BEDAH BUKU SENYUM NOLINA

BEDAH BUKU SENYUM NOLINA
NOVELET "PETUALANGAN KUBIL DAN KAWAN-KAWAN" karya Dedi Saeful Anwar ini sudah bisa dipesan. Harga Rp91.000 (belum ongkir).

Jumat, 03 Mei 2019

TAMU AGUNG ITU BERNAMA RAMADAN

TAMU AGUNG ITU BERNAMA RAMADAN

Oleh: DS. Anwar

Tamu adalah seorang atau beberapa orang yang hadir atau berkunjung ke sebuah tempat atau perjamuan. Umumnya tamu disambut dengan bermacam cara atau prosesi. Begitupun dengan sang tuan rumah atau pengundang. Sang tuan rumah biasanya mempersiapkan tempat dan segala sesuatunya untuk menjamu tamu. Mulai dari gerbang, halaman, pintu masuk, kursi hingga segala menu dalam jamuan. Semua disiapkan selengkap dan semaksimal mungkin. Mengapa hal itu dilakukan? Tentu saja demi melayani sang tamu agar tercipta pelayanan yang memuaskan dan menyenangkan.

Lantas bagaimana jika sang tamu bergelar “Tamu Agung”?  Tentu saja segalanya jauh lebih istimewa dibanding dengan persiapan untuk menyambut tamu. Bisa jadi tuan rumah akan menyediakan “red carpet”, prosesi upacara adat atau tari-tarian khusus, pengalungan bunga, bahkan jamuan pun akan disiapkan menu paling istimewa. Semua daya, biaya dan konsentrasi pasti terkuras dan tercurah demi mempertaruhkan kredibilitas sang tuan rumah. Tuan rumah tidak mau menjatuhkan harga dirinya hanya karena kurang maksimal dalam menyambut dan menjamu sang “tamu (agung)” tersebut.

Begitu pula saat ini. Beberapa hari ke depan ummat muslim di seluruh belahan dunia pun akan kedatangan tamu, dan termasuk tamu agung. Tamu ini sangat agung yang super spesial. Tetapi bukan orang atau beberapa orang. Ia adalah sebuah bulan yang istimewa. Ialah Ramadan. Mengapa disebut tamu agung? Tengok saja di sekeliling kita. Aromanya sudah tercium sejak dua bulan sebelumnya. Semua ummat muslim telah memanjatkan doa sejak bulan Rajab agar umurnya disampaikan dan dipertemukan dengan "Bulan Seribu Bulan" ini.

Lalu, persiapan seperti apa yang dilakukan ummat muslim di seluruh belahan dunia ini demi menyambut sang tamu agung yang istimewa ini? Tentu saja jawabananya akan beragam. Jika prosesi penyambutannya dikaitkan dengan adat dan budaya para penghuni di bumi ini. Namun secara umum, semua ummat muslim sejak bulan Rajab telah mempersiapkan dirinya dengan berlatih jasmani dan rohaninya yang diawali dengan berbagai puasa sunnah di bulan-bulan sebelumnya.

Sebagai tamu agung, selain sudah disambut sejak dua bulan lalu, Ramadan ini benar-benar akan dijamu selama sebulan penuh dengan berbagai jamuan oleh para perindu ampunan. Semua ummat muslim akan menyambut dan menjamu Bulan Suci ini dengan penuh kehangatan di rumah-rumah yang penuh senyum silaturahim seluruh penghuninya. Hari-hari biasa, banyak yang jarang atau tidak makan pagi, siang dan malam secara bersama, tetapi di bulan Ramadan ini semua akan selalu menikmati hidangan berkumpul penuh keceriaan. Berkumpul dan bersama menikmati kelezatan hidangan mulai sahur hingga berbuka pada waktunya. Baik dengan keluarga terdekat, maupun teman, sahabat dan kerabat.

Seluruh masjid dan surau akan penuh dengan salat tarawih berjamaah. Riuh dengan gemuruh tadarus. Rumah-rumah yatim akan disinggahi berbagai sedekah dan para pencari berkah.  Pasar-pasar akan diserbu para ibu yang bersemangat mencari pahala untuk menghidangkan menu terbaik demi menjamu para pejuang puasa. Semua akan terlihat indah dan harmoni. Semua berseri menyambut tamu agung, bulan suci penuh berkah.

Tidak berlebihan jika semua bersiap menyambut tamu agung yang sangat istimewa ini. Semoga puasa-puasa sunnah di bulan sebelumnya menjadi modal untuk perjalanan selama bulan suci. Semoga segala persiapan lahir bathin yang dipersiapkan menjadi kekuatan untuk menjamu tamu yang dirindukan seluruh penghuni semesta ini.

Semoga umur kita sampai di bulan Ramadan. “Ya, Allah berkahilah kami di Bulan Rajab dan Sya’ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadan.” Marhaban yaa, Ramadan.[]

Cianjur, 3 Mei 2019

GAWAI DAN PENGARUHNYA DALAM DUNIA PENDIDIKAN DI ERA MILENIAL

GAWAI DAN PENGARUHNYA DALAM DUNIA PENDIDIKAN
DI ERA MILENIAL

Oleh: DS. Anwar

Dunia pendidikan akan selalu menjadi sorotan yang menarik untuk dikuliti, karena pendidikan tidak akan lepas dari kehidupan ini selama hayat dikandung badan. Pendidikan menjadi salah satu dari sekian banyak hal penting lainnya dalam kehidupan manusia. Di manapun dan kapanpun manusia tidak akan lepas dari pendidikan, baik langsung maupun tidak. Secara harfiah pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian.

Dalam Al Qur’an, Surat Al-‘Alaq (QS.96) ayat 1-5 merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi landasan bahwa manusia dituntut untuk senantiasa membaca dan belajar. Kita tidak hanya dituntut untuk bisa membaca ayat-ayat qauliyah (ayat-ayat yang tertulis dan difirmankan Allah SWT), namun perlu berpikir luas dan membaca ayat-ayat kauniyah (alam semesta dengan segala peristiwanya). Hal ini sangat dibutuhkan dalam ranah pendidikan.

Kemudian bagaimana kita menyikapi dunia pendidikan di era milenial yang berkaitan erat dengan perkembangan teknologi informasi ini? Masa yang begitu terpengaruh gawai dan harus disikapi dengan segala kesiapan. Semua lini kehidupan sepertinya tidak bisa menghindar dari perkembangan teknologi informasi yang dinamis, termasuk dunia pendidikan.

Pendidikan di masa lalu dan masa kini tentu berbeda. Setiap generasi memiliki keragaman dalam menjalani masa pendidikannya. Pendidikan saat ini tidak dapat lepas dari perkembangan teknologi. Mulai dari subyek maupun obyek pendidikan itu sendiri. Kini hampir segala hal berbasis teknologi. Bahkan ujian nasional yang semula berbasis kertas dan pensil (UNKP) kini pun sudah mulai menggunakan teknologi, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Meskipun belum merata di semua daerah dengan segudang permasalahannya.

Lantas, bagaimana dengan anak-anak kita dalam menghadapi masa menuntut ilmu di era milenial? Hal ini memerlukan sikap arif dan bijaksana dari semua kalangan. Orang dewasa, dalam hal ini orang tua dan para pendidik dituntut untuk memantau anak-anak juga peserta didiknya dalam perkembangan teknologi, khususnya gawai.
Kini tak bisa dielakkan lagi dengan maraknya penggunaan gawai di semua kalangan. Mulai dari usia anak-anak ---bahkan balita, hingga usia dewasa tidak bisa lepas dari penggunaan gawai.

Kemudian, mengapa penggunaan gawai ini perlu dipantau, khususnya bagi kalangan anak-anak dan remaja usia sekolah? Tentu saja sangat penting. Orang dewasa mungkin bisa saja menggunakan gawainya dengan bijak, meski tak dipungkiri pula sikap kebablasan seringkali menyusup di dalamnya. Seperti penyebaran berita-berita palsu (hoax) atau konten-konten informasi yang berbau sara dan asusila kerap menjadi hantu gentayangan di siang bolong. Meskpun pemerintah tidak tinggal diam dengan mengeluarkan berbagai kebijakan terkait perkembangan teknologi komunikasi ini, namun berbagai tindak kriminalitas yang disebabkan penggunaannya yang tidak bijaksana, masih kerap terjadi. Hal ini tentu saja perlu diwaspadai.

Lalu, kapan dan bagaimana orang dewasa perlu memantau penggunaan gawai bagi anak-anak usia sekolah? Sepertinya penggunaan gawai menjadi buah simalakama bagi beberapa kalangan. Di satu sisi saat ini hampir setiap aktivitas tidak bisa lepas dari penggunaan gawai. Orang tua (dewasa) melakukan segala komunikasi dan berinteraksi tentu menggunakan gawai dengan fisilitas lengkapnya. Salah satunya adalah media sosial. Gawai dan media sosial kini menjadi bagian penting dalam era milenial.

Jika tidak bisa memilih dan memilah waktu dan keadaan bisa saja hal ini menjadi bumerang bagi pelakunya. Di satu sisi orang dewasa musti mengingatkan anak-anak dalam penggunaan gawai dan fasilitasnya, di sisi lain mereka sendiri kurang bahkan kerap tidak bersikap bijaksana. Orang tua terkadang lupa akan kewajiban terhadap putra-putrinya. Jangan heran jika kini sikap dan karakter anak usia sekolah aneh-aneh dan menghawatirkan. Mereka lebih menyerap gaya hidup dan informasi dari media social daripada suri tauladan keluarga, sekolah atau lingkungan terdekatnya. 
Selain itu anak-anak dan remaja maupun orang tua/dewasa kini lebih banyak yang menyukai bacaan atau berita melalui gawai di tangan dari pada bersumber dari buku bacaan atau suratkabar. Itu hanya contoh kecil di mana penggunaan gawai sudah merasuk ke sendi-sendi kehidupan saat ini. Orang tua lebih mudah mengeluarkan biaya hanya untuk paket kuota (pulsa) demi keberlangsungan hidup gawainya daripada menyediakan anggaran untuk membeli buku bacaan bagi anak anaknya.

Haruskah kita berpangku tangan, membiarkan dunia pendidikan terlindas oleh hantu gawai? Sepatutnya kita harus bersama-sama mengencangkan ikat pinggang, lebih bijaksana lagi dalam penggunaannya. Untuk mengurangi ketergantungan pada gawai dalam lingkup keluarga bisa dibuat komitmen bersama antara orang tua dengan anak-anak. Misalnya dengan menyediakan waktu berkumpul lebih banyak, membuat jadwal membaca buku bersama di sela-sela kesibukan, berkunjung ke perpustakaan atau taman bacaan di sekitar tempat tinggal.

Semoga kita menjadi orang dewasa yang tetap mengedepankan esensi pendidikan yang utuh, dan ruh pendidikan tidak lenyap di kalangan generasi milenial. Selamat Hari Pendidikan Nasional!

Cianjur, 2 Mei 2019

Rabu, 20 April 2016

Bukukan Puisi Anda, bersama FAM Wilayah Jawa Barat! [Tema Puisi “Kesan Semalam di Cianjur”]

Bukukan Puisi Anda, bersama FAM Wilayah Jawa Barat!
[Tema PuisiKesan Semalam di Cianjur”]
Dibuka: 25 Maret 2016
Deadline: 25 April 2016



Lagu “Semalam di Cianjur” buah karya Alfian, pernah hits di tahun 80-an dan dilantunkan oleh banyak penyanyi, hingga membekas di hati pencinta musik tanah air. Terinspirasi dari lahirnya lagu tersebut, FAM Wilayah Jawa Barat mengajak Anda untuk melahirkan karya cipta tentang kesan semalam di Cianjur melalui puisi, siapa tahu menjadi karya yang menginspirasi banyak orang dan selalu membekas di hati.
            Apa pun tentang Cianjur bisa Anda tuliskan menjadi bait-bait puisi yang indah. Bisa berupa; pesona budaya, wisata alam, kuliner, persahabatan, impian, dll. Meskipun Anda belum pernah ke Cianjur (hanya tahu melalui media atau cerita teman), tak ada salahnya berimajinasi, karena naskah puisi ini tidak harus berdasarkan kisah nyata.
Bagaimana cara mengirim puisi dan diterbitkan di buku ini?
Pertama, penulis umum (baik anggota FAM Indonesia maupun nonanggota), baik berdomisili di Tanah Air maupun di Mancanegara.
Kedua, naskah puisi ditulis di microsof word 2003 atau 2007, ukuran kertas kuarto A4, jenis huruf Time New Roman, ukuran huruf 12.
Ketiga, panjang naskah puisi maksimal 1 (satu) halaman, cukup 1 (satu) spasi (satu halaman untuk satu puisi).
Keempat, masing-masing peserta mengirimkan maksimal 2 (dua) judul puisi bertema “Kesan Semalam di Cianjur”. Namun puisi yang akan dipilih dari masing-masing peserta hanya 1 (satu) puisi saja.

Kelima, Naskah Puisi harus asli karya sendiri, bukan jiplakan atau terjemahan dan sedang tidak diikutsertakan dalam event menulis lain.

Keenam, di bawah naskah mencantumkan profil penulis dalam bentuk narasi (maksimal 10 baris) serta foto diri, dan mencantumkan alamat domisili, email dan nomor telepon yang dapat dihubungi.
Ketujuh, naskah dikirim ke email: diefansa@yahoo.com. Naskah yang masuk akan mendapat balasan dari admin FAM Wilayah Jawa Barat. Nama-nama penulis yang naskahnya lolos akan diumumkan di grup-grup bentukan FAM Indonesia.

Demikian informasi ini kami sampaikan, hal-hal yang kurang jelas dapat ditanyakan kepada panitia penerbitan lewat email: diefansa@yahoo.com atau lewat sms/call ke Dedi Saeful Anwar (Koordinator FAM Wilayah Jawa Barat) di nomor 081 710 7254.

Salam aktif!

FAM Wilayah Jawa Barat

Senin, 29 Februari 2016

[FTS] DATANG DAN PERGI

DATANG DAN PERGI
(kisah hujan dan kerbau)


Oleh: Dedi Saeful Anwar

SESUATU yang datang dan pergi selalu menimbulkan sebab akibat. Kedatangan dan kepergian di dunia adalah hal yang wajar dan tak terbantahkan. Merupakan sebuah hukum alam. Semua itu bukan tanpa sebab dan tujuan. Tentu semuanya ada yang mengatur. Dialah Sang Pencipta alam semesta, Allah ‘Aza Wajalla.
Seperti hujan. Semalam dia datang bertasbih memenuhi tugas dari-Nya. Dia menyiram tubuh bumi yang tengah lelap tidur. Tak perduli semua gigil dan kaku, hingga desau enggan menderu.
Pagi pun datang memenuhi tugas seperti biasa. Namun kali ini matahari cemberut. Dia enggan membuka jendela cahaya. Daun-daun tertunduk menahan beban air titipan hujan di pundak mereka. Batang-batang pohon pun masih  kuyup. Rerumputan bergumul dengan sesamanya. Mereka berpelukan dan saling merangkul tanah yang gelisah.
Burung-burung di dahan pohon hanya beberapa saja yang terdengar cicitannya. Mereka membangunkan teman-temannya yang masih lelap di sarang, tak luput dari terpaan hujan.
Namun sejak kepergian hujan, pagi memiliki banyak cerita. Udara terasa sejuk,  segar, dan bersih. Semua makhluk yang bernapas terlihat lepas dan bebas menikmati pemberian Tuhan yang tiada batas. Semua boleh menghirup dalam-dalam kemudian membuangnya, lalu menghirup lagi, membuangnya lagi. Begitu terus. Hingga jantung mereka dinyatakan berhenti pada waktunya. Nikmat apa lagi yang kau dustakan?
Kepergian hujan pun telah menyulap air selokan dan sungai melimpah tertimpa berkah. Sawah-sawah sumringah. Aliran air mendatangkan suara khas. Mereka datang  dari tempat yang agak tinggi kemudian jatuh ke dataran yang lebih rendah menciptakan konser alam. Gemuruhnya menjadi alunan melodi yang dipimpin oleh liukan daun-daun kelapa yang batangnya membaja. Tak ubahnya  bak seorang konduktor dalam sebuah pagelaran orchestra.
Di kejauhan deru traktor terdengar pongah. Ia berbeda dengan suara-suara alam. Betapa tidak. Dia sudah menggantikan peran kerbau. Dahulu di musim penghujan seperti sekarang ini, setiap pagi buta banyak kerbau selalu membantu petani mengolah sawah.
Kini kerbau telah pergi menangisi nasibnya. Ia sudah lama terliminasi oleh waktu dan zaman. Walau harga bahan-bakar terus menggelegar ibarat roket melesat menuju langit, namun petani melihat bahwa rumput sahabat hujan yang gratis pemberian Tuhan itu, tak lebih murah dibanding bahan bakar untuk sebuah mesin traktornya.
Hujan akan terus datang menangisi kerbau yang entah ke mana ia telah pergi.


Cianjur, 18 April 2015

[RESENSI] SEKERAT PERSAHABATAN DALAM SECANGKIR CINTA

SEKERAT PERSAHABATAN DALAM SECANGKIR CINTA

Oleh: Dedi Saeful Anwar

Judul                           : KAFE SERABI
Kategori                      : Novel
Penulis                         : Ade Ubaidil
Penerbit                       : de TEENS
ISBN                           : 978-602-279-158-4
Tahun Terbit                : Cetakan I, Agustus 2015
Jumlah Halaman          : 188 halaman
Dimensi                       : 13 x 19 cm

Sebagai makhluk sosial, setiap orang bisa dipastikan pernah memiliki sahabat dan merasakan ikatan persahabatan. Bermula dari pertemanan biasa lalu disebabkan intensitas pertemuan yang cukup sering kemudian mampu menimbulkan suatu  ikatan kuat. Merasakan suka-duka bersama, pahit-manis kebersamaan dalam menghadapi berbagai situasi bahkan tak jarang memunculkan pertengkaran kecil, atau bahkan memunculkan benih-benih cinta dari pesahabatan tersebut. Itulah sebagian warna dari pelangi persahabatan. Sebuah masa yang dapat kita temukan dengan mudah di lingkungan tempat tinggal, pesantren, organisasi, dan tentu saja masa-masa di bangku sekolah atau kampus.
Namun, tak sedikit pula dari persahabatan erat itu berujung pada ikatan cinta. Benih-benih suka yang tak disadari menyelinap di antara pertalian sahabat. Bermula dari rasa kagum yang tak jarang pula memunculkan percikan api cinta.
Tema inilah yang begitu kental dalam untaian kisah, kemudian diangkat menjadi sebuah novel bertajuk “Kafe Serabi”. Sebuah fiksi dari ratusan bahkan mungkin ribuan karya satra yang membidik para remaja namun tetap asyik dan menarik untuk disimak. Sekalipun dibaca oleh yang telah lanjut usia atau siapapun yang pernah melewati masa-masa indah dalam ikatan persahabatan di bangku sekolah/kampus.
***
Tersebutlah Anggun Amaravati, seorang gadis bertubuh subur. Ia tak pernah ambil pusing dengan posturnya yang berbeda di banding para gadis lainnya, terutama di kampus. Sekalipun sering menjadi bahan bully dan sasaran ejekan teman sekampusnya, Anggun tetap tegar dan tak memedulikan mereka. Termasuk Nia, teman kuliahnya yang sok kecantikan dan sering menyakiti Anggun.
Kecuekan Anggun ditopang dan didukung dua sahabat kentalnya, Anton dan Mila. Semua yang membuatnya menjadi kerdil mampu dihalau Anggun. Dan yang istimewa karakter Anggun sangat kuat. Hal ini dibuktikan oleh penulisnya---Ade Ubaidil, bahwa Anggun sosok gadis nyeleneh yang memiliki sahabat tidak cuma manusia, tetapi juga sugar glider. Seekor hewan nokturnal yang umumnya membuat para kaum hawa menjerit, Anggun malah menjadikannya sebagai sahabat ke-tiga selain Anton dan Mila. Bukan hanya main, makan dan tidur, bahkan saat mandi pun si binatang pemalas yang doyannya tidur melulu itu, ikut-ikutan masuk ke kamar mandi.
Di tengah kegalauannya mencari gebetan, saat duduk di sebuah Kafe, secara tak sengaja Anggun bertemu dengan sosok lelaki yang di matanya begitu sempurna. Tentu saja sesuai banget dengan kriterianya, Keanu Lazuardi. Lelaki blasteran itu benar-benar membuat Anggun bertekuk lutut. Ia seolah-olah pangeran yang dikirim Tuhan untuk menjadi pendamping hidupnya. Belakangan diketahui bahwa Ken---demikian panggilan Keanu, hanya menjadikan Anggun sebagai pelarian cintanya yang tak biasa. Hal ini memicu gadis yang memimpikan keindahan cinta itu hingga berubah 180 derajat. Cinta Anggun berbalik menjadi benci pada Ken.
Setelah serentetan musibah dan kejadian yang menimpanya, selain kecelakaan dari motor, hingga diketahuinya pria pujaan hatinya ternyata seorang gay, kondisi Anggun semakin terpuruk. Ia banyak mengurung diri, menjauhi dua sahabatnya dan mencurahkan segala isi hatinya melalui tulisan. Saat di kamar, Anggun hanya ditemani sahabatnya, Tata, si sugar glider. Ia menumpahkan seluruh perasannya dalam rangkaian tulisan yang kelak di akhir certa berwujud menjadi buku. Hal yang mengantarkannya menjadi seorang penulis terkenal atas lika-liku kisah persahabatan dan perjalanan cintanya. Lantas bagaimana akhir kisah persahabatan Anggun, Anton dan Mila? Inilah sajian apik berupa sekerat persahabatan, dalam secangkir cinta.  Segurih serabi, selegit coffe latte, meninggalkan kesan menggigit. Demikian racikan kata khas gaya pengagum berat lagu-lagu Iwan Fals ini.
***
Kafe Serabi merupakan buku tunggal ke-dua karya mahasiswa Jurusan Sistem Komputer Unsera-Banten yang sedang menyusun skripsi ini. Setelah buku perdananya sukses lebih dahulu, berupa kumpulan cerpen bertajuk “Air Mata Sang Garuda”. Ade Ubaidil, pemuda enerjik ini berhasil mengangkat tema cinta dan persahabatan dengan apik dan menarik. Novel yang berisi 15 bagian ini mampu mengajak pembacanya larut dalam setiap kisahnya dengan dibumbui koflik-konflik yang cukup logis. Pembaca ikut larut dalam manis, asin, pahit dan masamnya adegan di tiap alurnya. Satu hal yang unik dalam buku sajian penulis berkacamata minus ini adalah penggunaan Bahasa Daerah Banten (Bebasan Banten) dalam nama-nama bab. Mulai dari Sios (bab satu) hingga Limelas (lima belas).
Persahabatan dan konflik cinta ibarat bumbu wajib bagi kehidupan setiap remaja. Hingga terkadang dibutuhkan sedikit keegoisan dalam menjalin sebuah hubungan. []


Cianjur, 10 Januari 2016

Minggu, 31 Januari 2016

[RESENSI] SENYUM GADIS BELL'S PALSY

MERAJUT SENYUM DALAM GELOMBANG KEHIDUPAN

Oleh: Dedi Saeful Anwar


Judul Buku                : Senyum Gadis Bell’s Palsy
Kategori                     : Novel
Penulis                        : Aliya Nurlela
Penerbit                      : FAM Publishing
ISBN                           : 978-602-335-089-6
Tahun Terbit             : Cetakan Pertama, November 2015
Tebal                          : 303 Halaman; 14x20 cm


Siapa yang tidak bahagia hidup lengkap besama kedua orangtua? Hidup tentu akan menjadi lebih indah dan tidak akan banyak menemui kesulitan. Bisa dibayangkan bahwa kita bisa bermanja dan berkeluh kesah di pangkuan Ibu tercinta atau bercanda riang di pundak kekar seorang ayah yang tersayang. Perjuangan hidup pun tentu seyogyanya akan menjadi lebih ringan dan mulus.
Tetapi manakala kedua orang tua kita sudah tiada sementara perjuangan hidup masih panjang tentu bukan perkara mudah dan sepele. Berjuang untuk hidup tanpa kedua orang tua bila menimpa kepada anak muda yang tidak memiliki dasar agama tentu akan menjadi lain persoalannya. Alih-alaih mau meraih mimpi dan pelangi hidup, justru tidak menutup kemungkinan malah akan berujung pada hal-hal yang menjerumuskan pada lubang kenistaan.
Tidak demikian dengan dua kakak- beradik---Delima dan Fariz. Sang kakak begitu telaten menjaga adik semata wayangnya. Dia bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan adiknya. Hingga memasuki usia 25 tahun Faris masih belum menikah demi membiayai adik semata wayangnya yang menimba ilmu di bangku kuliah. Secara tidak langsung sang kakak tersebut telah menjadi ayah sekaligus ibu bagi Delima.
Live is never flat begitu sebuah ungkapan pupuler. Bahwa hidup itu penuh dengan ujian dan gelombang. Demikian pula dengan kehidupan yang menimpa gadis manis yang gemar membaca ini. Kegemarannya ini pun tak jarang sering menjadi pemicu pertengkaran kecil dengan kekasihnya, Bagas.
Ujian demi ujian menimpa kehidupan wanita periang ini. tiba-tiba ia mendapat ujian dengan sebuah penyakit aneh. Penyakit yang membuatnya sulit untuk tersenyum. Sebuah penyaki aneh yang menurut dunia pengobatan termasuk penyakit yang sulit diobati, yaitu bell’s palsy (kelumpuhan separuh syaraf wajah).
Siapa yang tidak akan bersedih jika ditimpa sebuah penyakit? Apalagi itu penyakit aneh dan sulit pengobatannya. Inilah ujian terberat yang diberikan Sangmaha Kuasa pada kehidupan Delima.
Kesedihan berikutnya saat Bagas dengan terang-terangan memutuskan Delima di hadapan teman-teman kuliahnya. Walau seiring berjalannya waktu gadis tersebut mampu menerima kenyataan ditinggalkan orang yang ia cintai.
Dalam perjuangan mencari pengobatan pun Delima mendapat rintangan dari  kakaknya ketika ia pergi ke seorang dukun atau “orang-pintar” demi kesembuhannya. Hal itu memicu perbedaan faham dengan kakaknya yang taat dalam menjalankan syariat agama Islam.
Dalam kegelisahan dan keputusasaan, Delima akhirnya lebih banyak mengurung diri. Namun ia seperti mendapat tempat untuk menyalurkan hobinya dalam menulis. Di saat-saat kesendiriannya tersebut dia banyak menulis berbagai tulisan dan mengirimkannya ke berbagai media yang memuat  karya-karya tulisannya
Hingga dia bertemu seseorang yang kembali menumbuhkan benih-benih cinta, Ziyad Amru. Seorang fotografer dari Ibu Kota. Tetapi ternyata perjalanan cinta Delima kembali tidak berjalan mulus. Dalam ketidakberdayaan cinta mereka tidak mampu terungkapkan secara lisan dan sempat terjadi konflik yang memisahkan keduanya. Hingga di saat keduanya mengetahui bahwa di antara mereka saling menyintai. Ziyad harus berpulang menghadap Yang Maha Kuasa akibat sebuah kecelakaan.
Akankah Delima menemukan kembali senyumnya yang hilang? Akankah tabir kehidupan yang selalu berselimut kabut penderitaan segera tersingkap? Akankah Delima kembali dapat merajut senyum dalam setiap riak dan gelombang kehidupannya? Membaca novel ke-dua karya Aliya Nurlela ini benar-benar menguras emosi dan mengaduk perasaan setiap yang membaca.
Novel dengan disain kover yang menarik ini pantas dan layak diapresiasi setelah kesuksesan novel yang pertama “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh (LCBKG)”. Buku ini kembali mampu membuka pikiran dan mata hati para pembaca setia dari karya-karyanya akan setiap peristiwa hidup dan kehidupan. Sekalipun ini bukan kisah nyata, namun karena penyakit Bell’s Palsy yang pernah menyerang penulis asal kota Galuh, Ciamis ini mampu menghadirkan setiap plot dan alur di dalamnya benar-benar hidup dan mengajak pembaca larut ke setiap lembar kisahnya.
Sebuah perenungan yang dalam atas musibah (penyakit) yang ditimpakan oleh Allah SWT. Rangkaian kisahnya berhasil membuka mata dan pikiran penikmat karya sastra. Buku ini mengajak kita untuk selalu bermuhasabah dalam setiap ujian-Nya. Di balik musibah tentu ada hikmah. []


Cianjur, 2 November  2015


Sabtu, 30 Januari 2016

[RESENSI] NOVEL LCBKG, METAMORFOSA SEORANG GADIS DESA


METAMORFOSA SEORANG GADIS DESA
Oleh: Dedi Saeful Anwar

Judul                            : Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh (LCBKG)
Kategori                       : Novel
Penulis                         : Aliya Nurlela
Penerbit                       : FAM Publishing
ISBN                           : 978-602-7956-53-7
Tahun Terbit               : Cetakan Pertama, Maret 2014
Tebal                           : 505 halaman; 13x21 cm


Sebuah novel merupakan suatu bentuk karya sastra yang menjadi salah satu buruan, baik itu oleh para penikmat sastra maupun pencinta buku. Tidak sedikit novel terbitan dari dalam maupun dari luar negeri yang mampu menciptakan fanatisme penggemarnya. Bahkan mampu memengaruhi serta mewarnai kehidupan di lingkungan atau masyarakat luas.
Sebut saja novel dari luar negeri, seperti novel “Harry Potter”, karya JK. Rowling. Atau novel dari dalam negeri yang tak kalah membuat ramai dunia sastra seperti “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata. Kedua novel tersebut hanya sedikit contoh dari sekian banyak karya sastra yang memiliki karakter kuat dan  sangat digilai oleh para penggemarnya. Hingga keduanya kemudian diangkat menjadi film layar lebar yang meraup kesuksesan dan keuntungan yang luar biasa.
Maka tak heran, kini banyak penulis karya sastra yang berusaha terus menghadirkan suguhan berupa karya menarik dan tentu saja menginspirasi banyak orang.
Demikian pula dengan buku ini. Novel “Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh”, yang selanjutkan disingkat “LCBKG”. Novel yang kental sekali dengan latar belakang salah satu kota di Tatar Parahyangan, Ciamis. Ini merupakan sebuah novel yang mampu menghadirkan sesuatu yang menarik untuk disimak oleh para pembacanya. Sebuah novel yang patut mendapat apresiasi dari semua kalangan pencinta buku, khususnya penikmat karya sastra yang apik.
***
Tersebutlah Amila. Seorang gadis belia yang memiliki sifat-sifat lemah. Rapuh, cengeng, penakut, dan minder bahkan cenderung manja. Sebuah gambaran umum yang menjadi ciri seorang wanita. Namun perjalanan hidup yang tidak singkat telah mengubah berbagai karakter/sifat yang berindikasi lemah dan tak berdaya itu menjadi sebuah karakter kuat serta penuh pecaya diri.
Bagi seorang gadis desa perjalan hidup tak ubahnya ibarat sebuah kepompong. Hidup yang penuh liku dan tantangan menjadikan Amila---seorang gadis desa yang sangat lugu--- berubah menjadikan sesosok wanita yang taat beragama dan penuh prestasi serta mengagumkan banyak orang.
Terlahir dari keluarga pendidik, Amila kecil bisa dikatakan sangat beruntung di banding dengan anak-anak seusianya kala itu. Walau hidup di sebuah pedalaman kampung Cilimus, Desa Indragiri, Ciamis, namun dia tidak kekurangan sumber bacaan yang dijadikannya sebagai teman sehari-hari.
Pertemanannya dengan berbagai buku dan sumber bacaan, membuat gadis berambut panjang tersebut memiliki hobi menulis. Segala apa yang dirasakan dan dipikirkannya akan dia tulis dalam buku hariannya. Dia mulai menyukai tempat-tempat yang mendatangkan inpirasinya. Dialah alam yang berada di sekeliling kampung di mana ia tinggal.
Ia menjadikan air, udara, pepohonan dan lingkungan sekitarnya sebagai teman setianya di kala bermain. Suasana desa yang damai menjadi tempat untuk mencurahkan segala apa yang ada dalam pikirannya.
Masa kecil hingga masa remajanya menjadikan Amila sebagai sosok perempuan yang selalu bersyukur. Hingga dia memutuskan untuk berhijab ketika bersekolah di sebuah SMA. Masa di mana para gadis ingin menunjukkan jadi dirinya, sedangkan Amila justru malah meninggalkan masa yang menyenangkan itu. Dia tumbuh menjadi gadis yang berhijab. Hingga perubahan demi perubahan dalam hidupnya terus berlanjut.
Lika-liku perjalanan hidupnya yang penuh kejutan dan tak bisa diduga, semenjak ia masuk sekolah di usia yang belum genap berusia lima tahun hingga menyelesaikan studinya di bangku kuliah, hingga petualangannya mengejar karir dalam berkesenian, dan penculikan serta penyekapan oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan situasi, telah menjadikan Amila sebagai seorang gadis yang berubah drastis dan realistis dalam menyikapi hidup.
Dia yakin bahwa Allah SWT sudah menyiapkan skenario terbaik bagi jalan hidup hamba-Nya. Karakter kuat ini terlihat nyata saat dia mendapat perlakuan keji dari seorang pemuda kampung yang memiliki dendam setelah cintanya ditolak Amila. Gadis penurut itu tak mau menceritakan penderitaannya kepada siapapun termasuk orang tuanya sendiri. Hingga sebuah doanya membuat pemuda itu berubah pikiran 180 derajat dengan meminta maaf atas perlakuannya yang jahat kepada Amila.
Kemudian sikap berserah diri Amila pada Sang Mahapengatur, manakala ia harus memilih pendamping hidup bersama pemuda yang sebelumnya tidak dia kenal ataupun ia cintai.
***
Novel yang berhasil mengaduk-aduk perasaan pembacanya ini, mengisahkan berbagai sisi kehidupan seorang wanita. Seorang yang mencari kehormatan sebagai seorang wanita seutuhnya. Dibalut dengan setting tatar Sunda  yang kental, Sang penulis---Aliya Nurlela, berhasil menyuguhkan karya sastra yang santun dan apik. Melalui deskripsi yang manis dan lugas, hal ini semakin menguatkan pencitraan dan karakter yang kuat dalam buku ini.
Sebuah buku yang patut mendapat apresiasi dari kalangan pencinta sastra di negeri ini. Buku yang sarat pesan moral ini, sangat inspiratif dan tentu saja cocok untuk dibaca semua kalangan, terutama para pelajar, guru, dan khalayak umum lainnya. Setiap buku tentu memiliki ciri khas tersendiri. Mulai dari latar belakang penulisnya, selama proses kreatif hingga berujung pada lahirnya karya itu sendiri. Termasuk karya tulis sastra yang berjenis novel ini.
Lukisan Cahaya di Batas Kota Galuh adalah satu di antara buku yang memiliki kekhasan tersendiri itu. Sangat recomended untuk pencinta sastra! []

Cianjur, 13 Oktober  2015