TAMU AGUNG ITU BERNAMA RAMADAN
Oleh: DS. Anwar
Tamu adalah seorang atau beberapa orang yang hadir atau berkunjung ke sebuah tempat atau perjamuan. Umumnya tamu disambut dengan bermacam cara atau prosesi. Begitupun dengan sang tuan rumah atau pengundang. Sang tuan rumah biasanya mempersiapkan tempat dan segala sesuatunya untuk menjamu tamu. Mulai dari gerbang, halaman, pintu masuk, kursi hingga segala menu dalam jamuan. Semua disiapkan selengkap dan semaksimal mungkin. Mengapa hal itu dilakukan? Tentu saja demi melayani sang tamu agar tercipta pelayanan yang memuaskan dan menyenangkan.
Lantas bagaimana jika sang tamu bergelar “Tamu Agung”? Tentu saja segalanya jauh lebih istimewa dibanding dengan persiapan untuk menyambut tamu. Bisa jadi tuan rumah akan menyediakan “red carpet”, prosesi upacara adat atau tari-tarian khusus, pengalungan bunga, bahkan jamuan pun akan disiapkan menu paling istimewa. Semua daya, biaya dan konsentrasi pasti terkuras dan tercurah demi mempertaruhkan kredibilitas sang tuan rumah. Tuan rumah tidak mau menjatuhkan harga dirinya hanya karena kurang maksimal dalam menyambut dan menjamu sang “tamu (agung)” tersebut.
Begitu pula saat ini. Beberapa hari ke depan ummat muslim di seluruh belahan dunia pun akan kedatangan tamu, dan termasuk tamu agung. Tamu ini sangat agung yang super spesial. Tetapi bukan orang atau beberapa orang. Ia adalah sebuah bulan yang istimewa. Ialah Ramadan. Mengapa disebut tamu agung? Tengok saja di sekeliling kita. Aromanya sudah tercium sejak dua bulan sebelumnya. Semua ummat muslim telah memanjatkan doa sejak bulan Rajab agar umurnya disampaikan dan dipertemukan dengan "Bulan Seribu Bulan" ini.
Lalu, persiapan seperti apa yang dilakukan ummat muslim di seluruh belahan dunia ini demi menyambut sang tamu agung yang istimewa ini? Tentu saja jawabananya akan beragam. Jika prosesi penyambutannya dikaitkan dengan adat dan budaya para penghuni di bumi ini. Namun secara umum, semua ummat muslim sejak bulan Rajab telah mempersiapkan dirinya dengan berlatih jasmani dan rohaninya yang diawali dengan berbagai puasa sunnah di bulan-bulan sebelumnya.
Sebagai tamu agung, selain sudah disambut sejak dua bulan lalu, Ramadan ini benar-benar akan dijamu selama sebulan penuh dengan berbagai jamuan oleh para perindu ampunan. Semua ummat muslim akan menyambut dan menjamu Bulan Suci ini dengan penuh kehangatan di rumah-rumah yang penuh senyum silaturahim seluruh penghuninya. Hari-hari biasa, banyak yang jarang atau tidak makan pagi, siang dan malam secara bersama, tetapi di bulan Ramadan ini semua akan selalu menikmati hidangan berkumpul penuh keceriaan. Berkumpul dan bersama menikmati kelezatan hidangan mulai sahur hingga berbuka pada waktunya. Baik dengan keluarga terdekat, maupun teman, sahabat dan kerabat.
Seluruh masjid dan surau akan penuh dengan salat tarawih berjamaah. Riuh dengan gemuruh tadarus. Rumah-rumah yatim akan disinggahi berbagai sedekah dan para pencari berkah. Pasar-pasar akan diserbu para ibu yang bersemangat mencari pahala untuk menghidangkan menu terbaik demi menjamu para pejuang puasa. Semua akan terlihat indah dan harmoni. Semua berseri menyambut tamu agung, bulan suci penuh berkah.
Tidak berlebihan jika semua bersiap menyambut tamu agung yang sangat istimewa ini. Semoga puasa-puasa sunnah di bulan sebelumnya menjadi modal untuk perjalanan selama bulan suci. Semoga segala persiapan lahir bathin yang dipersiapkan menjadi kekuatan untuk menjamu tamu yang dirindukan seluruh penghuni semesta ini.
Semoga umur kita sampai di bulan Ramadan. “Ya, Allah berkahilah kami di Bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.” Marhaban yaa, Ramadan.[]
Cianjur, 3 Mei 2019
Menulis itu asyik. Media yang nyaman untuk berdialog antara hati dan pikiran, hingga melahirkan karya indah yang bermanfaat
BEDAH BUKU SENYUM NOLINA
NOVELET "PETUALANGAN KUBIL DAN KAWAN-KAWAN" karya Dedi Saeful Anwar ini sudah bisa dipesan. Harga Rp91.000 (belum ongkir).
Jumat, 03 Mei 2019
GAWAI DAN PENGARUHNYA DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI ERA MILENIAL
GAWAI DAN PENGARUHNYA DALAM DUNIA PENDIDIKAN
DI ERA MILENIAL
Oleh: DS. Anwar
Dunia pendidikan akan selalu menjadi sorotan yang menarik untuk dikuliti, karena pendidikan tidak akan lepas dari kehidupan ini selama hayat dikandung badan. Pendidikan menjadi salah satu dari sekian banyak hal penting lainnya dalam kehidupan manusia. Di manapun dan kapanpun manusia tidak akan lepas dari pendidikan, baik langsung maupun tidak. Secara harfiah pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Dalam Al Qur’an, Surat Al-‘Alaq (QS.96) ayat 1-5 merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi landasan bahwa manusia dituntut untuk senantiasa membaca dan belajar. Kita tidak hanya dituntut untuk bisa membaca ayat-ayat qauliyah (ayat-ayat yang tertulis dan difirmankan Allah SWT), namun perlu berpikir luas dan membaca ayat-ayat kauniyah (alam semesta dengan segala peristiwanya). Hal ini sangat dibutuhkan dalam ranah pendidikan.
Kemudian bagaimana kita menyikapi dunia pendidikan di era milenial yang berkaitan erat dengan perkembangan teknologi informasi ini? Masa yang begitu terpengaruh gawai dan harus disikapi dengan segala kesiapan. Semua lini kehidupan sepertinya tidak bisa menghindar dari perkembangan teknologi informasi yang dinamis, termasuk dunia pendidikan.
Pendidikan di masa lalu dan masa kini tentu berbeda. Setiap generasi memiliki keragaman dalam menjalani masa pendidikannya. Pendidikan saat ini tidak dapat lepas dari perkembangan teknologi. Mulai dari subyek maupun obyek pendidikan itu sendiri. Kini hampir segala hal berbasis teknologi. Bahkan ujian nasional yang semula berbasis kertas dan pensil (UNKP) kini pun sudah mulai menggunakan teknologi, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Meskipun belum merata di semua daerah dengan segudang permasalahannya.
Lantas, bagaimana dengan anak-anak kita dalam menghadapi masa menuntut ilmu di era milenial? Hal ini memerlukan sikap arif dan bijaksana dari semua kalangan. Orang dewasa, dalam hal ini orang tua dan para pendidik dituntut untuk memantau anak-anak juga peserta didiknya dalam perkembangan teknologi, khususnya gawai.
Kini tak bisa dielakkan lagi dengan maraknya penggunaan gawai di semua kalangan. Mulai dari usia anak-anak ---bahkan balita, hingga usia dewasa tidak bisa lepas dari penggunaan gawai.
Kemudian, mengapa penggunaan gawai ini perlu dipantau, khususnya bagi kalangan anak-anak dan remaja usia sekolah? Tentu saja sangat penting. Orang dewasa mungkin bisa saja menggunakan gawainya dengan bijak, meski tak dipungkiri pula sikap kebablasan seringkali menyusup di dalamnya. Seperti penyebaran berita-berita palsu (hoax) atau konten-konten informasi yang berbau sara dan asusila kerap menjadi hantu gentayangan di siang bolong. Meskpun pemerintah tidak tinggal diam dengan mengeluarkan berbagai kebijakan terkait perkembangan teknologi komunikasi ini, namun berbagai tindak kriminalitas yang disebabkan penggunaannya yang tidak bijaksana, masih kerap terjadi. Hal ini tentu saja perlu diwaspadai.
Lalu, kapan dan bagaimana orang dewasa perlu memantau penggunaan gawai bagi anak-anak usia sekolah? Sepertinya penggunaan gawai menjadi buah simalakama bagi beberapa kalangan. Di satu sisi saat ini hampir setiap aktivitas tidak bisa lepas dari penggunaan gawai. Orang tua (dewasa) melakukan segala komunikasi dan berinteraksi tentu menggunakan gawai dengan fisilitas lengkapnya. Salah satunya adalah media sosial. Gawai dan media sosial kini menjadi bagian penting dalam era milenial.
Jika tidak bisa memilih dan memilah waktu dan keadaan bisa saja hal ini menjadi bumerang bagi pelakunya. Di satu sisi orang dewasa musti mengingatkan anak-anak dalam penggunaan gawai dan fasilitasnya, di sisi lain mereka sendiri kurang bahkan kerap tidak bersikap bijaksana. Orang tua terkadang lupa akan kewajiban terhadap putra-putrinya. Jangan heran jika kini sikap dan karakter anak usia sekolah aneh-aneh dan menghawatirkan. Mereka lebih menyerap gaya hidup dan informasi dari media social daripada suri tauladan keluarga, sekolah atau lingkungan terdekatnya.
Selain itu anak-anak dan remaja maupun orang tua/dewasa kini lebih banyak yang menyukai bacaan atau berita melalui gawai di tangan dari pada bersumber dari buku bacaan atau suratkabar. Itu hanya contoh kecil di mana penggunaan gawai sudah merasuk ke sendi-sendi kehidupan saat ini. Orang tua lebih mudah mengeluarkan biaya hanya untuk paket kuota (pulsa) demi keberlangsungan hidup gawainya daripada menyediakan anggaran untuk membeli buku bacaan bagi anak anaknya.
Haruskah kita berpangku tangan, membiarkan dunia pendidikan terlindas oleh hantu gawai? Sepatutnya kita harus bersama-sama mengencangkan ikat pinggang, lebih bijaksana lagi dalam penggunaannya. Untuk mengurangi ketergantungan pada gawai dalam lingkup keluarga bisa dibuat komitmen bersama antara orang tua dengan anak-anak. Misalnya dengan menyediakan waktu berkumpul lebih banyak, membuat jadwal membaca buku bersama di sela-sela kesibukan, berkunjung ke perpustakaan atau taman bacaan di sekitar tempat tinggal.
Semoga kita menjadi orang dewasa yang tetap mengedepankan esensi pendidikan yang utuh, dan ruh pendidikan tidak lenyap di kalangan generasi milenial. Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Cianjur, 2 Mei 2019
DI ERA MILENIAL
Oleh: DS. Anwar
Dunia pendidikan akan selalu menjadi sorotan yang menarik untuk dikuliti, karena pendidikan tidak akan lepas dari kehidupan ini selama hayat dikandung badan. Pendidikan menjadi salah satu dari sekian banyak hal penting lainnya dalam kehidupan manusia. Di manapun dan kapanpun manusia tidak akan lepas dari pendidikan, baik langsung maupun tidak. Secara harfiah pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.
Dalam Al Qur’an, Surat Al-‘Alaq (QS.96) ayat 1-5 merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi landasan bahwa manusia dituntut untuk senantiasa membaca dan belajar. Kita tidak hanya dituntut untuk bisa membaca ayat-ayat qauliyah (ayat-ayat yang tertulis dan difirmankan Allah SWT), namun perlu berpikir luas dan membaca ayat-ayat kauniyah (alam semesta dengan segala peristiwanya). Hal ini sangat dibutuhkan dalam ranah pendidikan.
Kemudian bagaimana kita menyikapi dunia pendidikan di era milenial yang berkaitan erat dengan perkembangan teknologi informasi ini? Masa yang begitu terpengaruh gawai dan harus disikapi dengan segala kesiapan. Semua lini kehidupan sepertinya tidak bisa menghindar dari perkembangan teknologi informasi yang dinamis, termasuk dunia pendidikan.
Pendidikan di masa lalu dan masa kini tentu berbeda. Setiap generasi memiliki keragaman dalam menjalani masa pendidikannya. Pendidikan saat ini tidak dapat lepas dari perkembangan teknologi. Mulai dari subyek maupun obyek pendidikan itu sendiri. Kini hampir segala hal berbasis teknologi. Bahkan ujian nasional yang semula berbasis kertas dan pensil (UNKP) kini pun sudah mulai menggunakan teknologi, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Meskipun belum merata di semua daerah dengan segudang permasalahannya.
Lantas, bagaimana dengan anak-anak kita dalam menghadapi masa menuntut ilmu di era milenial? Hal ini memerlukan sikap arif dan bijaksana dari semua kalangan. Orang dewasa, dalam hal ini orang tua dan para pendidik dituntut untuk memantau anak-anak juga peserta didiknya dalam perkembangan teknologi, khususnya gawai.
Kini tak bisa dielakkan lagi dengan maraknya penggunaan gawai di semua kalangan. Mulai dari usia anak-anak ---bahkan balita, hingga usia dewasa tidak bisa lepas dari penggunaan gawai.
Kemudian, mengapa penggunaan gawai ini perlu dipantau, khususnya bagi kalangan anak-anak dan remaja usia sekolah? Tentu saja sangat penting. Orang dewasa mungkin bisa saja menggunakan gawainya dengan bijak, meski tak dipungkiri pula sikap kebablasan seringkali menyusup di dalamnya. Seperti penyebaran berita-berita palsu (hoax) atau konten-konten informasi yang berbau sara dan asusila kerap menjadi hantu gentayangan di siang bolong. Meskpun pemerintah tidak tinggal diam dengan mengeluarkan berbagai kebijakan terkait perkembangan teknologi komunikasi ini, namun berbagai tindak kriminalitas yang disebabkan penggunaannya yang tidak bijaksana, masih kerap terjadi. Hal ini tentu saja perlu diwaspadai.
Lalu, kapan dan bagaimana orang dewasa perlu memantau penggunaan gawai bagi anak-anak usia sekolah? Sepertinya penggunaan gawai menjadi buah simalakama bagi beberapa kalangan. Di satu sisi saat ini hampir setiap aktivitas tidak bisa lepas dari penggunaan gawai. Orang tua (dewasa) melakukan segala komunikasi dan berinteraksi tentu menggunakan gawai dengan fisilitas lengkapnya. Salah satunya adalah media sosial. Gawai dan media sosial kini menjadi bagian penting dalam era milenial.
Jika tidak bisa memilih dan memilah waktu dan keadaan bisa saja hal ini menjadi bumerang bagi pelakunya. Di satu sisi orang dewasa musti mengingatkan anak-anak dalam penggunaan gawai dan fasilitasnya, di sisi lain mereka sendiri kurang bahkan kerap tidak bersikap bijaksana. Orang tua terkadang lupa akan kewajiban terhadap putra-putrinya. Jangan heran jika kini sikap dan karakter anak usia sekolah aneh-aneh dan menghawatirkan. Mereka lebih menyerap gaya hidup dan informasi dari media social daripada suri tauladan keluarga, sekolah atau lingkungan terdekatnya.
Selain itu anak-anak dan remaja maupun orang tua/dewasa kini lebih banyak yang menyukai bacaan atau berita melalui gawai di tangan dari pada bersumber dari buku bacaan atau suratkabar. Itu hanya contoh kecil di mana penggunaan gawai sudah merasuk ke sendi-sendi kehidupan saat ini. Orang tua lebih mudah mengeluarkan biaya hanya untuk paket kuota (pulsa) demi keberlangsungan hidup gawainya daripada menyediakan anggaran untuk membeli buku bacaan bagi anak anaknya.
Haruskah kita berpangku tangan, membiarkan dunia pendidikan terlindas oleh hantu gawai? Sepatutnya kita harus bersama-sama mengencangkan ikat pinggang, lebih bijaksana lagi dalam penggunaannya. Untuk mengurangi ketergantungan pada gawai dalam lingkup keluarga bisa dibuat komitmen bersama antara orang tua dengan anak-anak. Misalnya dengan menyediakan waktu berkumpul lebih banyak, membuat jadwal membaca buku bersama di sela-sela kesibukan, berkunjung ke perpustakaan atau taman bacaan di sekitar tempat tinggal.
Semoga kita menjadi orang dewasa yang tetap mengedepankan esensi pendidikan yang utuh, dan ruh pendidikan tidak lenyap di kalangan generasi milenial. Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Cianjur, 2 Mei 2019
Rabu, 20 April 2016
Bukukan Puisi Anda, bersama FAM Wilayah Jawa Barat! [Tema Puisi “Kesan Semalam di Cianjur”]
Bukukan Puisi Anda, bersama FAM Wilayah Jawa Barat!
[Tema Puisi “Kesan Semalam di Cianjur”]
Dibuka: 25 Maret 2016
Deadline: 25 April 2016
Lagu “Semalam di Cianjur” buah karya Alfian,
pernah hits di tahun 80-an dan dilantunkan oleh banyak penyanyi, hingga membekas
di hati pencinta musik tanah air. Terinspirasi dari lahirnya lagu tersebut, FAM
Wilayah Jawa Barat mengajak Anda untuk melahirkan karya cipta tentang kesan
semalam di Cianjur melalui puisi, siapa tahu menjadi karya yang menginspirasi
banyak orang dan selalu membekas di hati.
Apa pun tentang Cianjur bisa Anda
tuliskan menjadi bait-bait puisi yang indah. Bisa berupa; pesona budaya, wisata
alam, kuliner, persahabatan, impian, dll. Meskipun Anda belum pernah ke Cianjur
(hanya tahu melalui media atau cerita teman), tak ada salahnya berimajinasi,
karena naskah puisi ini tidak harus berdasarkan kisah nyata.
Bagaimana cara mengirim puisi dan
diterbitkan di buku ini?
Pertama, penulis umum (baik
anggota FAM Indonesia maupun nonanggota), baik berdomisili di Tanah Air maupun
di Mancanegara.
Kedua, naskah puisi ditulis di microsof word 2003 atau
2007, ukuran kertas kuarto A4, jenis huruf Time New Roman, ukuran huruf 12.
Ketiga, panjang naskah puisi
maksimal 1 (satu) halaman, cukup 1 (satu) spasi (satu halaman untuk satu puisi).
Keempat, masing-masing peserta mengirimkan maksimal 2 (dua)
judul puisi bertema “Kesan Semalam di
Cianjur”. Namun puisi yang akan dipilih dari
masing-masing peserta hanya 1 (satu) puisi saja.
Kelima, Naskah Puisi harus asli karya sendiri, bukan jiplakan atau terjemahan dan sedang
tidak diikutsertakan dalam event menulis lain.
Ketujuh, naskah dikirim ke email: diefansa@yahoo.com. Naskah yang masuk akan mendapat balasan dari admin FAM Wilayah Jawa Barat. Nama-nama penulis yang naskahnya lolos akan diumumkan di grup-grup bentukan FAM Indonesia.
Demikian informasi ini kami sampaikan, hal-hal yang kurang jelas
dapat ditanyakan kepada panitia penerbitan lewat email: diefansa@yahoo.com atau
lewat sms/call ke Dedi Saeful Anwar (Koordinator
FAM Wilayah Jawa Barat) di nomor 081 710 7254.
Salam aktif!
FAM Wilayah Jawa Barat
Senin, 29 Februari 2016
[FTS] DATANG DAN PERGI
DATANG DAN PERGI
(kisah hujan dan kerbau)
Oleh: Dedi Saeful Anwar
SESUATU yang datang dan pergi selalu menimbulkan sebab akibat.
Kedatangan dan kepergian di dunia adalah hal yang wajar dan tak terbantahkan. Merupakan
sebuah hukum alam. Semua itu bukan tanpa sebab dan tujuan. Tentu semuanya ada
yang mengatur. Dialah Sang Pencipta alam semesta, Allah ‘Aza Wajalla.
Seperti hujan.
Semalam dia datang bertasbih memenuhi tugas dari-Nya. Dia menyiram tubuh bumi
yang tengah lelap tidur. Tak perduli semua gigil dan kaku, hingga desau enggan
menderu.
Pagi pun
datang memenuhi tugas seperti biasa. Namun kali ini matahari cemberut. Dia enggan
membuka jendela cahaya. Daun-daun tertunduk menahan beban air titipan hujan di pundak
mereka. Batang-batang pohon pun masih
kuyup. Rerumputan bergumul dengan sesamanya. Mereka berpelukan dan
saling merangkul tanah yang gelisah.
Burung-burung
di dahan pohon hanya beberapa saja yang terdengar cicitannya. Mereka
membangunkan teman-temannya yang masih lelap di sarang, tak luput dari terpaan
hujan.
Namun sejak kepergian
hujan, pagi memiliki banyak cerita. Udara terasa sejuk, segar, dan bersih. Semua makhluk yang bernapas
terlihat lepas dan bebas menikmati pemberian Tuhan yang tiada batas. Semua
boleh menghirup dalam-dalam kemudian membuangnya, lalu menghirup lagi,
membuangnya lagi. Begitu terus. Hingga jantung mereka dinyatakan berhenti pada
waktunya. Nikmat apa lagi yang kau dustakan?
Kepergian
hujan pun telah menyulap air selokan dan sungai melimpah tertimpa berkah.
Sawah-sawah sumringah. Aliran air mendatangkan suara khas. Mereka datang dari tempat yang agak tinggi kemudian jatuh ke
dataran yang lebih rendah menciptakan konser alam. Gemuruhnya menjadi alunan
melodi yang dipimpin oleh liukan daun-daun kelapa yang batangnya membaja. Tak
ubahnya bak seorang konduktor dalam
sebuah pagelaran orchestra.
Di kejauhan
deru traktor terdengar pongah. Ia berbeda dengan suara-suara alam. Betapa tidak.
Dia sudah menggantikan peran kerbau. Dahulu di musim penghujan seperti sekarang
ini, setiap pagi buta banyak kerbau selalu membantu petani mengolah sawah.
Kini kerbau telah
pergi menangisi nasibnya. Ia sudah lama terliminasi oleh waktu dan zaman. Walau
harga bahan-bakar terus menggelegar ibarat roket melesat menuju langit, namun
petani melihat bahwa rumput sahabat hujan yang gratis pemberian Tuhan itu, tak
lebih murah dibanding bahan bakar untuk sebuah mesin traktornya.
Hujan akan
terus datang menangisi kerbau yang entah ke mana ia telah pergi.
Cianjur, 18 April 2015
[RESENSI] SEKERAT PERSAHABATAN DALAM SECANGKIR CINTA
SEKERAT PERSAHABATAN DALAM SECANGKIR
CINTA
Judul : KAFE SERABI
Kategori : Novel
Penulis : Ade Ubaidil
Penerbit : de TEENS
ISBN :
978-602-279-158-4
Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2015
Jumlah Halaman : 188 halaman
Dimensi : 13 x
19 cm
Sebagai
makhluk sosial, setiap orang bisa dipastikan pernah memiliki sahabat dan
merasakan ikatan persahabatan. Bermula dari pertemanan biasa lalu disebabkan intensitas
pertemuan yang cukup sering kemudian mampu menimbulkan suatu ikatan kuat. Merasakan suka-duka bersama,
pahit-manis kebersamaan dalam menghadapi berbagai situasi bahkan tak jarang
memunculkan pertengkaran kecil, atau bahkan memunculkan benih-benih cinta dari
pesahabatan tersebut. Itulah sebagian warna dari pelangi persahabatan. Sebuah
masa yang dapat kita temukan dengan mudah di lingkungan tempat tinggal,
pesantren, organisasi, dan tentu saja masa-masa di bangku sekolah atau kampus.
Namun,
tak sedikit pula dari persahabatan erat itu berujung pada ikatan cinta. Benih-benih
suka yang tak disadari menyelinap di antara pertalian sahabat. Bermula dari
rasa kagum yang tak jarang pula memunculkan percikan api cinta.
Tema
inilah yang begitu kental dalam untaian kisah, kemudian diangkat menjadi sebuah
novel bertajuk “Kafe Serabi”. Sebuah fiksi dari ratusan bahkan mungkin ribuan karya
satra yang membidik para remaja namun tetap asyik dan menarik untuk disimak.
Sekalipun dibaca oleh yang telah lanjut usia atau siapapun yang pernah melewati
masa-masa indah dalam ikatan persahabatan di bangku sekolah/kampus.
***
Tersebutlah
Anggun Amaravati, seorang gadis bertubuh subur. Ia tak pernah ambil pusing
dengan posturnya yang berbeda di banding para gadis lainnya, terutama di
kampus. Sekalipun sering menjadi bahan bully
dan sasaran ejekan teman sekampusnya, Anggun tetap tegar dan tak memedulikan
mereka. Termasuk Nia, teman kuliahnya yang sok kecantikan dan sering menyakiti
Anggun.
Kecuekan
Anggun ditopang dan didukung dua sahabat kentalnya, Anton dan Mila. Semua yang
membuatnya menjadi kerdil mampu dihalau Anggun. Dan yang istimewa karakter
Anggun sangat kuat. Hal ini dibuktikan oleh penulisnya---Ade Ubaidil, bahwa
Anggun sosok gadis nyeleneh yang memiliki sahabat tidak cuma manusia, tetapi
juga sugar glider. Seekor hewan
nokturnal yang umumnya membuat para kaum hawa menjerit, Anggun malah
menjadikannya sebagai sahabat ke-tiga selain Anton dan Mila. Bukan hanya main,
makan dan tidur, bahkan saat mandi pun si binatang pemalas yang doyannya tidur
melulu itu, ikut-ikutan masuk ke kamar mandi.
Di
tengah kegalauannya mencari gebetan, saat
duduk di sebuah Kafe, secara tak sengaja Anggun bertemu dengan sosok lelaki
yang di matanya begitu sempurna. Tentu saja sesuai banget dengan kriterianya, Keanu Lazuardi. Lelaki blasteran itu
benar-benar membuat Anggun bertekuk lutut. Ia seolah-olah pangeran yang dikirim
Tuhan untuk menjadi pendamping hidupnya. Belakangan diketahui bahwa Ken---demikian
panggilan Keanu, hanya menjadikan Anggun sebagai pelarian cintanya yang tak
biasa. Hal ini memicu gadis yang memimpikan keindahan cinta itu hingga berubah
180 derajat. Cinta Anggun berbalik menjadi benci pada Ken.
Setelah
serentetan musibah dan kejadian yang menimpanya, selain kecelakaan dari motor,
hingga diketahuinya pria pujaan hatinya ternyata seorang gay, kondisi Anggun
semakin terpuruk. Ia banyak mengurung diri, menjauhi dua sahabatnya dan
mencurahkan segala isi hatinya melalui tulisan. Saat di kamar, Anggun hanya ditemani
sahabatnya, Tata, si sugar glider. Ia
menumpahkan seluruh perasannya dalam rangkaian tulisan yang kelak di akhir
certa berwujud menjadi buku. Hal yang mengantarkannya menjadi seorang penulis terkenal
atas lika-liku kisah persahabatan dan perjalanan cintanya. Lantas bagaimana
akhir kisah persahabatan Anggun, Anton dan Mila? Inilah sajian apik berupa sekerat persahabatan, dalam secangkir cinta. Segurih serabi, selegit coffe latte, meninggalkan kesan menggigit. Demikian racikan kata khas
gaya pengagum berat lagu-lagu Iwan Fals ini.
***
Kafe Serabi merupakan buku tunggal ke-dua karya mahasiswa Jurusan
Sistem Komputer Unsera-Banten yang sedang menyusun skripsi ini. Setelah buku
perdananya sukses lebih dahulu, berupa kumpulan cerpen bertajuk “Air Mata Sang Garuda”. Ade Ubaidil, pemuda
enerjik ini berhasil
mengangkat tema cinta dan persahabatan dengan apik dan menarik. Novel yang berisi 15 bagian ini
mampu mengajak pembacanya larut dalam setiap kisahnya dengan dibumbui koflik-konflik yang cukup logis. Pembaca ikut larut dalam manis, asin, pahit dan masamnya adegan
di tiap alurnya. Satu hal yang unik dalam
buku sajian penulis berkacamata
minus ini adalah penggunaan Bahasa Daerah Banten
(Bebasan Banten) dalam nama-nama bab. Mulai dari Sios (bab satu) hingga Limelas
(lima belas).
Persahabatan dan konflik cinta ibarat
bumbu wajib bagi kehidupan setiap remaja. Hingga terkadang dibutuhkan sedikit
keegoisan dalam menjalin sebuah hubungan. []
Cianjur, 10 Januari
2016
Minggu, 31 Januari 2016
[RESENSI] SENYUM GADIS BELL'S PALSY
MERAJUT SENYUM DALAM GELOMBANG KEHIDUPAN
Oleh: Dedi Saeful Anwar
Judul Buku : Senyum Gadis Bell’s Palsy
Kategori :
Novel
Penulis :
Aliya Nurlela
Penerbit :
FAM Publishing
ISBN :
978-602-335-089-6
Tahun Terbit :
Cetakan
Pertama, November 2015
Tebal : 303 Halaman; 14x20 cm
Siapa yang tidak bahagia hidup lengkap
besama kedua orangtua? Hidup tentu akan menjadi lebih indah dan tidak akan
banyak menemui kesulitan. Bisa dibayangkan bahwa kita bisa bermanja dan
berkeluh kesah di pangkuan Ibu tercinta atau bercanda riang di pundak kekar
seorang ayah yang tersayang. Perjuangan hidup pun tentu seyogyanya akan menjadi
lebih ringan dan mulus.
Tetapi manakala kedua orang tua kita
sudah tiada sementara perjuangan hidup masih panjang tentu bukan perkara mudah
dan sepele. Berjuang untuk hidup tanpa kedua orang tua bila menimpa kepada anak
muda yang tidak memiliki dasar agama tentu akan menjadi lain persoalannya.
Alih-alaih mau meraih mimpi dan pelangi hidup, justru tidak menutup kemungkinan
malah akan berujung pada hal-hal yang menjerumuskan pada lubang kenistaan.
Tidak demikian dengan dua kakak-
beradik---Delima dan Fariz. Sang kakak begitu telaten menjaga adik semata
wayangnya. Dia bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan adiknya.
Hingga memasuki usia 25 tahun Faris masih belum menikah demi membiayai adik
semata wayangnya yang menimba ilmu di bangku kuliah. Secara tidak langsung sang
kakak tersebut telah menjadi ayah sekaligus ibu bagi Delima.
Live
is never flat begitu
sebuah ungkapan pupuler. Bahwa hidup itu penuh dengan ujian dan gelombang.
Demikian pula dengan kehidupan yang menimpa gadis manis yang gemar membaca ini.
Kegemarannya ini pun tak jarang sering menjadi pemicu pertengkaran kecil dengan
kekasihnya, Bagas.
Ujian demi ujian menimpa kehidupan wanita
periang ini. tiba-tiba ia mendapat ujian dengan sebuah penyakit aneh. Penyakit
yang membuatnya sulit untuk tersenyum. Sebuah penyaki aneh yang menurut dunia
pengobatan termasuk penyakit yang sulit diobati, yaitu bell’s palsy (kelumpuhan separuh syaraf
wajah).
Siapa yang
tidak akan bersedih jika ditimpa sebuah penyakit? Apalagi itu penyakit aneh dan
sulit pengobatannya. Inilah ujian terberat yang diberikan Sangmaha Kuasa pada
kehidupan Delima.
Kesedihan berikutnya saat Bagas dengan
terang-terangan memutuskan Delima di hadapan teman-teman kuliahnya. Walau
seiring berjalannya waktu gadis tersebut mampu menerima kenyataan ditinggalkan
orang yang ia cintai.
Dalam perjuangan mencari pengobatan
pun Delima mendapat rintangan dari
kakaknya ketika ia pergi ke seorang dukun atau “orang-pintar” demi
kesembuhannya. Hal itu memicu perbedaan faham dengan kakaknya yang taat dalam
menjalankan syariat agama Islam.
Dalam kegelisahan dan keputusasaan,
Delima akhirnya lebih banyak mengurung diri. Namun ia seperti mendapat tempat
untuk menyalurkan hobinya dalam menulis. Di saat-saat kesendiriannya tersebut
dia banyak menulis berbagai tulisan dan mengirimkannya ke berbagai media yang
memuat karya-karya tulisannya
Hingga dia bertemu seseorang yang
kembali menumbuhkan benih-benih cinta, Ziyad Amru. Seorang fotografer dari Ibu
Kota. Tetapi ternyata perjalanan cinta Delima kembali tidak berjalan mulus.
Dalam ketidakberdayaan cinta mereka tidak mampu terungkapkan secara lisan dan
sempat terjadi konflik yang memisahkan keduanya. Hingga di saat keduanya
mengetahui bahwa di antara mereka saling menyintai. Ziyad harus berpulang
menghadap Yang Maha Kuasa akibat sebuah kecelakaan.
Akankah Delima menemukan kembali
senyumnya yang hilang? Akankah tabir kehidupan yang selalu berselimut kabut
penderitaan segera tersingkap? Akankah Delima kembali dapat merajut
senyum dalam setiap riak dan gelombang kehidupannya? Membaca novel ke-dua karya Aliya Nurlela ini benar-benar
menguras emosi dan mengaduk perasaan setiap yang membaca.
Novel dengan disain kover yang menarik
ini pantas dan layak diapresiasi setelah kesuksesan novel yang pertama “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh (LCBKG)”.
Buku ini kembali mampu membuka pikiran dan mata hati para pembaca setia dari karya-karyanya
akan setiap peristiwa hidup dan kehidupan. Sekalipun ini bukan kisah nyata,
namun karena penyakit Bell’s Palsy
yang pernah menyerang penulis asal kota Galuh, Ciamis ini mampu menghadirkan
setiap plot dan alur di dalamnya benar-benar hidup dan mengajak pembaca larut
ke setiap lembar kisahnya.
Sebuah perenungan yang dalam atas musibah
(penyakit) yang ditimpakan oleh Allah
SWT. Rangkaian kisahnya berhasil membuka mata dan pikiran penikmat karya
sastra. Buku ini mengajak kita untuk selalu bermuhasabah dalam setiap
ujian-Nya. Di balik musibah tentu ada hikmah. []
Cianjur, 2 November 2015
Sabtu, 30 Januari 2016
[RESENSI] NOVEL LCBKG, METAMORFOSA SEORANG GADIS DESA
METAMORFOSA SEORANG GADIS DESA
Oleh: Dedi Saeful Anwar
Judul : Lukisan
Cahaya di Batas Kota Galuh (LCBKG)
Kategori :
Novel
Penulis :
Aliya Nurlela
Penerbit :
FAM Publishing
ISBN :
978-602-7956-53-7
Tahun Terbit :
Cetakan Pertama, Maret
2014
Tebal
: 505 halaman; 13x21 cm
Sebuah novel
merupakan suatu bentuk karya sastra yang menjadi salah satu buruan, baik itu oleh
para penikmat sastra maupun pencinta buku. Tidak sedikit novel terbitan dari
dalam maupun dari luar negeri yang mampu menciptakan fanatisme penggemarnya. Bahkan
mampu memengaruhi serta mewarnai kehidupan di lingkungan atau masyarakat luas.
Sebut saja novel
dari luar negeri, seperti novel “Harry
Potter”, karya JK. Rowling. Atau novel dari dalam negeri yang tak kalah
membuat ramai dunia sastra seperti “Laskar
Pelangi” karya Andrea Hirata. Kedua novel tersebut hanya sedikit contoh
dari sekian banyak karya sastra yang memiliki karakter kuat dan sangat digilai oleh para penggemarnya. Hingga
keduanya kemudian diangkat menjadi film layar lebar yang meraup kesuksesan dan
keuntungan yang luar biasa.
Maka tak
heran, kini banyak penulis karya sastra yang berusaha terus menghadirkan
suguhan berupa karya menarik dan tentu saja menginspirasi banyak orang.
Demikian pula
dengan buku ini. Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”,
yang selanjutkan disingkat “LCBKG”. Novel yang kental sekali dengan latar
belakang salah satu kota di Tatar Parahyangan, Ciamis. Ini merupakan sebuah
novel yang mampu menghadirkan sesuatu yang menarik untuk disimak oleh para
pembacanya. Sebuah novel yang patut mendapat apresiasi dari semua kalangan
pencinta buku, khususnya penikmat karya sastra yang apik.
***
Tersebutlah
Amila. Seorang gadis belia yang memiliki sifat-sifat lemah. Rapuh, cengeng,
penakut, dan minder bahkan cenderung manja. Sebuah gambaran umum yang menjadi
ciri seorang wanita. Namun perjalanan hidup yang tidak singkat telah mengubah
berbagai karakter/sifat yang berindikasi lemah dan tak berdaya itu menjadi
sebuah karakter kuat serta penuh pecaya diri.
Bagi seorang
gadis desa perjalan hidup tak ubahnya ibarat sebuah kepompong. Hidup yang penuh
liku dan tantangan menjadikan Amila---seorang gadis desa yang sangat lugu---
berubah menjadikan sesosok wanita yang taat beragama dan penuh prestasi serta
mengagumkan banyak orang.
Terlahir
dari keluarga pendidik, Amila kecil bisa dikatakan sangat beruntung di banding
dengan anak-anak seusianya kala itu. Walau hidup di sebuah pedalaman kampung
Cilimus, Desa Indragiri, Ciamis, namun dia tidak kekurangan sumber bacaan yang dijadikannya
sebagai teman sehari-hari.
Pertemanannya
dengan berbagai buku dan sumber bacaan, membuat gadis berambut panjang tersebut
memiliki hobi menulis. Segala apa yang dirasakan dan dipikirkannya akan dia
tulis dalam buku hariannya. Dia mulai menyukai tempat-tempat yang mendatangkan
inpirasinya. Dialah alam yang berada di sekeliling kampung di mana ia tinggal.
Ia
menjadikan air, udara, pepohonan dan lingkungan sekitarnya sebagai teman setianya
di kala bermain. Suasana desa yang damai menjadi tempat untuk mencurahkan
segala apa yang ada dalam pikirannya.
Masa
kecil hingga masa remajanya menjadikan Amila sebagai sosok perempuan yang
selalu bersyukur. Hingga dia memutuskan untuk berhijab ketika bersekolah di
sebuah SMA. Masa di mana para gadis ingin menunjukkan jadi dirinya, sedangkan
Amila justru malah meninggalkan masa yang menyenangkan itu. Dia tumbuh menjadi
gadis yang berhijab. Hingga perubahan demi perubahan dalam hidupnya terus
berlanjut.
Lika-liku
perjalanan hidupnya yang penuh kejutan dan tak bisa diduga, semenjak ia masuk
sekolah di usia yang belum genap berusia lima tahun hingga menyelesaikan
studinya di bangku kuliah, hingga petualangannya mengejar karir dalam
berkesenian, dan penculikan serta penyekapan oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan
situasi, telah menjadikan Amila sebagai seorang gadis yang berubah drastis dan
realistis dalam menyikapi hidup.
Dia
yakin bahwa Allah SWT sudah menyiapkan skenario terbaik bagi jalan hidup hamba-Nya.
Karakter kuat ini terlihat nyata saat dia mendapat perlakuan keji dari seorang
pemuda kampung yang memiliki dendam setelah cintanya ditolak Amila. Gadis
penurut itu tak mau menceritakan penderitaannya kepada siapapun termasuk orang
tuanya sendiri. Hingga sebuah doanya membuat pemuda itu berubah pikiran 180
derajat dengan meminta maaf atas perlakuannya yang jahat kepada Amila.
Kemudian
sikap berserah diri Amila pada Sang Mahapengatur, manakala ia harus memilih
pendamping hidup bersama pemuda yang sebelumnya tidak dia kenal ataupun ia cintai.
***
Novel
yang berhasil mengaduk-aduk perasaan pembacanya ini, mengisahkan berbagai sisi
kehidupan seorang wanita. Seorang yang mencari kehormatan sebagai seorang
wanita seutuhnya. Dibalut dengan setting
tatar Sunda yang kental, Sang penulis---Aliya Nurlela, berhasil menyuguhkan
karya sastra yang santun dan apik. Melalui deskripsi yang manis dan lugas, hal
ini semakin menguatkan pencitraan dan karakter yang kuat dalam buku ini.
Sebuah
buku yang patut mendapat apresiasi dari kalangan pencinta sastra di negeri ini.
Buku yang sarat pesan moral ini, sangat inspiratif dan tentu saja cocok untuk
dibaca semua kalangan, terutama para pelajar, guru, dan khalayak umum lainnya. Setiap
buku tentu memiliki ciri khas tersendiri. Mulai dari latar belakang penulisnya,
selama proses kreatif hingga berujung pada lahirnya karya itu sendiri. Termasuk
karya tulis sastra yang berjenis novel ini.
Lukisan
Cahaya di Batas Kota Galuh adalah satu di antara buku yang memiliki kekhasan
tersendiri itu. Sangat recomended
untuk pencinta sastra! []
Cianjur, 13 Oktober
2015
Langganan:
Postingan (Atom)




