. Vingki Hardiyanti, Tangerang (Langit Indonesia)
189. Wenti Liana, Ogan Ilir (Cinta Beta)
190. Wiekerna Malibra, Bekasi (Mengenang Negeri Seribu Pelangi)
191. Winda Efanur FS, Yogyakarta (Sabda Sepatu Berlubang)
192. Wiwin SA, Kediri (Senyum Pertiwi)
193. Yudi Muchtar, Riau (Ceritera Merah Putih)
194. Yudi Rahmat, Cilegon (Indonesia Negeriku)
195. Yudik Wergiyanto, Situbondo (Negeri Senja)
196. Yuni Suryani, Bandung (Bilik Bambu Indonesiaku)
197. Yulia Erfiriza, Payakumbuh (Renungan Ibu)
198. Yuniske Prastika, Gorontalo (Mereka yang Terlupa)
199. Zahratun Nisa, Tabalong (Indonesiaku)
200. Zammil Hamzah, Sumenep (Orang Indonesia)
SELAMAT KEPADA 200 PESERTA YANG KARYANYA DIBUKUKAN 

Sumber terkait:
https://www.facebook.com/groups/forumaishiterumenulis/permalink/888261937890619/


=================================================================


PENGUMUMAN 300 NOMINATOR SAYEMBARA CIPTA PUISI TINGKAT NASIONAL 2015 BERTEMA”AKU BANGGA JADI ORANG INDONESIA”


FAM Indonesia mengumumkan 300 Nominator dari total 1718 (seribu tujuh ratus delapan belas) naskah yang masuk ke email FAM Indonesia. Tim juri bekerja keras menyeleksi puisi-puisi terbaik yang berpeluang menang.
Berikut nama-nama peserta dan judul puisi yang masuk di tahapan 300 Nominator:

1. A. Rosidi, Sumenep (Hikayat Sebuah Negeri)
2. A. Warits Rovi, Sumenep (Di Tengah-Tengah Pengantin Sepasang Benua)
3. Abdul Aziz Pane, Yogyakarta (Negeri Kita, Negeri Muara Harapan)
4. Abdurrahman Ahmad, Karang Anyar (Bukan Longsor Abadi)
5. Acet Asrival, Padang (Negeri dalam Mata)
6. Adammif Assobirin, Jepara (Dimana Kita Bisa Sambil Melihat Lintang Kemukus)
7. Ade Syaputra, Medan (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
8. Ade Ubaidil, Cilegon (Kunang-Kunang P(e)ribumi)
9. Adi Prasatyo, Tangerang (Batang Terakhir)
10. Adi Prasatyo, Tangerang (Harapan)
11. Aditya Novitasari, Surabaya (Adalah Anak Indonesia)
12. Aditya Zulmi Rahmawan, Mojokerto (Indonesia Bagian dari Nyawaku)
13. Aditya Zulmi Rahmawan, Mojokerto (Indonesia Sejati, Tak Ada Keraguan Padanya)
14. Agung Setiawan, Banjarmasin (Dialektika Budi)
15. Agus Salim, Madura (Senandika Merah Putih 1)
16. Agus Salim, Madura (Senandika Merah Putih 2)
17. Agus Widodo, Semarang (Generasi Setengah Bangga)
18. Agusrini Khairunnida, Martapura (Negeri Seribu Sesuatu)
19. Ahmad Ijazi H, Pekanbaru (Pada Batas Tualang)
20. Ahmad Musabbih, Jakarta (Lagu Sebatang Tebu)
21. Ahmad Musabbih, Jakarta (Tembang Kampung
22. Ahmad Sanusi, Sumenep (Kembalikan Tanahku)
23. Ai Yti Kartikawati, Sumedang (Masih Ada Anak Negeri Bersamamu)
24. Ainasofi Nastiti, Semarang (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia)
25. Ainul Fitriyah, Lamongan (Energi, Syurganya Indonesia)
26. Ainun Mawa’dah Noor, Hulu Sungai (Heroin Dangdut)
27. Aisyah Nur S, Sukoharjo (Seperti Karang)
28. Ajeng Mawaddah Puto, Gorontalo (Ini Budi)
29. Akadhita RD, Yogyakarta (Rumah)
30. Al-Fian Dippahatang, Makassar (Peta)
31. Al-Fian Dippahatang, Makassar (Senandika)
32. Alda Winona Zahra, Semarang (Ini Indonesia, Kawan)
33. Alfa Anisa, Blitar (Membaca Cuplikan De Javaan)
34. Ali Ridho, Surabaya (Negeri Indah dan Kaya)
35. Alias, Kendari (Mekar Menyatu)
36. Alvara Khyzu, Malaysia (Bukan dari Golongan Mereka)
37. Alvia Anggreini Setyaningrum, Lumajang (Jaya Zamrudku)
38. Amanda Tiara Averousi, Surabaya (Rumput Tetangga)
39. Amir Rifani, Pontianak (Biarlah Aku Tak Dianggap)
40. Andi Alifia Fara Dhiba, Makassar (Sipakatau Sipakainge Sipakalebbi)
41. Andi Jamaludin, Tanah Bumbu (Bah)
42. Angki Muttaqien, Yogyakarta (Kaya, Indonesia Raya)
43. Anisa Rahma, Pekanbaru (Surga Dunia Pembeda Kasta)
44. Annisa Puspa Kirana, Bogor (Sungguh Aku Tak Malu Jadi Orang Indonesia)
45. Anita Putri Pratama, Sumedang (Buka Mata, Buka Hati)
46. Anwarsyah, Bukittinggi (Satu Menjadi Kehidupan)
47. April Hamaro, Watampone (Kita)
48. Aqib Wisnu Priatmojo, Magelang (Soekarno 1930)
49. Arif Budiman, Sleman (Syalala Orkestra Indonesia)
50. Arif Widiatmoko, Sidoarjo (Negaraku adalah Poros Maritim Dunia yang Melegenda)
51. Arifatul Bahirah, Tangerang (Indonesia Tuan)
52. Asmara Dewo, Bukittinggi (Bocah Bertelanjang Dada)
53. Atep Taupik, Bandung (Buka Mata, Lihat Indonesia)
54. Azmiati Lathifah, Bantul (Merah Putih)
55. Bagus Alif Firmansyah, Gresik (Oepoli, di Suatu Sore)
56. Bagus Alif Firmansyah, Gresik (Script Tanpa Petik)
57. Bahiyatul Musfaidah, Ciputat (Senja di Pantai Indonesia)
58. Beben T, Palembang (Asa dalam Bangsa)
59. Bennedicta Vania Tandiono, Bengkulu (Bangsa yang Besar)
60. Beni Purna Indarta, Kebumen (Bumi Cinta)
61. Beni Purna Indarta, Kebumen (Cinta Platonik untuk Indonesia)
62. Beta Jati Rahayu, Sleman (Lihat, Pandanglah, Keindahan Kemesraan)
63. Bilqis Fitria Salsabiela, Cirebon (Hidup di Indonesia)
64. Bintang Annisa Bagustari, Padang (Aku, Mereka, Indonesia)
65. Budi Setiawan, Temanggung (Seperti Adam yang Lahir di Negeri Ini, Indonesia)
66. Budianto Sutrisno, Jakarta (Kau Tetap Indonesiaku)
67. Cahyo Prayogo, Jakarta (Kita Indonesia)
68. Cempaka Lestari Arif, Depok (Negeri Ramu Jamu, Berbangga Karena Keindahan)
69. Chania Widya, Malang (Inilah Negeriku)
70. D.A Akhyar, Banyuasin (Berdiri di Negeri Berjuta Warisan)
71. D.A Akhyar, Banyuasin (Semua Ada di Negeriku)
72. Daden Arga Bisma Ginanjar, Cianjur (Pemilik Jusedbu)
73. Dani Candra Dinata, Lampung (Indonesia dalam Dekap Kami, Pemuda)
74. Daniel Kalunung Dwi Susanto, Banjarbaru (Tak Ada Salahnya Jadi Orang Indonesia)
75. Dedi Saeful Anwar, Cianjur (Zikir Negeri Dua Per Tiga Air)
76. Deian Muhammad, Kuningan (Langkah Negeri)
77. Deny Pangga, Lubuklinggau (Sejuta Hikayat)
78. Dessy Riska Watiningsih, Boyolali (Negeri Seribu Bayangan)
79. Desty D. Rahayu, Bandung (Indonesia Menantikanmu)
80. Devan Nolin, Lampung (5 Menit 35 Detik)
81. Devi Rahayu Agustin, Kebumen (Harapan Sang Renta)
82. Devy Diany, Padang (Sebatang Kapur Putih)
83. Dewi Anggun Pratiwi, Cirebon (Kaum Macan Asia)
84. Dewi Rosaria Indah, Malang (Menapaki Jejak Negeriku)
85. Doni Alfajri, Agam (Pelangi Indonesiaku)
86. Doni Prasetyo, Semarang (Dibumbung ke Udara)
87. Drajat Adi Cahyono, Salatiga (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia)
88. Eko Wiyanto, Surakarta (Negeri Kita)
89. Elia Awaliyah, Brebes (Menggantung Mimpi di Langit Khatulistiwa)
90. Ema Mahdiyah, Pandeglang (Air Mata Air, Indonesiaku)
91. Eni Puspita Sari, Palembang (Senandung Khatulistiwa)
92. Era Sofiyah, ? (Karena Namaku Bukan Malin Kundang, Mak)
93. Erna Susilowati, Kudus (Negeri Kita Ladang Amal Kita)
94. Ervina Puspita Sari, Kebumen (Salmon)
95. Euis Sandri Meilawati, Bandung (Indonesia Surga Dunia)
96. Eva Nur Aprillail, Tangerang (Bangga Jadi Orang indonesia)
97. Eva Juli Kartina Panjaitan, Labuhan Batu (Tanah Pusaka)
98. Evelyn N, Surabaya (Jangan Terkoyak, Bangsaku)
99. Exciyona Adistika, Bukittinggi (Suara Hati untuk Negeriku)
100. Fabia Yolana Jeni, Lampung (Kaulah Negeri Atlantis)
101. Faidi Rizal Alief, Sumenep (Denyut Kenangan)
102. Faidi Rizal Alief, Sumenep (Sebuah Negeri Bernama Indonesia Raya)
103. Fajrus Shiddiq, Malang (Aku Begitu Sumringah)
104. Fajrus Shiddiq, Malang (Wajah-Wajah Negeri di Pemukiman)
105. Fania Handiyani S, Surabaya (Aku dengan Sajak Tentangmu)
106. Fania Handiyani S, Surabaya (Aku Panggil Kau Negeri Surga, Indonesia)
107. Faradiba Desy Aulia, Semarang (Asam Manis Indonesia)
108. Farihatun Nafiah, Jombang (Seribu Warna pada Tanah Beta)
109. Faruk Abdurrahman, Jakarta (Indonesia Sampai Mati)
110. Fatah Abdul Wahab, Jakarta (Hanya di Indonesia)
111. Febry Salsinha, Yogyakarta (Rahim Pertiwi)
112. Fina Lanahdiana, Kendal (Melukis Perihal Ikhtisar)
113. Firda Rastia, Banten (Kelabu)
114. Fita Setiyawan, Mojokerto (Pada Negeri Sanskerta)
115. Fitri Wijaya, Padang (Sajak Seorang Petani)
116. Grace Sianturi, Jakarta (Si Gale-Gale)
117. Guy Le Fleur, Bengkalis (Rindu dalam Selimut Khatulistiwa)
118. Henydria Dwi Adiningtyas, Sidoarjo (Gadis Kecil Simpang Siur)
119. Herdian Armandhani, Denpasar (Negeri Warisan)
120. Herdiansyah Amran, Maroko (Kisah Negeri Bertuah di Negeri Senja)
121. Hermawan, Martapura (Apakah Ini Indonesia)
122. Heru Patria, Blitar (Lagu Kita Masih Sama)
123. Herwit Daya Tani, Jakarta (Wasiat Kepada Putri Seorang Pejuang)
124. Hilman Mulya Nugraha, Bandung (Tak Menyerah untuk Bangsa)
125. Hisam Rosidin, Surakarta (Pengabdian Diri)
126. Hotmazmuloh, Sibolga (Segumpal Tanah Surga)
127. Husna Qurrota Ayunina, Surakarta (Merdeka)
128. Ibe S. Palogai, Makassar (Negara yang Televisi)
129. Ibe S. Palogai, Makassar (Mitos Kota Kotak-Kotak)
130. Ichwanussofa, Mataram (Makrifat Sang Saka)
131. Iin Muawanah, Pasuruan (Menyulam Wajah Garuda)
132. Imam Solikhi, Ponorogo (Seluruhmu)
133. Imam Solikhi, Ponorogo (Seorang Bapak yang Mengajari Anaknya )
134. Inasshabihah, Tangerang (Buddy, Ini Indonesia)
135. Intan Puspita Dewi, Jakarta (Jiwa-Jiwa Penuh Rahmat)
136. Irfan Adman Deppaindo, Mamuju (Indonesiaku Tersenyum)
137. Irfan Fauzi, Tegal (Ayat-Ayat Negeriku)
138. Irfan Firman, Bandung (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia 1)
139. Istiqomah Sari Kumarawati, Yogyakarta (Aku Jatuh Cinta, Lagi)
140. Istiqomah Sari Kumarawati, Yogyakarta (Namaku Indonesia)
141. Ivone Prayogo, Jakarta (Dari dalam Selimut Ruang Bawah Tanah)
142. Iyaii Syafrie, Deli Serdang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
143. Jaka Dwi Cahyo, Kerinci (Seantero)
144. Jaka Dwi Cahyo, Kerinci (Pelangi Pertiwi)
145. Joni Iskandar, Bogor (Banggaku dalam Indonesia)
146. Kadek Ayu Ristianti, Bali (Tak Malu Menyebut Indonesia)
147. Kaletus Marselinus, Lembata (Kita Tercabik Karena Keakuan)
148. Kamil Dayasawa, Yogyakarta (Hikayat Pohon)
149. Kartini, Mamuju (Bangga Jadi Orang Indonesia)
150. Kazuhana El Ratna Mida, Jepara (Rasa Bangga)
151. Ken Hanggara, Surabaya (Kembali Indonesia)
152. Khamdanah, Semarang (Istana Surga para Dewa)
153. Khias Nurlatif Subekti, Yogyakarta (Aku Bangga Menjadi Orang Indonesia)
154. Khodijah, Tangerang (Aku Cinta Produk Indonesia)
155. Kiki Setiyorini, Yogyakarta (Petani Miris)
156. Kinanthi Anggraini, Garut (Perihal Runcingnya Kebanggaan pada Sebilah Tombak Kesatuan)
157. Kiswati, Batam (Pesona Bangsa)
158. Komang Sora Riyanti, Ciamis (Lantunan Sunyi)
159. Kukuh Septio Aji, Kudus (Pukul 06.09 WIB)
160. Kusmi Handayani, Jambi (Goresan Tinta untuk Indonesia)
161. Laras Sekar Seruni, Jakarta (Bisikan Kerinduan untuk Indonesia)
162. Lasinta Ari Nendra Wibawa, Garut (Kepada Negeri yang Menawarkan Segala Kemungkinan)
163. Lasinta Ari Nendra Wibawa, Garut (Tentang Perempuan-Perempuan Melati yang Tumbuh di Pelosok Negeri)
164. Laura Sylvia, Martapura (Puisi untuk Pemimpin Negeri)
165. Lia Uvitasari, Lampung (Indonesiaku Tersenyumlah Kembali)
166. Lia Zaenab Zee, Makassar (Kisah Degup Tersetia)
167. Lina Latifah, Bandung (Beta Anak Arafuru)
168. Lina Latifah, Bandung (Keajaiban di Negeri Biji)
169. Luqyana Dahlia, Cirebon (Negeri Merdeka, Kataku)
170. M. Ikhsan, Medan (Doa untuknya)
171. M. Nadhirin, Riau (Kalian yang Bertanya)
172. M. Rinci Taqwa, Blitar (Benih Indonesia)
173. M. Syamsul Khanif, Kendal (Kukibarkan Merah Putih di Puncak Merbabu)
174. M. Zaini, Martapura (Anak Pernikahan Pulau)
175. Manusia Perahu Sudianto, Sumenep (Alegori Marbot Masjid)
176. Mar’atul Fitriyah Annahwiyah, Madura (Teduh di Ibu Pertiwi)
177. Margono, Klaten (Khasanah Maha Karya)
178. Marlina, Jakarta (Negeriku Jiwaku)
179. Maulana Ihsan, Pasaman (Cerita, Harapan, Keindahan, Kebahagiaan, Kesedihan)
180. Maulana Ihsan Ghiffari Julistyan, Probolinggo (Sajak Secangkir Teh)
181. Maulida Ramadhai Khairunnisa, Bekasi (Indonesia Hidup Abadi)
182. Mawardah, Medan (Tanah Ini Punya Sejarah)
183. Mega Leoni Pane, Medan (Kudengar dan Kulihat Sebuah Rumah)
184. Megawati Nasehatul Aminati, Ponorogo (Coba Kulihat)
185. Mei Putra Daya, Gunungsitoli (Aku dan Bangsaku)
186. Meidy Ayu, Depok (Gebyar-Gebyar)
187. Melia Roza, Pasaman (Bangga dalam Cerita)
188. Moh. Gufron Cholid, Madura (Anugerah yang Tak Pernah Tuntas Kau Gali)
189. Moh. Miftahul Ainin Najib, Jember (Ladang Suburmu Malah Kau Tinggalkan)
190. Moh. Wahyu Syafi’ul, Lamongan (Semua Meniru Indonesia)
191. Miftahul Jannah, Depok (Takkan Kujual Cinta)
192. Mohammad Saifullah, Kediri (Cahaya Khatulistiwa)
193. Mohammad Saifullah, Kediri (Wajah Pribumi)
194. Muchammad Miftachul Ulum, Jombang (Cinta di Balik Selimut)
195. Muhamad Mursyid Ashari, Klaten (Doa untuk Ibu)
196. Muhammad Rian Azzam Fakrullah, Sukabumi (Aku Ingin Menulis Sajak dengan Namamu)
197. Muhammad Rian Azzam Fakrullah, Sukabumi (Ketuk Tilu)
198. Muhammad Shodiq, Banyuwangi (Aku Cinta Indonesia)
199. Musyfiq, Sumenep (Di Penghujung Tahun yang Menua)
200. Mutiara Hanif Saputri, Surakarta (Indonesia, yang Ingin Namun Terkekang)
201. Nada Indra Puspitasari, Bekasi (Belum Kuberi Judul Karena Bingung)
202. Nadya Ahda, Cilacap (Saya Pelancong Indonesia)
203. Nadyan Shifani, Aceh (Sajak Cinta Anak Tak Berayah)
204. Nahariatul Hikmah, Kediri (Pesona Edelweis)
205. Nanik farida, Bangkalan (Negeriku Ringkih)
206. Nelis Onia, Bali (Kebanggaanku Menjadi Orang Indonesia)
207. Nengah Okta Yuliani, Lampung (Senandung Senja untuk Indonesia)
208. Ni Nyoman Ayu Suciartini, Bali (Nyanyian Muda)
209. Nia Rizqih, Bogor (Aku dan Mereka di Indonesia)
210. Nilamsari, Tangerang (Tengoklah ke Dalam Indonesia)
211. Nino Dergo El Firhaa, Padang (Sesuatu yang Hilang dari Negeriku)
212. Nisa Desiani Aohana, Pringgabaya (Negeri Pelangi)
213. Nisa Nurjannah, Bandung (Tanah Air Beta)
214. Nissa Ershanti, Yogyakarta (Gelandangan di Negeri Sendiri)
215. Nopitri Wahyuni, Lampung (Renaisans Kedua)
216. Norol Fahriah, Pulang Pisau (Indonesia Negeriku)
217. Nova, Payakumbuh (Aku Mencintai Ketidak Sempurnaanmu)
218. Novita Sari Manurung, Medan (Aras Memahat Samakh)
219. Novita Sari Manurung, Medan (Kota Seribu Wajah)
220. Nur Salam, Sumenep (Sajak Seorang Ibu)
221. Nurfah Maulia Simatupang, Tangerang (Hidup dan Mati untuk Bumi Pertiwi)
222. Nurifa, Padang (Sedikit Ulasan Tentang Negeriku)
223. Nurlaila Novliza, Lampung (Indonesia In Love)
224. Nursita Afifah, Kediri (Kopi Bukan Mimpi)
225. Nursita Afifah, Kediri (Serba Bisa)
226. Nurul Firdiani, Yogyakarta (Aku Hanya Rakyat Biasa)
227. Nurul Imamah, Pamekasan (Epitaf Kampung Halaman)
228. Nuzul Helmi, Medan (Kita Tetap Bhineka Tunggal Ika)
229. Obi Samhudi, Pontianak (Memoar Anak Manusia)
230. Odi Yanuwar, Indramayu (Terima Kasih Pertiwi)
231. Prihatin Suryaningtyas, Surakarta (Bukan Indonesia)
232. Pusvita Defi, Medan (Suara Rakyat)
233. Putri Narita Pangestuti, Sidoarjo (Mentari di Kandungku)
234. Putri Shofi Nabilah, Gresik (Pusara dan Kain Mati)
235. Qonita Hafizhah, Bogor (Semburat Cinta Veteran)
236. Qurrota A’yun, Yogyakarta (Cinta dalam Cepuk)
237. R. Indra Gunawan, Surabaya (Bangga Negeriku)
238. R. Indra Gunawan, Surabaya (Perahu Cadik Bapak)
239. Rahmat Iman J.E, Malang (Durhaka Anak Negeri pada Ibu Pertiwi)
240. Rahmi Intan Jeyhan, Padangpanjang (Selimut)
241. Ratna Ning, Subang (Asa Kota Cinta)
242. Renny Putri Utami, Palembang (Antikuari)
243. Rezqie Muhammad Al Fajar Atmanegara, Banjarmasin (Anak-Anak Pulau, Orang Tua Nusantara)
244. Rian Gunawan, Tangerang (Tanah Airku)
245. Rinaldi Ikhsan Nasrulloh, Depok (Negeri Timur Jauh)
246. Rio Rinaldi, Padang (Memoar Sang Pengobar)
247. Rita Deswita, Padang (Bukan Negeri Dongeng)
248. Rita Sari, Padang (Aku Bangga Jadi Orang Indonesia)
249. Riyon Fidwar, Padang (Sajak Anak-Anak Indonesia)
250. Riska Awalia Lestari, Bulukumba (Rumahku, Indonesia)
251. Rizka Lalili Komariyah, Surabaya (Namanya Indonesia)
252. Rizkan, Padang (Cinta Indonesia yang Kekal)
253. Riski Angraeni, Surabaya (Bumiku Indonesia)
254. Rizki Febrian Aldriansyah, Bandung (Kami Rakyat Indonesia)
255. Roland Nooh, Manado (Indonesia yang Terbaik)
256. Rony Ucok Cahyadi, Bekasi (Negeri Tanpa Dongeng)
257. Rosmalia Nur Hidayati, Purworejo (Merah Putih Indonesia)
258. Rudi Hermawandi, Bandung (Aku adalah Dirimu Oh Indonesiaku)
259. Rudy Syalam, Turki (Bisikan Anak Nusantara)
260. Sahanara, Jambi (Kawan Sehati)
261. Sahanara, Jambi (Serenada Pinisi di Tepian Losari)
262. Salma Fauziah A.S, Depok (Selembar Balasan)
263. Samuel Manurung, Medan (Tanah Air Kita Indonesia Teguh)
264. Sintha Harity, Cirebon (Lagu Si Tina)
265. Sintha Harity, Cirebon (Masih, Generasi Indonesia?)
266. Siska Wulandari, Padang (Pesan Leluhur Kami)
267. Siti Atitah, Magelang (Salam Hangat)
268. Siti Cholifah, Sidoarjo (Daun)
269. Siti Kholifah, Gresik (Ujung Pelosok Negeriku Indonesia)
270. Siti Rofikoh, Banyuwangi (Segunung Cinta untuk Bangsa)
271. Siti Sarah, Karawang (Surat Cinta untuk Pertiwi)
272. Siti Zakiyatul Khamidah, Brebes (Yang Ku Bangun di Gelap Bayangmu)
273. Sri Surani, Surakarta (Buktiku)
274. Sri Surani, Surakarta (Lihatlah Permatamu)
275. Suci Rizka Welza Putri, Padang (Cerita Sore Indonesia)
276. Sugeng Cahyadi, Purworejo (Fatwa Mulut Dunia)
277. Suhindro Wibisono, ? (Presiden, Anak Mami)
278. Suhindro Wibisono (Telanjangi Dewan Penipu Rakyat)
279. Syifa Diatmika, Batang (Catatan Indonesia)
280. Syafina Amorita Candini, Palembang (Tanah yang Kutolak Lupa)
281. Syarifullah, Sumenep (Kabar dari Pesisir: Doa Pelaut di Bulan Purnama)
282. Syusella Kalvi Handika, Lahat (Tanah Air Kelahiranku)
283. Tesha Rosyida Nur Agustina, Bantul (Aku Indonesia)
284. Tri Adnan, Agam (Perjalanan)
285. Tri Hanita, Yogyakarta (Bunga Bangsa)
286. Tyas Mekar Sari, Sidoarjo (Rindu Indonesia)
287. Ully Krismanti, Sukoharjo (Anak Sungai)
288. Vingki Hardiyanti, Tangerang (Langit Indonesia)
289. Wenti Liana, Ogan Ilir (Cinta Beta)
290. Wiekerna Malibra, Bekasi (Mengenang Negeri Seribu Pelangi)
291. Winda Efanur FS, Yogyakarta (Sabda Sepatu Berlubang)
292. Wiwin SA, Kediri (Senyum Pertiwi)
293. Yudi Muchtar, Riau (Ceritera Merah Putih)
294. Yudi Rahmat, Cilegon (Indonesia Negeriku)
295. Yudik Wergiyanto, Situbondo (Negeri Senja)
296. Yuni Suryani, Bandung (Bilik Bambu Indonesiaku)
297. Yuniske Prastika, Gorontalo (Mereka yang Terlupa)
298. Yulia Erfiriza, Payakumbuh (Renungan Ibu)
299. Zahratun Nisa, Tabalong (Indonesiaku)
300. Zammil Hamzah, Sumenep (Orang Indonesia)

SELAMAT KEPADA PARA NOMINATOR!

Sumber terkait:
www.famindonesia.com 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=660050390789812&set=gm.887809251269221&type=1&theater

Kamis, 26 Februari 2015

[Artikel] CATATAN RINGAN DARI AKSIOMA-KSM 2015: [Apalah Arti Sebuah Nama]



CATATAN RINGAN DARI AKSIOMA-KSM 2015: [Apalah Arti Sebuah Nama]
Oleh: Dedi Saeful Anwar
Penulis dan Siswi Peraih Juara II English Speech Contest (Meli Siti Homsah)

Dalam setiap kegiatan tentu selalu ada hal-hal yang menarik perhatian. Apalagi dalam perhelatan yang bisa dikatakan jarang-jarang terjadi. Seperti dalam kegiatan AKSIOMA-KSM 2015 yang baru lalu.
Sudah lumrah dan bukan hal aneh lagi jika di masyarakat kita selalu ada beberapa istilah yang rancu. Masyarakat kita memang tergolong masyarakat yang latah. Tidak perduli kelatahan itu banar atau salah. Sepertinya yang penting enak diucapkan dan nyaman di dengar.
Seperti dalam beberapa contoh berikut ini:
  1. Banyak orang menyebut mesin pompa itu namanya “Sanyo”, padahal Sanyo adalah salah satu merek dari mesin pompa.
  2. Setiap air mineral pasti selalu disebutnya “Aqua”, padahal banyak sekali nama/merk dari minuman mineral dalam kemasan itu.

Begitu pula dalam perhelatan pertandingan olahraga dan lomba bidang studi di berbagai jenjang pendidikan di tanah air kita. Di kalangan masyarakat nama PORSENI (Pekan Olah Raga dan Seni). Istilah yang sudah begitu akrab dan melekat dimulut dan telinga masyarakat kita itu digunakan untuk kegiatan lomba-lomba yang digelar bagi para siswa mulai dari tingkat Usia Dini/TK hingga Sekolah Lanjutan (SLTPP dan SLTA) ini hampir selalu diselenggarakan tiap tahun.
Namun untuk tingkat Madrasah (kususnya MTs) sejak terakhir diselenggarakan pada 2012 lalu, baru kali ini digelar kembali. Entah apa alasannya jelasnya. Dan apakah kegiatan ini akan berlangsung setiap tahun atau dua tahun sekali, entahlah. Yang jelas untuk pelaksaan tahun ini sungguh miris dan memprihatinkan dari segi persiapan maupun penyelenggarannya.
Kenapa demikian? Kegiatan yang seyogiyanya berlangsung pada 14 dan 15 Februari 2015 ini, diundur pelaksanannya satu minggu kemudian dengan alasan menunggu dana/uang BOS cair dari pemerintah. Namun hingga berakhirnya kegiatan ini, kucuran dana itu entah di mana gerangan macetnya.
Kita kembali ke permasalahan istilah Porseni. Untuk sekolah-sekolah yang berada di lingkungan Dinas pendidikan istilah Porseni selalu berubah nama dan sebutan atau istilahnya. Porseni pernah diganti dengan istilah POR/PSP, Pekan Olah Raga/Pekan Seni Pelajar. Dan kini menjadi berubah istilah lagi menjadi O2SN (Olimpiade Olahraga Siswa Nasional) dan FLS2N (Festival & Lomba Seni Siswa Nasional).
Sementara untuk sekolah/madrasah yang berada di bawah naungan Kemenag (Kementrian Agama) digunakan istlah AKSIOMA (Ajang KompetisiSeni dan Olahraga Madrasah) & KSM (Kompetisi Sains Madrasah).
Namun, yang terjadi di masyarakat kita adalah, istilah tinggal istilah. Mereka sepertinya tidak ambil pusing dengan nama dan sebutan atau istilah apapun. Yang mereka tahu hal yang berhubungan dengan lomba-lomba antar sekolah adalah PORSENI.
Yang membuat lucu (miris) lagi, istilah itu bahkan sangat kental dalam perhelatan AKSIOMA&KSM 2015 di tingkat KKM Sawah gede yang baru digelar 24-25 Februari 2015 lalu.
Para panitia dengan gagah mengenakan jaket berwarna biru tua, dan di dada sebelah kiri tercetak tulisan PORSENI PELAJAR 2015! Padahal saya yakin bahwa mereka (panitia) berkali-kali membolak-balikan juklak dan juknis. Di sana pasti tertulis AKSIOMA&KSM, bukan PORSENI, atau pun istilah lainnya.
Dengan demikian saya jadi senyum-senyum sendiri dan teringat dengan istilah berikut ini, “apalah arti sebuah nama”. Mau PORSENI ataupun AKSIOMA-KSM yang penting kegiatan berlangsung sukses.
[dsa]