BEDAH BUKU SENYUM NOLINA

BEDAH BUKU SENYUM NOLINA
NOVELET "PETUALANGAN KUBIL DAN KAWAN-KAWAN" karya Dedi Saeful Anwar ini sudah bisa dipesan. Harga Rp91.000 (belum ongkir).

Kamis, 02 Januari 2014

"BEYOND THE DREAM” SANGAT INSPIRATIF


Ini adalah tulisanku yang sudah lumayan usang. Gara-gara nonton salah satu acara talkshow di salah satu televisi swasta tahun 2012 lalu. Karena menurut saya tayangan tersebut menarik dan 'gak sengaja saya ingin menuliskan ketertarikan saya pada tayangan tersebut. Berikut ini ringkasannya. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

Check this out!


BEYOND THE DREAM” SANGAT INSPIRATIF

"Karena karya akan menemukan nasibnya sendiri", demikian salah satu kalimat yang diucapkan oleh Andrea Hirata, pada tayangan Just Alvin, pada pukul 20.30 WIB hingga 21.30 WIB di Metro TV . Acara tersebut benar-benar menggerus darah tubuhku. Penulis tetralogi Laskar Pelangi yang karyanya tersebut kini semakin mendunia. Bahkan dua dari keempat novelnya yaitu Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi telah di angkat ke layar Lebar dengan judul yang sama oleh Miles Production besutan Sutradara Riri Riza. Kini karya fenomenal dari lelaki yang berambut ikat dan suka memakai topi tersebut akan diterbitkan di 85 negara dengan 16 bahasa. Sungguh fenomenal! Tidak berlebihan seandainya saya mengambil istilah yang sering diucapkan oleh Tukul Arwana dalam setiap tayangan Bukan Empat Mata-Trans7, yaitu “It’s amazing!”
Dari sekian tayangan televisi dari pagi hari hingga menjelang waktu tidur pada Minggu 16 Desember 2012, tayangan itulah yang membuat mata dan pikiran saya sangat terbuka lebar. Sarapan pagiku yang tidak berselera dan tidak bergairah hari itu, hingga makan siang, karena anak dan istri punya acara masing-masing sementara saya berkutat dengan pekerjaan akhir tahun yang masih belum juga kelar karena masih harus melakukan beberapa rekapan nilai raport. Ditambah dengan cuaca yang kurang mendukung untuk berpergian akibat musim penghujan sudah tiba, rasanya terbayar sudah dengan tayangan yang bergizi tersebut. Makan malamku akhirnya sangat berselera karena ditemani menu lezat dari tayangan yang menyuguhkan kesan rileks namun serius dengan beragam pertanyaan yang mengalir dari sang pemilik acara namun terasa tidak mengiterogasi para bintang tamunya.
Diawali dengan kemunculan Joe Taslim, aktor yang kini berkiprah di industry film Hollywood dan mendapat kesempatan emas untuk terlibat dalam film 'Fast Six' atau “The Fast And The Furious 6”, yang di dibintangi juga oleh aktor kelas dunia Vin Diesel, setelah 'The Raid' mendunia. Film tersebut merupakan arahan sutradara Justin Lin.
Kemudian muncul Andrea Hirata dengan topi khasnya dan rambut ikal sebahu. Beliau bicaranya sangat datar menurut saya, tapi mengalir ibarat cerita dalam setiap novel-novelnya, serta jelas dan tegas. Sangat inspiratif. “Kalau kita berkarya kita harus menjauhkan pamrih”, demikian ujarnya lagi saat menjawab salah satu pertanyaan dari sang Host, Alvin Adam
Inpirator ketiga muncul penyanyi yang lagunya tidak begitu saya kenal. Namun begitu Shakila tentu saja merupakan salah satu penyanyi kebangan negeri ini yang telah memenangkan berbagai Festival menyanyi pada beberapa even internasional. Penyanyi jebolan Asia Bagus pada 1994 ini adalah seorang wanita berasal dari Maluku yang karyanya sudah mendunia dan terkenal di Negara lain. Walaupun prestasinya sudah demikian bersinar tidak serta merta dia lupa diri, dia tetap mencintai negerinya sendiri dengan tetap mengajak anak-anaknya menikmati jajanan pasar dan memasukan anak-anaknya pada sekolah atau les tari Bali sebagai perwujudan cinta terhadap kebudayaan bangsanya sendiri.
Terakhir, yang merupakan bintang tamu ke-empat pada episode kali ini muncul penari yang juga sudah go international dan memiliki studio tari di Solo, yaitu Eko Suprianto. Dia merupakan seorang penari yang pernah menjadi pendukung pada salah satu show penyanyi kelas dunia, yaitu Madonna melalui audisi yang ketat. Dialah satu-satunya penari luar Amerika yang pada audisi tersebut ahirnya masuk atau lolos dari ratusan peserta audisi. Dan dia adalah penari yang mendapat aplaus meriah dalam setiap pergelaran tariannya saat pentas di luar negeri, tapi tidak demikian di negerinya sendiri. Aneh memang!
Sebelum Acara tersebut selesai pada akhir pertanyaan yang disodorkan Alvin Adam sang pemilik acara kepada keempat bintang tamu tersebut, saya sungguh tertarik ketika mendengar jawaban penari Eko Suprianto, “Enggak ada kemudahan dibanding semudah di negeri sendiri, dan enggak ada rasa enak dibanding dengan semua yang ada di negeri sendiri”.
Hal tersebut nampak jelas, bahwa meskipun kiprah mereka berempat sudah mendunia dan diakui dunia internasional, namun segala bentuk kerja keras dalam berkarya serta sikap santun yang ditonjolkan mereka, kiranya patut mendapat apresiasi dari para pemirsa tayangan tesebut dan semoga menjadi inpirasi bagi masyarakat Indonesia pada umumnya serta generasi muda pada khususnya yang akan menjadi penerus bangsa ini.
Semoga.

16 Desember 2012




PUSTAKA:
Tetralogi merupakan kumpulan buku yang ceritanya saling berkelanjutan dan terdiri dari empat seri. Contohnya adalah tetralogi Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang terdiri dari Laskar Pelangi, Sang Pemimpi yang keduanya sudah difilmkan, lalu Edensor, dan terakhir Maryamah Karpov. Contoh lainnya adalah tetralogi Ember karya Jeanne DuPrau yang terdiri dari The City of Ember, yang sudah difilmkan, lalu The People of Sparks, The Prophet of Yonwood, dan The diamond of Darkhold. Lalu ada pula tetralogi Ingo karya Helen Dunmore yang terdiri dari Ingo, Tide Knot, Deep, dan terakhir adalah Crossing the Ingo.

MENGANTAR SENJA DI JENDELA BERSAMA ADELYA



MENGANTAR SENJA DI JENDELA
BERSAMA ADELYA

“Yah, kenapa langit gelap?” celoteh Adel.
“Ini sudah senja, Cantik,” kuraih dagu mungilnya.
“Kenapa hujan?”

“Karena bidadarinya lagi bersedih.”
“Kok, sedih Yah?”
“Karena senja segera pulang, tuh lihat, burung-burung pun mau pulang.”
“Kemana burung itu pulangnya?”
“Ke sarangnya di ranting-ranting pohon. Di sana sedang menunggu anak-anaknya.”
“Oh, sama kayak Ayah ya? Ayah ‘kan baru pulang, terus disambut Adel,” suara Adel menggemaskan.
kulirik gadis mungil di samping kiriku, kutatap likat lewat segara cinta.
Kulabuhkan sauh pelukku, mendaratkan sampam ciuman indah di pantai keningnya,
Kuhantar senja di jendela bersama Adelya.
Tangan mungilnya melingkari pinggangku, “Ayah...!”

Kami menatap tarian kakikaki hujan di atas genting rumah tetangga, berdenting.
suara Adzan bergema memecah hujan.
“Yuk, kita ambil air wudu, Nak!”
 Adel menatapku hangat.

4 Des 2013

[artikel] MAKNA TAHUN BARU





MAKNA TAHUN BARU
Oleh: Dedi Saeful Anwar

            Sudah menjadi tradisi yang tidak bisa dielakkan lagi di sebagian besar kalangan masyarakat bangsa ini berpesta pora merayakan “Pesta Tahun Baru”. Seperti bangsa lainnya di belahan dunia yang menganut paham hidup bebas. Orang-orang berkeliaran hampir di setiap ruas jalan. Mereka ada yang membawa dan menyalakan berbagai jenis kembang api. Sebagian lagi meniup terompet hingga pipinya kembung. Bahkan tak sedikit pula yang lebih anehnya lagi, yaitu berpesta minuman keras!
Mulai dari anak-anak yang diajak orang tuanya, remaja ababil (ABG labil) hingga orang dewasa. Mereka semua berpesta demi menyambut pergantian tahun yang hanya dalam hitungan detik. Bila jarum jam berada tepat di angka 00:00 semua berteriak “Happy New Year” terompet dibunyikan dan petasan/kembang api di ledakkan. Hotel-hotel berlomba menghadirkan para pesohor terbaik dari dalam negeri hingga mancanegara. Semua demi pergantian tahun baru.
Sungguh jelas, sebuah gaya hidup hedonisme yang sia-sia. Sebuah gaya hidup yang bersebarangan dengan ajaran agama Islam yang mayoritas dianut bangsa ini. Ironis sekali!
Yang menjadipertanyaan, apakah mereka (yang merayakan pesta tahun baru) ini tidak tahu kemudaratan yang mereka lakukan? Atau mereka menutup mata dan telinga dengan apa yang diajarkan ajarannya. Saya yakin para peniup terompet dijalan saat pesta tahun baru itu adalah sebagain besarnya ummat Islam. Lain soal dengan yang non muslim. Lalu, sejauh mana mereka mamahami ajaran agamanya.
Saya kira, akan lebih pantas dan bermanfaat jika kita (ummat muslim) berada di mesjid, atau paling tidak berkumpul dengan keluarga di rumah. Berdoa dan bermunajat. Bermuhasabah diri. Apa yang sudah dilakukan kita selama setahun kemarin? Perbuatan baik dan buruk apa yang sudah kita lakukan? Lebih banyak amalan apa yang sudah kita lakukan, baik atau buruk?
Bahkan saya mendengar berita, ada seorang tua yang mendapat musibah saat perayaan tahun baru kemarin (2014) mungkin juga ada di tempat lain yang tidak sempat diberitakan. Kebetulan istri saya bekerja di sebuah ruangan bedah di Rumah Sakit. Dia mengatakan ada seorang laki-laki dewasa yang tangannya terbakar saat menyalakan kembang api, tepat di malam pesta tahun baru itu. Tangan kanannya harus dioperasi karena lukanya cukup parah akibat ledakan kembang api yang tidak meluncur ke udara namun meledak di tangannya itu. Sehingga memerlukan biaya kurang lebih sepuluh juta rupiah. Itu sudah termasuk biaya operasi, perawatan dan obat-obatan.
Nah, dari contoh kejadian di atas, tentu sudah bisa menjadi tolok ukur bahwa perayaan pesta tahun baru itu lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Sebuah kembang api yang menghadirkan kilauan cahaya indah dengan harga puluhan atau ratusan ribu saja, tapi taruhannya nyawa dan biaya puluhan juta rupiah. Silahkan mau memilih mana?
Namun demikian, hal ini diserahkan pada keyakinan kita masing-masing. Tentunya saya menilai hal ini dari sudut pandang keyakinan yang saya yakini.
Wallahu a’lam bish-shawabi. 
Cjr, Jan’14

Selasa, 31 Desember 2013

PENGUMUMAN 40 CERPEN TERPILIH

PENGUMUMAN 40 CERPEN TERPILIH YANG DIBUKUKAN
DALAM LOMBA CIPTA CERPEN BERTEMA “TKI”

Inilah empat puluh cerpen yang lolos seleksi dan akan diterbitkan oleh FAM Publishing. Ke-40 karya terbaik dari ajang Lomba Cipta Cerpen yang digelar oleh Forum Aktif Menulis (FAM) dengan mengusung tema “TKI” ini berhasil diikuti oleh ratusan peserta.

Nama saya berada pada nomor urut 12!

Berikut daftar para nominator:

1. Anisah Utari, Jakarta Selatan (Lukisan Perempuan di Victoria Park)
2. Anis Swidiastuti, Malang (Tentang Arti Kemerdekaan oleh Diri Sendiri atau oleh Orang Lain)
3. Arina Nur Permata Ilmi, Banyumas (Suratman Ingin Pulang)
4. Arif Rahman Hakim (Pulang)
5. Anugerah Waty, Makassar (Surat Warisan)
6. Ade Ubaidil, Cilegon (Serigala Berbulu Domba)
7. Amiruddin, Sulawesi Selatan (Jalan Pulang)
8. Acet Asrival, Sumatera Barat (Percikan Hujan)
9. Aidil Zulkhan, Riau (Cinta Biru di Taman Kowloon)
10. Biyah Siti Murbiyyah, Jakarta Timur (Korban di Hari Lebaran)
11. Catur Pujihartono, Yogyakarta (Jenasah di Atas Perahu)
12. Dedi Saeful Anwar, Cianjur (Impian Azizah)
13. Erlangga Setiawan, Surabaya (Tentang Wanita yang Dekat Sekaligus Jauh Dariku)
14. Happy Ratna Astuti, Semarang (Pengakuan Surtini)
15. Irhamun, Pulau Punjung (Hujang Ang Pao di Asia)
16. Intan Umyatur Rahmania, Depok (Keputusan)
17. Kasrizal, Jambi (Cita-citaku Kandas di KL)
18. Muhammad Nur Faqih, Jember (Selama Bunga Shaqayeq Mekar)
19. M. Zaini, Martapura (Azimat)
20. Muhammad Riyan Andrianus, DKI Jakarta (Mayat Wanita di Victoria Park)
21. Muhammad Qadhafi, Salatiga (Tuan Bahaya)
22. M. Syamsul Qulub, Gresik (Janji yang Terlupakan di Fukuoka)
23. Muhammad Fadhli, Padang (Jangan Menangis Ning)
24. M. Fitrah Alfian R. S, Tangerang (Siksaan Itu Dapat Kutahan Demi Adik-adikku)
25. Niken Bayu Argaheni, Pati (Epitaf Suryo)
26. Nazri zuliansyah, Aceh Utara (Jejak Pahlawan Devisa)
27. Nurhidayati (Yayang Widia Ningsih)
28. Novaldi Herman, Pekanbaru (Sekantung)
29. Rieka Mustika, Purwakarta (Shalat Mirah)
30. Rendra Pirani, Tangerang (Anak Pribumi di Negeri Orang)
31. Rizka Amalia Fulinda, Purwokerto (Bunga-Bunga Yang Tergadai)
32. Sindi Violinda, Medan (Sampah Tak Selamanya Jadi Sampah)
33. Santi Sumiati, Cianjur (… Untuk Sepasang Jubah Surgawi)
34. Sukamto Prasetyo, Singkawang (Sepenggal Episode Rumah Merah)
35. Suyati, Pasaman Barat (Aku Telah Dipulangkan)
36. Susiati, Malang (Kubunuh Kepercayaanmu, Suamiku!)
37. Titi Haryati, SulSel (Sepucuk Surat Dari Kampung)
38. Wahyu Prihartini, Pasuruan (Surat Terakhir Untukmu)
39. Yusrina Sri Oktaviani, Padang (Seikat Surat)
40. Yazid Nizar Sopian, Cibinong (The Last from Ratna)

Selamat!

CATATAN DARI KPN-IV 2013 BUPERTA CIBUBUR JAKARTA, 9-14 SEPTEMBER 2013



CATATAN DARI KPN-IV 2013
BUPERTA CIBUBUR JAKARTA, 9-14 SEPTEMBER 2013
Oleh: Dedi Saeful Anwar

Catatan ini awalnya akan diturunkan tidak lama setelah saya tulis. Namun karena berbagai kendala akhirnya baru kali ini saya turunkan dalam beberapa bagian. Semoga hal ini bisa menjadi salah satu wawasan baru bagi semua, kususnya bagi saya sendiri.
Pada 9-14 September 2013, saya mengikuti salah satu kegiatan yang diadakan oleh Gerakan Pramuka Nasional dalam agenda rutin empat tahunannya yaitu Karang Pamitran Nasional (KPN) IV. Penyelenggarannya kali ini dilaksanakan di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta.
Karang Pamitran merupakan ajang pertemuan para pembina pramuka di gugus depan (Gudep) untuk saling berbagi informasi, pengetahuan dan keterampilan dengan “silih asah (saling mengasah), silih asuh (saling memberi contoh tenteng penghayatan nilai dan silih asih (saling mengasihi)”.
Kegiatan ini merupakan yang hajatan yang baru menggeliat kembali setelah vakum selama 17 tahun, begitu pernyataan Ketua Kwartir Nasional dalam sambutannya pada Upacara Pembukaan yang di hadiri kurang lebih 2500 peserta dari seluruh Indonesia. Sungguh merupakan pengalaman yang sangat mengesankan. Betap tidak, kegiatan ini ibaratnya membawa saya pada sebuah miniatur Indonesia yang dikumpulkan dalam satu wadah kecil. Saya bertemu, bercengkrama dan berbagi rasa dengan para pembina dari seluruh negeri yang sangat kaya dengan kebudayaannya.
Selama ini semua itu hanya saya lihat dan saksikan lewat media elektronik. Atau hanya saya baca bari buku-buku maupun surat kabar. Namun, selama satu minggu itu saya berinteraksi dengan mereka. Saudara yang berbeda bahasa dan budayanya. Rasa syukur saya begitu deras terpanjatkan padaNya.
Semua berbeda tetapi tetap satu tujuan, satu hati satu warna baju dan satu tekad. Laiknya Bhinneka Tunggal Ika. Kami ingin menjadi pencetak para generasi yang lebih baik dan generasi unggul melalui wadah kegiatan yang di sebut Gerakan Pramuka.

MY DREAM COMES TRUE
Betapa tidak, karena hal ini ibaratnya sebuah mimpi yang menjadi kenyataan (dream comes true). Bila menerawang ke masa lalu, saya pernah dililit rasa kecewa yang tiada berujung, saat tidak bisa ikut kegiatan Jambore Nasional tahun 1986 yang juga dilaksanakan di tempat yang sama yaitu Buperta Cibubur. Mengapa saya kecewa? Saat itu saya terserang penyakit typus ketika duduk di bangku kelas 1 SMP. Dengan demikian saya tidak bisa mengikuti kegiatan pramuka dan tentu tidak tepilih menjadi perwakilan. Sejak itu terbersit sebuah ucapan dalam hati, “suatu saat saya akan ke sana”. Setiap perkataan adalah doa dan aya meyakini hal itu.
Waktu pun terus beranjak. Hingga pada akhirnya doa dan keinginan itu terwujud pada 2013 ini. Kurang lebih selama 29 tahun penantian itu terwujud di saat saya sudah menjadi seorang pembina. Walaupun berbeda forum karena Jambore adalah forum untuk peserta didik (Anggota Pramuka Penggalang) sedangkan Karang Pamitran adalah forum untuk Anggota Dewasa/Pembina.
Pihak Kwartir Cabang (Kwarcab) Cianjur pada awalnya tidak memilih saya untuk menjadi utusan ke KPN 2013 tersebut. Namun dua hari menjelang keberangkatan ke tujuan, dari enam orang utusan (3 orang pembina putra dan 3 orang pembina putri), salah satu dari utusan putra tersebut mengundurkan diri dengan alasan yang bisa diterima pihak Kwarcab.
Akhirnya pihak Pusdiklatcab Cianjur memutuskan mencari penggantinya secara mendadak. Dan beryukur, mereka akhirnya memilih saya dengan pertimbangan saya sudah memenuhi kriteria/persyaratan. Alhamdulillah walaupun dengan persiapan serba mendadak, setelah saya mendapat izin dari pihak sekolah- di mana saya mengajar- akhirnya saya bisa mengikuti kegiatan KPN hingga selesai di tempat yang pernah saya impikan beberapa puluh tahun silam.
Bersambung...